Saat Pikiran Berhenti Bertanya, Radikalisme Menemukan Rumahnya

Analisa

by Ilham Alfarizi Editor by Arif Budi Setyawan

Adalah fakta bila pendidikan yang rendah memang memiliki peran yang signifikan dalam tersebarnya pemahaman radikalisme dan ekstremisme. Namun, persoalan ini sejatinya bukan semata soal seberapa tinggi jenjang pendidikan formal yang ditempuh seseorang, melainkan sejauh mana individu tersebut memiliki kemampuan berpikir kritis dan logis.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit orang dengan gelar akademik tinggi, bahkan bergelar doktor, yang justru terperangkap dalam lingkaran radikalisme dan terorisme, sering kali berperan sebagai ideolog dalam kelompok tertentu. Doktor Azhari –gembong teroris asal Malaysia bisa menjadi contoh terdekat. Di sisi lain, terdapat pula individu dengan tingkat pendidikan formal yang lebih rendah yang ikut terpapar paham serupa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak memilih korbannya secara sederhana. Ia tidak semata menyasar mereka yang tidak berpendidikan, tetapi mereka yang tidak dibekali kemampuan bernalar secara kritis.

Keyakinan Tetap Membutuhkan Nalar

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa radikalisme tidak berkaitan dengan pendidikan, karena menyangkut persoalan keyakinan. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru. Namun, patut dipertanyakan kembali: bukankah sebelum seseorang meyakini sesuatu, informasi tersebut harus terlebih dahulu melewati ‘filter’ pemikiran di dalam kepalanya?

Di sinilah letak peran penting pendidikan. Pendidikan bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi membentuk cara seseorang memproses informasi. Orang yang terdidik umumnya memiliki filter berpikir yang lebih kuat untuk memilah, menguji, dan mempertanyakan apa yang ia dengar atau lihat. Tentu, setiap orang memiliki filter ini, tetapi kualitas dan ketajamannya tidaklah sama. Pendidikan berperan memperkaya dan mempertajam filter tersebut.

Budaya Ilmiah dan Daya Tahan terhadap Propaganda

Mereka yang mengenyam pendidikan dengan baik biasanya terbiasa dengan budaya ilmiah: mempertanyakan, menguji argumen, membandingkan sudut pandang, serta memahami kompleksitas suatu persoalan. Informasi yang diterima tidak serta-merta ditelan mentah-mentah, melainkan diproses melalui kerangka berpikir yang matang.

Sebaliknya, individu dengan akses pendidikan yang terbatas cenderung lebih rentan menerima informasi secara apa adanya, tanpa ruang kritis yang memadai. Dalam kondisi ini, narasi radikal yang menyederhanakan persoalan kompleks dengan membagi dunia secara hitam-putih menjadi sangat mudah diterima. Pemahaman yang seharusnya membutuhkan kajian mendalam direduksi menjadi slogan, emosi, dan doktrin instan. Di titik inilah radikalisme menemukan jalannya.

Ketimpangan Akses Pendidikan sebagai Celah Radikalisasi

Namun, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang lebih luas. Pendidikan yang baik dan berkualitas masih belum dapat menjangkau semua lapisan masyarakat, khususnya kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah. Ketimpangan akses ini menciptakan kerentanan struktural yang kerap dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal dan teroris.

Kelompok masyarakat dengan keterbatasan akses pendidikan sering kali tidak memiliki kesempatan yang sama untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan logis. Sementara itu, kelompok masyarakat menengah ke atas relatif lebih mudah mengakses pendidikan berkualitas, sehingga memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap propaganda, janji-janji utopis, dan narasi perjuangan semu yang ditawarkan kelompok teror.

Ketika Pendidikan Tinggi Pun Gagal Menjadi Benteng

Menariknya, radikalisme juga menjangkiti individu dengan latar pendidikan tinggi. Dalam banyak kasus, hal ini bukan disebabkan oleh ketiadaan kemampuan berpikir, melainkan oleh kesalahan penafsiran yang dibalut niat baik. Keyakinan moral yang kuat, ketika tidak diimbangi dengan kerendahan hati intelektual dan empati kemanusiaan, dapat berubah menjadi pembenaran atas tindakan kekerasan.

Di titik inilah individu baik yang berpendidikan rendah maupun tinggi akhirnya bertemu pada satu muara yang sama: lingkaran IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme). Dua jalur yang berbeda, tetapi berakhir pada konsekuensi yang serupa.

Pendidikan sebagai Upaya Pencegahan Paling Awal

Pada akhirnya, pendidikan yang membangun nalar kritis, logis, dan empatik adalah benteng paling awal dalam mencegah radikalisme. Ia bekerja jauh sebelum aparat keamanan bertindak. Pendidikan mencegah sebelum menghukum, dan membangun sebelum meruntuhkan. Tanpa pendidikan yang memerdekakan cara berpikir, radikalisme akan terus menemukan ruang untuk tumbuh baik di kalangan yang kurang terdidik, maupun di antara mereka yang memiliki segudang gelar tapi nirempati.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar