Selalu Ada Alasan untuk Tetap Bersyukur

Other

by Eka Setiawan

Pelajaran hidup bisa datang dari siapa saja.


Termasuk ketika saya bertemu Sofiah,53dan Suwarto,83, pasangan suami istri yang tinggal di rumah sangat sederhana.


Lokasinya diJalan Ngesrep Barat Dalam IV RT07/RW08, Kelurahan Srondol Kulon,Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, pada Sabtu (9/2/2019) kemarin.


Sebuah tempat yang terbilangterpencil, tersembunyi di antara riuh Jalan Setiabudi Semarang (Jalan RayaSemarang – Solo/Jogja), tak sampai 10 menit kalau sudah melintas di KawasanGombel Semarang ke arah selatan kemudian turun ke barat.


Pasutri itu tetap bersemangatmenjalani hidup yang tak mudah. Sofiah tetap mau bekerja banting tulang, kadangtak mengenal libur, sekaligus mengurus suaminya yang lumpuh.  


Sofiah bercerita, suaminya itu sejak2 tahun lalu menderita lumpuh total.


Kelumpuhan suaminya datangtiba-tiba. Sofiah mengenang, ketika itu sore hari, suaminya sedang membetulkangenteng rumah mereka yang kerap bocor ketika hari hujan.


“Suami ngomong kalau pinggangnyatiba-tiba merasa sakit,” kata Sofiah membuka cerita.


Dipikirnya itu hanya sakit biasa.Ternyata, tak lama setelah itu, kedua kaki Suwarto tak bisa digerakkan. Sebabterkendala biaya, pengobatan dilakukan seadanya. Tapi, rupa-rupanya tak ada perubahan berarti. Kesembuhan takkunjung datang.


“Suami saya lumpuh sampaisekarang,” lanjutnya.


Saat itu, awalnya Sofiah berceritahanya bisa menangis. Suaminya tergelatak di ranjang kayu. Setiap harinya, Sofiahyang mengurus kebutuhan sang suami.


Setelah lumpuh, praktisperekonomian keluarga menjadi ditopang Sofiah. Dia bekerja jadi pembantu rumahtangga di dua tempat. Total penghasilannya Rp1,2juta per bulan. Itu hampirtidak pernah libur. Kalaupun libur, risikonya potong gaji.   


Hari demi hari, terus dijalani.Sekali lagi, suaminya hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang kayu. Urusansehari-hari Sofiah yang melayani.


Ini membuatnya sangat sibuk.Bahkan, untuk sekadar melepas penat menyandarkan diri di kursi kayu untukmenonton televisi pemberian, tak sempat.


“Pas waktu mau nonton TV, suami manggil-manggil saya. Saya tanya apa TVmau dipindah, tapi tetap tidak bisa kan, soalnya tidak ada tempatnya,” lanjutSofiah bercerita.


Sofiah sempat putus asa menerimasegala kenyatan itu. Tetapi, suaminya justru yang terus menguatkan. Meskipuntinggal di rumah sederhana, perabot seadanya, harus tetap banting tulang untukbertahan hidup.


Untuk urusan mandi cuci kakus(MCK), mereka mengandalkan air dari sendang, yang lokasinya di depan rumah, dibawah rimbunnya sebuah pohon Jeruk Bali. Kamar mandi dibuat seadanya, hanyamenggunakan seng sebagai penutup, tanpa atap.


Air sendang itu pula yangdigunakan mereka untuk keperluan masak dan minum. Sementara atap rumah bocor dimana-mana. Apalagi di musim penghujan seperti sekarang ini.  


“Katanya (suami), kita harus tetapbersyukur. Masih banyak yang lebih susah dari awake dewe (kita),” kali ini Sofiah meneteskan air mata.


Dalam ujian hidup, meski adaseribu alasan untuk menangis, namun selalu ada berjuta alasan untuk tetapbersyukur. Sesusah apapun ujian yang menerpa, semangat harus tetap ada untukmenjalaninya.

Komentar

Tulis Komentar