Jejak Digital yang Tak Bisa Dihapus: Pengakuan Seorang ‘Mujahid Media’

Tokoh

by Redaksi Editor by Redaksi

Oleh: Ilham Alfarizi

Tidak pernah terbayangkan bahwa sebuah file lama yang pernah saya kirim bertahun-tahun lalu masih tersimpan di ponsel seorang teman. Pesan WhatsApp dari dia datang begitu tiba-tiba: katanya, ia masih memiliki rekaman ceramah seorang ustadz yang dulu saya kirim. Ustadz itu bukan sembarang penceramah—ia dikenal sebagai tokoh utama Islamic State (IS) di Indonesia. Ceramah yang dulu saya kirim dengan semangat, kini justru membuat dada saya sesak.

Teman saya mengaku tak pernah mendengarkan rekaman itu, tetapi tetap merasa waswas menyimpannya. Ia khawatir jika suatu hari, tanpa sadar, ia menekan tombol play dan larut dalam ujaran-ujaran yang bisa mengubah caranya berpikir. Mendengar itu, saya terpaku. Ingatan saya langsung melompat ke masa lalu—masa ketika saya menjadi bagian dari rantai panjang penyebaran ide-ide berbahaya.

Dulu, saya percaya sedang melakukan sesuatu yang besar dan mulia. Saya ingin teman saya memahami pesan-pesan itu, seperti saya dulu memahaminya. Saya ingin ia memiliki arah hidup yang sama: menjadi mujahid media, pejuang di jalur informasi untuk menegakkan apa yang saya yakini sebagai kebenaran Islam sejati. Tapi kini, saya justru berharap tak seorang pun lagi bisa mengakses ceramah-ceramah seperti itu. Saya ingin mencegah siapa pun dari kerusakan pikiran yang dulu sempat menjerat saya.

Waktu itu, saya meyakini bahwa jihad tak selalu berarti mengangkat senjata. Ada banyak jalan menuju “perjuangan”, dan salah satunya lewat media. Di depan layar laptop, saya merasa menjadi bagian penting dari perjuangan global. Saya menerjemahkan artikel, menyebarkan video, dan mengunggah ceramah-ceramah yang memuja kekerasan atas nama agama. Dalam benak saya, setiap klik dan unggahan adalah pahala. Saya percaya bahwa makin banyak orang yang membaca dan menonton, makin banyak pula yang akan “tercerahkan” seperti saya dulu.

Paspor sudah siap untuk digunakan menuju Suriah atau Afganistan, tapi keberangkatan itu tak pernah terjadi. Saya menganggapnya takdir—mungkin memang Allah menakdirkan saya berjihad lewat jari-jari, bukan dengan peluru. Keyakinan itu membuat saya terus berkarya di dunia maya, merasa menjadi bagian dari perang suci yang tanpa darah.

Namun perlahan, semangat itu mulai retak. Retak pertama muncul saat saya menyaksikan anak-anak muda yang terpapar ide-ide yang sama dengan yang pernah saya sebarkan. Mereka masih belia, polos, tapi sudah percaya bahwa kekerasan adalah jalan menuju surga. Saya mulai bertanya-tanya: benarkah semua yang saya lakukan dulu atas nama kebaikan?

Pertanyaan itu terus bergema ketika saya semakin banyak belajar dan mengenal realitas di luar narasi hitam-putih yang dulu saya yakini. Saya melihat bahwa apa yang dulu saya sebut “kebenaran” ternyata hanya keping sempit dari tafsir agama yang dibungkus dengan dalil-dalil indah. Namun saat itu, saya belum berani mengakuinya. Saya masih menenangkan diri dengan kalimat, “Setidaknya niat saya baik.”

Kini, saya menyadari bahwa niat baik tidak selalu membawa hasil baik. Apa yang dulu saya anggap kontribusi kecil justru bisa menjadi sumber kerusakan yang besar. Setiap video, setiap tautan, setiap kata yang saya sebarkan di dunia maya, ibarat ranjau pemikiran yang bisa meledak kapan saja. Mungkin sudah ada orang-orang yang terluka karenanya—secara batin, secara ideologi, bahkan secara nyata di dunia.

Rasa bersalah itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia menjadi pengingat bahwa perubahan sejati tak cukup hanya dengan berhenti percaya pada ide-ide lama. Perubahan sejati menuntut keberanian untuk bertanggung jawab atas jejak yang pernah ditinggalkan. Saya tahu, tak mungkin menarik kembali semua yang pernah tersebar. Internet terlalu luas. Tapi saya percaya, memperbaiki sedikit lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa.

Sekarang, saya mencoba menebus masa lalu dengan cara yang sederhana: berbagi kisah, menulis, dan mengingatkan. Saya ingin siapa pun yang membaca ini tahu betapa mudahnya kita terjebak dalam narasi ekstrem yang terdengar suci. Saya pernah berada di titik itu—penuh keyakinan tapi buta arah. Dan saya tidak ingin ada orang lain yang jatuh di lubang yang sama.

Kini, saya percaya jihad yang sesungguhnya bukan lagi soal senjata, bukan pula soal propaganda. Jihad sejati adalah berani melawan kebencian dalam diri sendiri, dan memperbaiki kerusakan yang pernah kita buat, seberapa pun kecilnya. Karena satu “kontribusi kecil” di dunia maya, bisa mengubah jalan hidup seseorang—entah menuju kegelapan, atau menuju cahaya.

*Ilham Alfarizi adalah mantan narapidana terorisme yang kini aktif untuk kegiatan pencegahan radikalisme-ekstrimisme

Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar