Merah dan Hijau: Kisah Retaknya Persaudaraan di Penjara Teroris

Tokoh

by Ilham Alfarizi Editor by Arif Budi Setyawan

Hari itu, aku masuk ke sebuah dunia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Tangan terikat borgol, mata tertutup kain hitam, dan suara pintu besi berderit membuatku merasa begitu kecil. Di balik gelap itu, suara-suara lantang menyambut dengan takbir dan salam. Seakan aku dipeluk sebagai saudara, tapi hatiku justru semakin sunyi: apakah ini sambutan hangat, atau awal dari kesepian yang lebih panjang?

Awal yang Hangat

Hari-hari awal dijalani dengan perkenalan sederhana: nama, asal, kasus, sampai status pernikahan. Obrolan ringan tentang menu makanan penjara juga jadi hiburan sehari-hari. Semua terlihat sama. Ruangan 3x3 meter, makanan yang itu-itu juga, bahkan buku bacaan yang digilir setiap beberapa minggu.

Namun, kesamaan itu hanya permukaan. Ada jurang yang tak terlihat, tapi nyata: cara pandang tentang negara, hukum, dan dasar bernegara. Dari sinilah aku pertama kali mengenal istilah “Merah” dan “Hijau.”

Merah dan Hijau

Merah adalah mereka yang masih keras kepala menolak Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi mereka, NKRI adalah negara kafir karena tidak berhukum Islam. Hijau, sebaliknya, adalah mereka yang mulai berubah: belajar berdamai dengan diri sendiri, dengan negara, dan dengan kenyataan bahwa mencintai tanah air bukanlah bentuk kekufuran.

Sekilas, perbedaan itu tak kentara. Kami jarang bertatap muka, kecuali saat dijemur di bawah matahari. Tapi ketika obrolan masuk ke ranah politik atau dasar negara, batas itu semakin jelas.

Mereka yang masih menganggap Indonesia kafir akan langsung dilabeli merah. Sementara yang mencoba melihat lebih luas, berpikir ulang, atau sekadar enggan mengkafirkan negara begitu saja, disebut hijau.

Dari Saudara Jadi Lawan

Diskusi-diskusi seperti ini seringkali membuat suasana blok memanas. Orang-orang yang tadinya akrab bisa berubah dingin. Ada yang tiba-tiba mengurangi obrolan hanya karena mengetahui tetangga kamarnya berbeda pandangan soal NKRI.

Bagi kelompok merah, mengakui kedaulatan Indonesia adalah bentuk kekafiran. Itu berarti murtad—keluar dari Islam. Dan jika seseorang dianggap murtad, ia bukan lagi saudara, bahkan sekadar menjawab salamnya pun dianggap dosa.

Aku pernah berada di tengah-tengah situasi itu. Di satu sisi, semangat merah mengingatkanku pada masa lalu, pada keyakinan yang dulu pernah kubela. Tapi di sisi lain, hijau menghadirkan ketenangan: iman yang tak harus berteriak, keyakinan yang tak harus melabeli orang lain sebagai musuh.

Blok B: Api yang Tak Pernah Padam

Blok B dikenal sebagai tempat bagi mereka yang merah. Suasananya jauh lebih panas, penuh kecurigaan, dan sering kali berujung pada permusuhan terbuka. Perbedaan fiqih—yang seharusnya bisa dibicarakan dengan lapang—dipersempit menjadi persoalan aqidah.

Akibatnya, mereka yang seharusnya saling menguatkan justru sibuk melemahkan. Bukan hanya kehilangan kebebasan karena jeruji besi, tapi juga kehilangan kebebasan berpikir.

Antara Musuh dan Saudara

Aku menyadari satu hal: batas merah dan hijau tidak sekadar soal ideologi, tapi soal keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri. Yang merah masih sibuk mencari musuh di luar, sementara yang hijau mulai mengikis kebencian dan menata ulang keyakinan.

Di balik jeruji, kami semua sama-sama kehilangan kebebasan. Tapi sebagian kehilangan lebih dalam lagi—kebebasan untuk berpikir,” begitu aku membatin.

Dan mungkin, di situlah bedanya. Merah hidup dalam perang yang tak pernah selesai. Hijau mencoba pulang—meski pelan, meski penuh ragu—ke arah kehidupan yang lebih tenang.



*Ilham Alfarizi adalah mantan napiter yang ingin berbagi pengalamannya untuk membantu masyarakat agar lebih memahami persoalan radikalisme-terorisme



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar