Setiap menjelang Lebaran, ada satu hal yang hampir pasti: jalanan menjadi penuh, stasiun sesak, terminal riuh, dan grup WhatsApp keluarga tiba-tiba aktif lagi. Semua orang di perantauan punya rencana yang sama: pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga besar atau yang biasa kita sebut dengan “mudik”.
Mudik, dalam banyak hal, adalah ritual tahunan yang tidak pernah kehilangan pesonanya. Bahkan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, orang tetap ingin pulang. Entah karena rindu ibu, rindu masakan rumah, atau sekadar ingin memastikan bahwa kampung halaman masih ada dan masih menerima kita.
Tahun ini, mudik datang dengan suasana yang agak berbeda.
Di layar televisi, di timeline media sosial, bahkan di obrolan menjelang berbuka, orang-orang membicarakan hal yang sama: perang di Iran. Nama-nama kota yang dulu hanya kita dengar di pelajaran geografi kini muncul di berita setiap hari. Ledakan, serangan balasan, ancaman eskalasi. Jauh sekali dari sini—secara geografis.
Tapi entah kenapa rasanya dekat.
Sebab setiap kali konflik memanas di kawasan itu, dunia energi biasanya ikut berdebar. Jalur-jalur distribusi minyak dunia menjadi lebih sensitif. Selat Hormuz—yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya—tiba-tiba terasa punya pengaruh sampai ke pom bensin di sudut kota.
Orang Indonesia mungkin tidak terlalu hafal letak Selat Hormuz di peta dunia. Tapi mereka sangat peka terhadap satu hal yang jauh lebih konkret: apakah BBM tersedia atau tidak.
Di beberapa daerah, mulai muncul cerita-cerita kecil yang beredar seperti bisik-bisik pasar. Ada SPBU yang antreannya terasa lebih panjang dari biasanya. Ada kabar bahwa distribusi BBM bisa saja terganggu kalau konflik makin meluas. Belum tentu benar, tapi cerita-cerita seperti itu cepat sekali menyebar.
Dan bagi orang yang sedang bersiap mudik, kabar seperti itu cukup untuk membuat alis sedikit terangkat. Sebab perjalanan pulang kampung di Indonesia hampir selalu punya satu titik kritis: pom bensin.
Tidak ada yang ingin mengalami situasi klasik mudik—mobil melaju jauh dari kota, jarum bensin mulai turun, lalu SPBU berikutnya entah masih punya stok atau tidak. Mudik memang selalu penuh cerita, tapi kehabisan bensin di tengah jalan bukan cerita yang ingin dialami siapa pun.
Sementara itu, di pasar-pasar tradisional, dinamika lain juga mulai terasa. Harga beberapa bahan pokok bergerak pelan-pelan naik. Cabai mulai agak galak. Minyak goreng kembali menunjukkan sifat sensitifnya terhadap situasi dunia. Beras juga tidak sepenuhnya tenang.
Pasar memang punya cara sendiri untuk membaca kecemasan global. Padahal bagi banyak keluarga, persiapan Lebaran sudah dimulai jauh hari. Orang-orang sudah menghitung: tiket mudik, THR yang belum tentu besar, baju anak, kue kering, amplop untuk keponakan.
Lebaran memang bukan sekadar hari raya. Ia adalah proyek ekonomi keluarga yang cukup serius.
Mudik saja sudah menjadi pengeluaran besar. Tiket kereta naik. Tiket pesawat apalagi. Yang naik mobil pribadi juga harus memperhitungkan banyak hal—termasuk memastikan perjalanan mereka tidak terganggu oleh masalah distribusi BBM di jalan.
Mudik di Indonesia memang kadang terasa seperti latihan strategi kecil.
Kalau harga bahan pokok mulai bergerak naik, dapur rumah tangga ikut gelisah. Kalau distribusi BBM tersendat, perjalanan mudik bisa berubah dari tradisi bahagia menjadi perjalanan penuh kalkulasi.
Dalam situasi seperti itu, berita tentang konflik di Timur Tengah terasa seperti bayangan yang terus mengikuti. Jauh, tapi nyata. Rumit, tapi berdampak.
Namun ada satu hal yang menarik tentang masyarakat kita: mereka selalu menemukan cara untuk tetap tertawa. Orang Indonesia punya kemampuan unik untuk tetap menjalani hidup, bahkan ketika keadaan global sedang tidak ramah.
Mereka tetap membeli ketupat. Tetap mencari baju baru untuk anak. Tetap menyiapkan toples kue di ruang tamu.
Karena sejatinya lebaran bukan tentang stabil atau tidaknya situasi geopolitik dunia. Lebaran adalah tentang pulang dan merasa diterima. Tentang duduk di lantai ruang tamu bersama keluarga yang mungkin hanya ditemui setahun sekali. Tentang ibu yang masih memasak seperti dulu. Tentang ayah yang pura-pura tidak menunggu, tapi sebenarnya sudah berdiri di depan rumah sejak pagi.
Perang di Iran mungkin akan terus menjadi berita utama. Distribusi energi dunia mungkin masih akan penuh ketegangan. Kebijakan pemerintah mungkin masih akan diperdebatkan.
Tapi di jutaan rumah di seluruh Indonesia, ada satu hal yang tetap berjalan seperti biasa: orang-orang bersiap merayakan lebaran bersama keluarga.
Dan seperti setiap tahun, jalan-jalan akan kembali penuh. Bukan hanya oleh kendaraan. Tapi oleh harapan bahwa, setidaknya selama beberapa hari Lebaran, dunia yang kacau itu bisa terasa sedikit lebih tenang.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar