Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Dua Peluang Kecil dan Sebuah Keberanian Baru
Ada dua program dari dua universitas yang kudaftarkan. Setelah mengirimkan berkas, hidupku masuk ke fase yang berbeda, menunggu, tapi tidak diam. Semua tahapan seleksi yang bisa kujalani, kulalui satu per satu. Tidak sempurna, tidak selalu yakin, tapi aku tetap maju.
Malam-malamku berubah.
Aku belajar di tengah malam, saat anakku sudah tertidur lelap. Dalam sunyi itu, aku mencoba mengumpulkan kembali potongan-potongan diriku yang pernah hilang. Buku di depan, pikiran yang kadang tidak fokus, dan hati yang sering kali dipenuhi keraguan. Aku belajar semampuku, sebisaku. Tidak ada standar tinggi, yang penting aku tidak berhenti.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang terus mengganjal.
Aku takut.
Bukan takut gagal, tapi takut jika langkah ini salah. Takut jika keinginanku untuk melanjutkan pendidikan justru menjadikanku ibu yang egois. Kalimat-kalimat yang pernah kudengar terus terulang.
“Kalau sudah punya anak, fokus saja ke anak.”
“Nanti anaknya tidak terurus.”
Kalimat itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tinggal di kepalaku, bercampur dengan luka lama yang sampai hari ini belum benar-benar menutup.
Pengalaman ketika aku pernah berada dalam lingkaran radikalisme yang keras itu tidak selesai begitu saja ketika aku keluar darinya. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih dalam, cara pandang yang sempat rusak, rasa bersalah yang tidak selalu masuk akal, dan kebiasaan untuk meragukan diriku sendiri.
Lukanya tidak hilang.
Ia masih ada.
Masih terasa.
Masih menganga sampai detik ini.
Ada bagian dari diriku yang masih mudah goyah. Masih ada suara dalam kepala yang mempertanyakan setiap langkahku. Seolah-olah aku tidak pernah benar-benar berhak untuk melangkah terlalu jauh.
Jadi ketika aku berusaha maju seperti ini, sebenarnya aku tidak sedang dalam kondisi “baik-baik saja”. Aku berjalan sambil membawa luka itu. Luka yang tidak selalu terlihat, tapi nyata. Luka yang kadang diam, kadang tiba-tiba terasa sangat dekat.
Masa menunggu pengumuman menjadi fase yang berat. Aku sering merasa cemas tanpa alasan yang jelas. Ada malam-malam ketika aku menangis diam-diam. Bukan karena satu hal tertentu, tapi karena semuanya terasa bercampur, lelah, takut, berharap, dan ragu dalam waktu yang sama.
Karena pada kenyataannya, dua kesempatan ini adalah satu-satunya yang benar-benar bisa kucoba saat itu.
Di tengah semua itu, suamiku berdiri di sisiku.
Ia tidak banyak bicara, tapi cukup untuk membuatku tetap bertahan. Ia bilang agar aku tidak terlalu risau. Ia meyakinkanku bahwa ke depan, ia akan membantu, mengurus anak, membantu urusan rumah. Ia tidak melihat langkahku sebagai keegoisan, tapi sebagai usaha.
Dan mungkin, itu yang membuatku tetap melangkah.
Aku maju sambil gemetar. Tidak dengan keyakinan penuh, tapi dengan keberanian yang seadanya. Kadang aku harus berhenti sebentar untuk menenangkan diri. Kadang aku harus menyeka air mata sebelum melanjutkan lagi.
Hingga akhirnya, hari pengumuman itu datang.
Dua program itu mengirimkan hasilnya hampir bersamaan.
Saat itu, aku sedang di dapur. Aku masih ingat jelas, aku sedang merebus telur. Hari itu terasa biasa saja. Tidak ada firasat apa pun.
Aku membuka pengumuman itu perlahan.
Salah satu program menyatakan aku lolos ke tahap final.
Dan yang satu lagi… menyatakan aku diterima sebagai awardee.
Aku diam.
Sejenak, semuanya terasa kosong. Seolah aku tidak langsung memahami apa yang sedang terjadi.
Lalu perlahan, semuanya masuk.
Tanganku gemetar. Napasku berubah. Dan tanpa bisa kutahan, aku menangis.
Bukan hanya karena bahagia. Tapi karena ada begitu banyak hal yang bertemu di titik itu, luka, perjuangan, keraguan, dan harapan yang selama ini kutahan.
Aku masih berdiri di dapur, di depan kompor yang masih menyala. Anakku melihatku dengan wajah bingung, tidak mengerti mengapa ibunya menangis seperti itu.
Di tengah keadaan itu, aku mengambil ponsel dan menelepon ayahku.
Dengan suara yang bergetar, aku berkata,
“Yah… lolos, Yah.”
Kalimat sederhana, tapi di dalamnya ada perjalanan yang panjang.
Dan di titik itu, aku menyadari satu hal yang jujur, Luka itu masih ada. Masih terbuka. Masih ikut berjalan bersamaku. Tapi ternyata, meskipun luka itu belum menutup, aku tetap bisa melangkah.
Tidak sempurna.
Tidak tanpa rasa sakit.
Tidak tanpa takut.
Tapi tetap melangkah.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar