Dari Sel Penjara ke Ruang Sidang Doktor: Jalan Sunyi Abu Fida Menemukan Kebenaran

Interview

by Redaksi Editor by Redaksi

Tidak semua wisuda lahir dari perjalanan yang lurus dan mulus. Sebagian justru tumbuh dari lorong gelap penjara, dari malam-malam panjang penuh perenungan, dan dari keberanian untuk mengakui bahwa keyakinan lama pernah membawa pada kesalahan besar. Kisah Muhammad Saifuddin Umar—atau yang lebih dikenal sebagai Abu Fida—adalah salah satunya. Wisuda doktoralnya bukan sekadar perayaan akademik, melainkan penanda sebuah perjalanan batin: dari ekstremisme menuju ilmu, dari pembenaran kekerasan menuju pencarian kebenaran secara ilmiah.

Sore itu (6/2/2026), Ruangobrol berkesempatan melakukan wawancara santai dengan ustaz M. Saifuddin Umar atau yang biasa dipanggil Abu Fida. Beliau mengundang Ruangobrol untuk meliput kegiatan wisuda dirinya di UIN Sunan Ampel Surabaya pada tanggal 7 Februari pagi. Kami sengaja datang satu hari sebelumnya agar dapat melakukan wawancara.

Kisah suksesnya menempuh pendidikan S2 yang kemudian dilanjutkan ke S3 setelah bebas dari penjara layak untuk disampaikan ke publik. Kisah itu tidak hanya akan menjadi inspirasi, tetapi juga menjadi sebuah pembuktian proses transformasi pemikiran seorang mantan narapidana terorisme (napiter) melalui jalur pendidikan.

Dalam kesempatan itu, Ruangobrol menanyakan hal-hal yang melatarbelakangi keputusannya melanjutkan kuliah lagi setelah bebas dari penjara, tantangan dan kendala selama menjalani kuliah, seputar judul tesis dan disertasi, serta harapan dan rencana ke depan. Ditemani sepiring rempeyek dan kopi susu, beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan sangat artikulatif.

Refleksi di Penjara: Ingin Mengetahui Kesalahan Secara Ilmiah

Sebagaimana kebanyakan napiter, penjara menjadi tempat terbaik untuk merenungi kesalahan dan mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan itu. Bagi Abu Fida, perenungan di penjara membawanya pada sebuah pertanyaan besar: di mana awal kesalahannya yang selama ini ia yakini sudah benar karena berasal dari ilmu yang ia pelajari? Apakah sumber ilmunya yang salah, ataukah penafsiran dan metodologinya yang keliru?

Pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya ketika, setelah bebas, Abu Fida membaca makalah-makalah berbahasa Arab yang membahas kesalahan jihadis dalam memahami pemikiran Ibnu Taimiyah. Dari situ, ia mendapati bahwa sepanjang pengalamannya menjadi jihadis lintas kelompok—dari jihad Afghanistan hingga ISIS—pemikiran atau ajaran Ibnu Taimiyah memang paling sering dijadikan rujukan ideologis bagi kelompok-kelompok yang ia ikuti. Oleh karena itu, ketika ada kajian yang meninjau kesalahan dalam memahami pemikiran Ibnu Taimiyah, ia sangat tertarik untuk mempelajarinya.

Setelah kurang lebih satu setengah tahun mengkaji makalah-makalah tersebut, Abu Fida sampai pada kesimpulan bahwa di Indonesia belum ada, atau masih sangat sedikit, tulisan ilmiah yang membahas hal serupa. Dari situlah kemudian muncul keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 agar dapat menghasilkan karya ilmiah yang meluruskan kesalahpahaman para jihadis terhadap pemikiran Ibnu Taimiyah.

Abu Fida setelah acara yudisium program pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya.[Dok. Pribadi]

Kuliah Modal Nekat: Sempat Ragu Bisa Menyelesaikan S2

“Awalnya saya memutuskan kuliah S2 itu modal nekat saja. Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil pasca-bebas, saya nekat memutuskan kuliah. Berbekal keyakinan bahwa jika saya mengejar ilmu untuk kemaslahatan umat, maka dunia itu akan mengikuti saya.”

Kata-kata itu menjadi pembuka cerita tentang tantangan yang dihadapi ketika mulai kuliah lagi di usia yang tidak lagi muda, terlebih dengan status sebagai mantan napiter—yang bagi sebagian masyarakat dianggap menakutkan.

Awalnya hanya sebagian dosen yang mengetahui bahwa dirinya adalah mantan napiter. Namun, seiring berjalannya waktu, mayoritas dosen akhirnya mengetahui hal tersebut. Respons yang diterimanya pun positif dan mendukung upayanya dalam membuktikan transformasi pemikiran.

“Bagi saya, kuliah S2 itu selain meningkatkan ilmu sebagai modal berkarya bagi umat, juga menjadi bukti bahwa pemikiran saya telah berubah dari radikal-ekstrem menjadi moderat. Menurut saya, bukti terbaik perubahan pemikiran adalah dengan kuliah lagi,” ujar Abu Fida sambil memperbaiki posisi duduknya.

Soal biaya, ia mengaku sempat mengalami kesulitan di awal. Namun, seiring berjalannya waktu, selalu ada jalan keluar dari Allah SWT ketika dirinya menghadapi kendala biaya kuliah. Ia sangat bersyukur karena akhirnya kuliahnya dapat diselesaikan pada akhir 2021, ketika wabah Covid-19 masih melanda negeri.

Selain persoalan biaya, ada tantangan lain yang berasal dari dalam dirinya. Abu Fida mengaku sempat meragukan kemampuan akademiknya karena jarak yang sangat jauh dari pengalaman kuliah terakhir. Ia menyelesaikan S1 di Universitas Ummul Qura, Makkah, pada pertengahan 1990-an, dan baru mendaftar kuliah S2 Program Studi Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada pertengahan 2019. Jaraknya lebih dari 20 tahun.

“Jadi, kuliah S2 itu juga menjadi uji coba kemampuan akademik saya. Jika dapat menyelesaikannya dengan memuaskan, insyaallah saya akan lanjut ke S3 (doktoral),” kata Abu Fida mantap.

Judul tesis S2-nya adalah Pendidikan Toleransi Ibnu Taimiyah yang berfokus pada kajian literatur. Dalam tesis tersebut, pria yang pernah menyembunyikan Doktor Azhari dan Noordin M. Top ini menyajikan banyak fakta yang jarang terekspos dalam literatur karya-karya Ibnu Taimiyah, terutama terkait isu toleransi yang tidak pernah dikutip oleh para jihadis.

Lulus tepat waktu—dua tahun—dengan predikat cum laude membuat Abu Fida mantap melanjutkan ke jenjang S3. Menurutnya, pada tahap S2 ia baru mengkaji teori-teori dan belum sepenuhnya mencapai tujuan awal, yaitu menghasilkan karya ilmiah yang meluruskan kesalahpahaman para jihadis terhadap pemikiran Ibnu Taimiyah. Karena itu, ia mendaftar program S3 (doktoral) UIN Sunan Ampel Surabaya pada Program Studi Studi Islam pada tahun 2022.

Abu Fida berfoto sebelum acara wisuda Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya, akhir 2021.[Dok. Pribadi]

Semangat Yang Tak Boleh Kendor Demi Meraih Impian Menjadi Doktor

Pada awal kuliah S3, tantangan pertama adalah besarnya biaya kuliah yang jauh berbeda dibandingkan program S2. Oleh karena itu, Abu Fida sempat mencari peluang beasiswa. Salah satu skema beasiswa mensyaratkan penerimanya harus berstatus dosen di perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri. Ia pun mencoba melamar menjadi dosen ke beberapa perguruan tinggi swasta.

Di sinilah ujian stigma sebagai mantan napiter kembali terasa—sesuatu yang tidak ia alami ketika menempuh pendidikan S2. Sebagian perguruan tinggi menolak secara halus dengan alasan statusnya sebagai mantan teroris, meskipun secara akademik Abu Fida memenuhi syarat.

Pengalaman tersebut mendorongnya mencari jalan lain untuk pembiayaan kuliah. Sama seperti saat menempuh S2, ia bersyukur karena selalu ada jalan keluar dari Allah SWT ketika menghadapi kesulitan biaya.

Di bidang akademik, tantangan terberat adalah menyesuaikan gagasan idealismenya dengan berbagai pilihan teori yang ada, serta tuntutan untuk menghadirkan kebaruan atas teori-teori tersebut. Ketika melakukan riset, ia juga menghadapi keterbatasan waktu dan biaya sehingga belum sepenuhnya puas dengan jumlah sampel narasumber. Pada akhirnya, ia hanya sempat mewawancarai lima narasumber yang secara kualitatif telah merepresentasikan seluruh kelompok jihadis di Indonesia.

Hal menarik terjadi ketika penelitiannya dinilai telah cukup oleh pembimbing dan promotornya. Kaprodi justru memintanya untuk cuti selama dua semester karena jika langsung dilanjutkan, perkuliahan akan selesai kurang dari enam semester. Padahal, berdasarkan peraturan Kemenristek Dikti, program doktoral harus ditempuh minimal enam semester.

Akhirnya, pada Rabu (10/12/2025), Abu Fida berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka UIN Sunan Ampel Surabaya. Muhammad Saifudin Umar (Abu Fida) diuji oleh para penguji, antara lain Masdar Hilmy (Ketua Penguji), Agus Aditomi (Promotor/Penguji), Syamsul Arifin (Penguji Eksternal), serta Muhammad Salik dan Mukhammad Zamzami (Penguji Internal).

Selama sekitar dua jam ujian terbuka berlangsung, Abu Fida --yang pada 2026 ini genap berusia 60 tahun-- menyajikan dan mempertahankan disertasi berjudul "Hermeneutika Jihad Ibnu Taimiyah dan Radikalisme: Studi atas Pemaknaan Teroris terhadap Pemikiran Jihad".

Dalam disertasinya, Abu Fida mengupas ketokohan Ibnu Taimiyah yang kerap dijadikan inspirator aksi terorisme, sekaligus menunjukkan terjadinya bias pemahaman yang sangat fatal di kalangan pelaku aksi. Penafsiran tunggal tersebut diyakini sebagai kebenaran, sehingga aksi kekerasan dianggap sebagai jalan yang sah.

Padahal, menurutnya, Ibnu Taimiyah membedakan secara tegas antara jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad bi al-qalam (jihad dengan lisan dan pena), dan jihad bi al-sayf (jihad dengan pedang).

“Yang terakhir inilah, jihad fisik, yang paling sering disalahpahami. Padahal, Ibnu Taimiyah memberikan batasan-batasan yang sangat ketat dalam pelaksanaannya,” jelas Abu Fida.

Tim penguji memberikan apresiasi dan pujian atas capaian akademik Abu Fida sebagai seorang doktor. Secara keseluruhan, ia menempuh program doktoral selama tujuh semester dengan predikat cum laude. Tim penguji juga berharap agar Abu Fida terus berkarya, menulis, dan mengoptimalkan ilmunya dalam peran pengabdian kepada masyarakat yang sangat membutuhkan pencerahan.

Abu Fida ketika menjalani ujian terbuka program doktor Pascasarjana UIN Sunan Ampel, Rabu (10/12/2025).[Dok. Pribadi]

Harapan dan Rencana ke Depan

Terakhir, Ruangobrol menanyakan rencana Abu Fida setelah lulus doktoral sebagai jenjang pendidikan tertinggi.

“Saya ingin mengikuti fellowship di universitas luar negeri, kalau bisa di Eropa atau Timur Tengah. Mengikuti fellowship di luar negeri akan menjadi bukti bahwa keilmuan saya diakui, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional. Untuk menjadi dosen, sepertinya kemungkinannya kecil, jadi saya memilih mendaftar fellowship. Mohon doanya,” jawab Abu Fida mantap.

Selain itu, sambil menunggu panggilan fellowship, Abu Fida berencana menulis buku-buku yang menarik dan mudah dibaca oleh orang-orang yang telah terpapar paham ekstremisme—buku-buku yang dapat mencegah dan mengoreksi pemahaman ekstrem yang merusak.

Abu Fida berpose dengan ijazah doktornya setelah acara wisuda Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.[Dok. Ruangobrol]

***

Kisah Abu Fida mengingatkan kita bahwa transformasi bukanlah proses instan, melainkan perjalanan panjang yang menuntut kejujuran pada diri sendiri, kesediaan belajar ulang, dan keberanian menghadapi stigma. Pendidikan, dalam kisah ini, tidak hanya menjadi tangga sosial atau gelar akademik, tetapi ruang pertobatan intelektual—tempat seseorang berani membongkar keyakinannya sendiri dan menata ulang cara berpikirnya.

Di tengah dunia yang kerap tergesa menghakimi masa lalu, perjalanan Abu Fida memberi pelajaran penting: bahwa manusia selalu memiliki kemungkinan untuk berubah, selama ia diberi ruang, kesempatan, dan kepercayaan untuk bertumbuh.[Redaksi]

Komentar

Tulis Komentar