Kehidupan di pondok pesantren, tak ubahnya replika dalam wujud miniatur dengan purwarupa dan serba-serbi yang ada di dalamya.
Terkadang menyenangkan dan mengasikkan. Namun tak jarang kadang muncul gesekan dan perselisihan antar sesama santri maupun dengan para ustad yang ada.
Beragam kisah cerita dengan berbagaifenomena turut memberi warna tentang kehidupan di pesantren ini.
Bagi saya yang seorang alumni lulusanpesantren, menjadi santri adalah pengalaman yang cukup menyenangkan. Selainkita ‘dipaksa’ untuk hidup secaramandiri, pondok pesantren juga bisa berfungsi sebagai laboratorium kehidupan.
Berupa-rupa anak manusia dengan latarbelakang dan karakter yang berbeda, tak jarang menjadi hiburan unik bagi kamidan para santri lainnya yang kadang jenuh dengan rutinitas yang ada. Termasuk pulakulinernya, sajian khas ala pondok pesantren nan istimewa.
Bagi yang pernah mencicipi kehidupan pesantren, pasti tidak akan asing dengan makanan satu ini. Apalagi kalau bukan mie instan.
Mie instan, selain berfungsi sebagaimakanan di segala medan dan musim. Ia juga hadir dan mengisi kenangan antarlintas generasi dan zaman yang lahir secara turun-temurun.
Jika ada warisan hidup yang taktersentuh oleh gelombang revolusi industri, maka mie instan-lah jawabannya.
Selain harganya yang murah meriah,banyak yang meyakini bahwa mie instan bisa menjadi media untuk membangunsilaturahim antar sesama.
Menu daging, apa pun jenis hewannya, bagi seorang santri tak ubahnya seperti jackpot atau nomor togel yang tembus 4 angka karena saking jarangnya.
Bicara kandungan nutrisi, tidak adakonsep 4 sehat 5 sempurna dalam metafora kehidupan pondok pesantren.
Nasi, kerupuk dan sambal atau nasi,tempe dan kuah bening plus garam sesuai selera, adalah sajian rutin kami.
Soal rasa, jangan tanya. Barangkaliseperti nasib seorang lelaki yang pacarnya habis ditelikung oleh teman sendiri,hidup terasa hambar.
Maka jadilah mie instan ini takubahnya sosok super hero yang menyelamatkan dari rasa hambar tadi. Selalu hadirpada saat-saat susah.
Proses penyajian tak perlu mengikutipetunjuk manual yang ada di balik bungkusnya. Cukup taburkan bumbu pada mie,lalu diremas dan diaduk sekencangnya. Kemudian dihidangkan dengan cara ditaburdi atas nasi dalam kondisi mentah. Sudah cukup menggugah selera.
Selain untuk penambah nafsu makan, mieinstan juga bisa berfungsi sebagai media untuk membangun komunikasi.
Misalnya saat jaga malam, para santrisering memanfaatkan momentum tersebut untuk masak mie bersama dengan membuattungku api. Lalu dihidangkan di atas wajan yang masih mendidih. Tentunya, saat santriyang lain sudah larut dibuai mimpi.
Keheningan malam seperti inilah sering menjadi ajang untuk adu gosip dan ghibah antar masing-masing santri.
Berbagai upaya persekongkolan jahat, makar, rencana untuk kabur dari pondok, menggunjing ustad-ustad, berbagi cerita horor, kepoin santriwati, hingga gosipin gadis desa yang rajin lalu-lalang depan pintu gerbang pondok sering bermula dari acara masak-memasak mie ini.
Meski demikian, kegiatan seperti ini juga bisa menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi. Yang tadinya tidak saling kenal, memasak mie dan makan bersama bisa menjadi alternatif untuk saling mengenal satu sama lain.
Misalnya, hal ini biasa dilakukanmenjelang awal tahun pembelajaran dimulai.
Kehidupan pesantren yang minimfasilitas sering menjadi alasan utama bagi para santri baru untuk minta pulangkembali ke rumah. Maka kegiatan masak-memasak mie diharapkan mampu menjadipelipur lara, selain juga karena memang ada maunya.
Terlebih saat mengetahui bahwa santri baru tersebut punya kakak perempuan yang rupanya seorang santriwati di pondok yang sama, cantik pula. Maka acara masak-memasak yang tadinya hanya sebatas mengisi perut, berubah menjadi arena laga untuk saling berebut hati sang burung dara melalui adiknya.
Demikianlah peran mie instan dalam kehidupan kecil di pondok pesantren kami.
Link foto: https://fanikovsky.wordpress.com/2011/01/05/republic-noodlenesia/
Komentar