Santri dan Tantangan Era Digital: Dari Hoax, Ekstremisme, hingga Kecerdasan Buatan

Analisa

by Arif Budi Setyawan Editor by Redaksi

Ada sesuatu yang hangat ketika kita menyebut kata santri. Ia bukan sekadar status, apalagi hanya seragam putih-hitam atau sarung yang dipakai setiap hari. Santri adalah jiwa—sebuah napas panjang yang menghubungkan generasi ke generasi, dari bilik-bilik pesantren yang sederhana hingga ke denyut nadi bangsa ini.

Setiap tanggal 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri, mengingat kembali ikrar yang pernah didengungkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 1945 melalui Resolusi Jihad. Saat itu, ribuan santri turun ke jalan, menukar kitab dengan bambu runcing, menukar doa malam dengan derap langkah perlawanan demi tanah air. Ada darah, ada air mata, ada doa yang menjelma menjadi sejarah: bahwa kemerdekaan bangsa ini tak bisa dilepaskan dari jiwa santri.

Namun hari ini, ketika zaman bergerak ke era kecerdasan buatan, kita mesti bertanya dengan getir: masihkah jiwa santri itu hidup di tengah derasnya arus digital, industrialisasi, dan keruntuhan moral? Atau jangan-jangan jiwa itu perlahan tergerus, terganti oleh algoritma, popularitas instan, dan kehilangan adab?

Sejarah telah mencatat santri sebagai benteng perjuangan. Tetapi zaman kini menuntut santri menjadi benteng moral, akhlak, dan adab di tengah kebisingan teknologi. Pertanyaannya, apakah kita siap mempertahankan jiwa santri di era yang penuh disrupsi ini?

Santri dan Bayangan Gelap Oknum

Dunia pesantren tempat para santri menimba ilmu sejatinya adalah taman ilmu dan akhlak. Akan tetapi, belakangan ini citra suci itu ternoda oleh ulah segelintir oknum. Berita tentang kekerasan fisik dan kejahatan seksual di lingkungan pesantren kerap menghiasi media massa. Kasus-kasus itu bukan hanya melukai korban, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan publik terhadap lembaga yang mestinya menjadi benteng moral bangsa.

Ironisnya, terkait fenomena kejahatan seksual di pesantren, alih-alih bersikap tegas, pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar baru-baru ini justru menimbulkan polemik. Ia menyebut bahwa kasus kejahatan seksual di pesantren “jangan dibesar-besarkan. Pernyataan itu memang dimaksudkan untuk menjaga nama baik lembaga pesantren yang mayoritas bersih dari praktik tersebut, tetapi di sisi lain, bisa dianggap mengabaikan jeritan para korban.

Era Digital: Tantangan yang Tak Kalah Berat

Jika dulu tantangan santri adalah kolonialisme, maka kini tantangannya adalah kolonialisme digital—penjajahan pikiran dan perilaku melalui arus informasi yang tak terbendung. Beberapa fenomena yang menjadi tantangan santri di dunia digital antara lain:

  1. Penyebaran Paham Ekstremisme
    Internet membuka ruang bagi ideologi ekstrem menyusup ke ruang-ruang pribadi. Paham radikal tak lagi datang lewat majelis sembunyi-sembunyi, tetapi masuk melalui gawai di genggaman. Konten berbalut agama yang memanipulasi ayat suci kerap viral, menggoda santri muda yang haus kebenaran tetapi kurang memiliki literasi digital.

  2. Hilangnya Adab di Media Sosial
    Adab adalah inti pendidikan pesantren: menghormati guru, menjaga lisan, merawat hati. Namun, di media sosial, adab sering runtuh. Kata-kata kasar, hinaan, bahkan fitnah seolah menjadi menu sehari-hari. Banyak orang berilmu yang kehilangan akhlaknya begitu masuk ke ruang digital.

  3. Maraknya Hoax dan Disinformasi
    Santri yang seharusnya menjadi benteng kebenaran kadang
    bisa terjebak dalam arus hoax. Hingga menyebarkan postingan tanpa tabayyun, melupakan prinsip “ats-tsubut qabla an-nakl” (verifikasi sebelum menyampaikan). Padahal, pesantren mengajarkan kehati-hatian dalam meriwayatkan hadis, tetapi di media sosial, prinsip itu kerap dilupakan.

  4. Kekerasan Verbal dan Cyber Bullying
    Dunia maya sering kali lebih kejam daripada dunia nyata. Cyber bullying meninggalkan luka batin yang dalam. Jiwa santri yang mestinya lembut dan penuh kasih, bisa terkontaminasi dengan budaya saling serang, menghujat, bahkan menghakimi tanpa dasar.

Industrialisasi Kehidupan dan Krisis Moral

Selain tantangan digital, santri juga menghadapi arus industrialisasi di segala lini kehidupan. Ukuran kesuksesan kini ditentukan oleh materi, kecepatan, dan popularitas. Sementara itu, nilai-nilai kesederhanaan, kesabaran, dan ketulusan—yang menjadi nafas jiwa santri—perlahan terpinggirkan.

Kita hidup di zaman di mana suara azan bersaing dengan notifikasi ponsel, kitab kuning bersaing dengan algoritma media sosial, dan keheningan zikir bersaing dengan hiruk pikuk konten viral. Apakah santri mampu bertahan di tengah kompetisi ini?

Menjaga Jiwa Santri di Era Kecerdasan Buatan

Pertanyaan besar bagi kita adalah: bagaimana mempertahankan jiwa santri di tengah disrupsi digital dan runtuhnya moralitas? Ada beberapa refleksi penting yang bisa menjadi pegangan:

  1. Kembali pada Akhlak
    Jiwa santri bukan sekadar pintar membaca kitab, tetapi mampu mempraktikkan akhlak dalam kehidupan. Kecerdasan buatan bisa menandingi pengetahuan manusia, tetapi tidak bisa menggantikan keikhlasan, kasih sayang, dan kesantunan. Nilai-nilai inilah yang harus dirawat, ditanamkan, dan dijadikan pembeda.

  2. Literasi Digital sebagai Benteng Baru
    Santri perlu dilatih literasi digital: kemampuan memilah informasi, tabayyun sebelum menyebarkan, dan kritis terhadap narasi ekstrem. Jika dulu benteng pesantren adalah kitab dan surau, maka kini salah satu bentengnya adalah kemampuan menavigasi dunia maya dengan bijak.

  3. Memanfaatkan Teknologi untuk Dakwah Humanis
    Alih-alih menolak teknologi, santri perlu memanfaatkannya untuk menyebarkan pesan damai. Konten kreatif yang menyampaikan nilai adab, cerita inspiratif, hingga refleksi keagamaan bisa menjadi alternatif dari arus ujaran kebencian. Jiwa santri bisa hadir dalam format podcast, video pendek, atau tulisan reflektif yang membumi.

  4. Santri sebagai Pelopor Etika Digital
    Santri seharusnya menjadi teladan dalam menjaga adab di dunia maya. Seperti menjaga lisan dalam kehidupan nyata, menjaga jempol di media sosial juga bagian dari jihad akhlak. Etika digital inilah yang bisa membedakan santri dari arus besar netizen yang mudah tersulut emosi.

  5. Merawat Spirit Kesederhanaan di Tengah Kapitalisme
    Di tengah gempuran budaya hedonisme, santri perlu menunjukkan bahwa kesederhanaan adalah kekuatan. Bahwa hidup tidak harus glamor untuk bermakna. Jiwa santri yang zuhud bisa menjadi kritik terhadap gaya hidup konsumtif yang kini menguasai ruang publik.

Jiwa Santri sebagai Harapan Bangsa

Hari Santri adalah momentum refleksi, bukan sekadar perayaan. Sejarah mengajarkan bahwa santri pernah menjadi benteng kemerdekaan. Kini, santri ditantang untuk menjadi benteng moralitas dan akhlak di tengah badai digital dan krisis etika.

Kecerdasan buatan bisa menyalin kitab, menulis esai, bahkan memberikan ceramah agama. Tetapi AI tidak bisa menggantikan jiwa santri: jiwa yang ikhlas, rendah hati, penuh kasih, dan berlandaskan adab.

Pertanyaan akhirnya kembali kepada kita: apakah kita masih menjaga jiwa santri, atau telah menyerah pada arus disrupsi zaman? Jika jiwa santri hilang, maka bangsa ini akan kehilangan salah satu penopang utamanya. Tetapi jika jiwa santri tetap hidup, maka di era kecerdasan buatan sekalipun, Indonesia masih punya harapan untuk menjadi bangsa yang bermartabat.[]



Ilustrasi: Tim Grafis Ruangobrol.id

Komentar

Tulis Komentar