Baca kisah sebelumnya: Merah dan Hijau: Kisah Retaknya Persaudaraan di Penjara Teroris
Di tempat yang tiap ujung sisinya ada pos penjagaan dengan personil bersenjata, dengan udara kota Cikeas yang gersang di siang hari dan dingin sampai ke tulang di malam hari, ditambah penjaga-penjaga berbadan besar tegap dan serba hitam, rasanya sulit untuk mencari secercah memori baik dari tempat dan lingkungan seperti ini. Tapi siapa sangka, di tempat-tempat paling dihindari manusia sekalipun terkadang ada saja warna-warni kehidupan yang ternyata manis untuk dikenang dan dibicarakan ulang.
Ternyata, kisah dan karakter seperti di film-film yang menceritakan tentang penjara itu benar adanya. Ada saja orang-orang yang berbeda dari biasanya. Salah satunya adalah seorang anggota Brimob yang waku itu kebetulan menjaga blok A, blok yang pernah saya tempati. Seorang Bharada dengan perawakan dan gaya bicara khas orang Timur Indonesia.
Pertemuan awal dimulai ketika dia sedang berkeliling untuk mengecek para tahanan dan akhirnya sampai di ruang sel saya, yang sebelumnya kosong dan kini sudah terisi orang baru. Di menyapa dengan pertanyaan standar seputar nama, asal, umur, dan alasan kenapa bisa berada di tempat ini, dengan umur yang masih sangat muda.
Dari perkenalan itu juga saya digelari “Si Bungsu” karena saat itu merupakan orang paling baru yang masuk ke tempat tersebut. Walaupun dari sisi umur saya dan dia, juga beberapa tahanan remaja lainnya tidak memiliki rentang umur yang cukup jauh.
Dari cerita yang saya dapat dari rekan-rekan lain, beliau ini ternyata memang merupakan penjaga yang paling ramah dan sering interaksi dengan tahanan lain. Walaupun gaya bicaranya selalu menggunakan nada dan suara yang tinggi – dan terkadang diawali dengan menendang dinding besi atau pintu kamar kami tanpa alasan, tapi kami tahu bahwa dia sedang bercanda dengan kami, jadi tidak ada perasaan tersinggung maupun terancam sama sekali.
Dengan nama khas dan logatnya yang kental, beliau sendiri mengaku bahwa dia berasal dari suatu kota di pulau Sulawesi, setidaknya itulah yang kami ketahui tentangnya. Tak ada informasi lebih detail karena di tempat seperti ini segala hal bisa menjadi risiko, terutama menyangkut identitas diri. Masing-masing kami tentu sudah maklum dengan hal demikian.
Sering ketika selesai melakukan apel blok, beliau biasanya mampir untuk ngobrol agak lama dengan tahanan-tahanan yang seperti sudah akrab dengannya. Mulai dari para petinggi Jamaah, sampai dengan orang yang berasa dari satu pulau dengannya.
Dengan posisinya di luar kamar sedangkan tahanan berada di dalam kamar yang gelap, terdengar dari kejauhan gelak tawa mereka, menandakan tidak adanya batasan kaku yang membedakan kami. Orang-orang sebangsa, orang-orang dengan kebiasaan dan latar belakang yang tak jauh beda, orang-orang yang selalu ada bahan candaan universal yang bisa dibawa ke seluruh Indonesia.
Kadang, orang-orang seperti beliau ini bagai oase di tengah gurun yang menjadi penyejuk di tengah keadaan yang serba sempit dan menekan psikologis. Terkadang hiburan dan rasa kehangatan bisa muncul dari mereka yang tidak pernah kita duga sebelumnya, kali ini muncul dari orang-orang yang dianggap musuh dan wajib dibunuh, namun malah memberikan makna yang dalam soal persaudaraan dan rasa kemanusiaan.
Bersyukur rasanya bisa mengenal dan bertemu mereka-mereka yang dalam menjalankan tugasnya masih menjadi manusia seutuhnya, tidak sekadar robot yang diperintah. Entah di mana beliau sekarang, yang pasti doa dan harapan terbaik selalu tertuju kepada mereka yang menjadi penghibur di tengah musibah dan menjadi bagian yang baik dalam cerita yang kelam.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar