Siang itu saya dalam sebuah perjalanan, panasnya kota seperti tungku raksasa. Aspal yang memantulkan panas, dan udara yang memantulkan lelah. Saya duduk di bangku angkot yang berderit, jendela setengah terbuka menelan debu. Sopir memutar sebuah lagu lama, seperti tak sengaja membangunkan kenangan.
Pak-ski-pa-pa, preman, preman, oh-ho...
Pak-ski-pa-pa, metropolitan...
Suara Ikang Fawzi itu mengalir di udara panas, lalu masuk begitu saja ke dalam kenangan yang sudah lama saya lipat. Kenangan tentang masa saya di Lapas — tempat di mana saya berjumpa dengan wajah-wajah keras, tatapan tajam, dan kisah hidup yang tak semua orang sanggup mendengarnya tanpa menghakimi.
Saya pernah menjalani hari-hari sebagai narapidana kasus terorisme. Dua tahun lebih di lapas yang mengubah cara pandang saya terhadap hidup, manusia, dan makna kebebasan.
Lapas, Sekolah Tentang Manusia
Banyak orang menganggap penjara hanya ruang hukuman. Tapi bagi saya, Lapas adalah sekolah kehidupan. Di sanalah saya bertemu dengan mereka yang hidupnya berliku: preman jalanan, pencopet, bandar narkoba, hingga koruptor berdasi.
Dari mereka, saya belajar bahwa manusia tak pernah bisa dilihat hanya dari tampilan luar. Di balik tato dan wajah sangar, ada hati yang bisa hancur oleh rindu. Dan sebaliknya, di balik wajah bersih dan pakaian rapi tersimpan nafsu serakah merampas harta yang bukan haknya. Itulah koruptor.
Banyak napi ingin berubah, tapi tidak semua napi ingin berubah. Ada yang sekadar mengucapkannya demi pencitraan, dan ada pula yang sungguh-sungguh berusaha. Dari pergaulan selama di penjara, saya sampai bisa membedakannya. Mana yang sungguh-sungguh dan mana yang tidak.
Cara membedakannya?
-
Perilaku sehari-hari — Mereka yang sungguh-sungguh biasanya tertib, tak cari masalah, rajin ikut pembinaan.
-
Sikap saat bertemu keluarga — Di momen ini, wajah mereka tak bisa berbohong.
Ruang Besukan: Panggung Kejujuran
Selama di penjara saya jarang dibesuk. Tapi saya suka duduk di kantin ruang besukan, mengamati pertemuan yang penuh warna. Ada tawa, ada tangis, ada genggaman tangan yang tak ingin lepas.
Saya sering melihat anak kecil memeluk ayahnya seolah jeruji tak pernah ada. Saya melihat istri yang menggenggam tangan suaminya seperti berusaha menahan masa depan agar tak runtuh. Dan saya pernah melihat napi bertato menangis di pangkuan ibu renta, bahunya berguncang, tubuh besar itu luluh oleh kelembutan seorang perempuan tua.
Pernah saya bertanya pada seorang kawan,
“Apa yang membuatmu menangis begitu keras saat bertemu keluargamu?”
Ia menghela napas, lalu berkata, “Di luar, saya sembunyikan siapa saya sebenarnya. Tapi di sini, semua rahasia runtuh. Mereka tahu. Dan saya tak bisa lagi pura-pura.”
Keluarga: Obat atau Luka
Bagi sebagian napi, keluarga adalah alasan utama untuk berubah. Tapi bagi yang lain, justru keluarga bisa menjadi sumber luka — ketika mereka datang hanya untuk mengeluh, atau tak pernah datang sama sekali.
Saya belajar, dukungan keluarga adalah fondasi penting untuk mereka yang ingin memulai hidup baru. Tanpa itu, tobat bisa rapuh.
Hari ini, saya masih mengikuti kabar beberapa dari mereka di media sosial. Ada yang menjadi sopir truk ekspedisi, teknisi bengkel, pekerja tambang, pelayan resto, hingga sales keliling. Mereka tak lagi disegani di jalanan, tapi mereka meraih hal yang lebih mahal: kebebasan dan kehormatan yang sesungguhnya.
Bahkan ada yang pernah menghubungi saya untuk menanyakan pekerjaan. Bagi saya, itu tanda bahwa mereka sungguh ingin membangun hidup baru, meski dari nol.
Pelajaran yang Tak Terlupakan
Sekuat-kuatnya preman, akan luluh oleh pelukan anaknya.
Penjara memang mengurung tubuh, tapi kadang ia justru membuka pintu hati yang lama terkunci.
Saya, yang pernah duduk di balik jeruji sebagai narapidana teroris, menemukan satu kebenaran: manusia bisa berubah. Bahkan di tempat yang paling keras, selalu ada ruang bagi air mata, pelukan, dan harapan.
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar