Aku tak menyangka, sebuah forum daring bisa memberi ruang yang begitu nyata untuk merenung.
Sabtu, 6 September 2025. Aku duduk di depan layar laptop—sebuah perangkat biasa yang hari itu berubah menjadi jendela dunia. Di dalam forum bertajuk International Youth Day 2025, aku bergabung bersama ratusan pemuda dari berbagai penjuru Indonesia. Tema besar yang diangkat adalah:
"The Light in Our Hands: Youths as Torch Bearers of Hope for People, Planet & Prosperity."
Sederhana, tapi mengganggu pikiranku: benarkah cahaya itu ada di tangan kita?
Ketika Harapan Tidak Lagi Jauh
Aku berasal dari sebuah kota yang tak selalu disebut dalam berita nasional. Maka ketika forum ini berlangsung secara daring, aku merasa disambut. Tak ada tiket pesawat, tak ada hotel mewah. Hanya ruang Zoom dan sambungan internet yang kadang tersendat.
Tapi justru di situlah aku menyadari: akses adalah bentuk pertama dari keadilan.
Dari layar kecilku, aku melihat wajah-wajah penuh semangat. Ada yang dari Makassar, ada yang dari Bima, ada pula dari Jayapura. Kami berbeda bahasa, berbeda latar. Tapi saat MC berseru, “Hello Youth, rise up!”, aku tahu: ada semangat yang sama sedang menyala.
Kata-kata yang Tidak Hanya Didengar, Tapi Dirasakan
Beberapa tokoh berbicara. Bukan dengan bahasa tinggi yang membuatku merasa kecil, tapi dengan kalimat yang menusuk pelan dan dalam.
Elvi Susanti dari Kemenpora mengingatkan bahwa bonus demografi bukan hadiah, tapi tanggung jawab. Miklos Gaspar dari UN menyadarkan kami bahwa di tengah banjir informasi, justru keberanian membangun narasi lah yang penting. Dan Giras Bowo dari UNAI bicara soal literasi digital, sebagai semacam kompas di zaman yang serba kabur.
Aku mendengarkan sambil merenung.
Selama ini aku merasa terlalu kecil untuk bicara tentang masa depan. Tapi ternyata, mungkin, aku hanya belum diberi ruang untuk menyuarakan apa yang kurasa.
Saat Cerita Perempuan dan Alam Berpotongan
Sesi berikutnya menyentuh sisi yang lebih personal. Dina Mariana berbagi kisahnya mendampingi remaja penyintas gempa di Palu dan Mamuju. Ia bercerita bukan untuk mengundang simpati, tapi untuk menunjukkan: kebijakan yang tidak mendengar, akan kehilangan arah.
Lalu ada Ardine Gantari. Usianya delapan belas. Sejak umur tiga belas, ia sudah membersihkan mangrove, menyelam untuk menjaga terumbu karang, dan bicara soal literasi ekologi.
Dari dua perempuan ini, aku belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang sangat dekat. Dari tubuh, dari tanah, dari laut, dari komunitas.
Tiga Pilar yang Bukan Sekadar Poster: People, Prosperity, Planet
Sesi Insight Talks adalah tempat yang membuatku termenung cukup lama setelahnya.
Randa dari UNDP memaparkan data yang membuat perutku terasa dingin—hanya 11% pemuda Indonesia menyelesaikan pendidikan tinggi. Lalu Rafli dari Timur Network membawa pandangan yang selama ini nyaris tak terdengar: bahwa kesejahteraan harusnya tentang hidup yang mandiri dan berkelanjutan, bukan sekadar angka-angka pertumbuhan. Dan Fiza dari Green Welfare Indonesia mengingatkan bahwa alam tidak akan sembuh jika kita terus menundanya.
Mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tapi juga mengajakku merenung:
Apakah kita benar-benar melihat realitas di sekitar kita, atau kita terlalu sibuk mengejar mimpi-mimpi yang dibentuk oleh algoritma?
Diskusi yang Lebih Mirip Obrolan, Tapi Mengubah Banyak Hal
Di sesi kelompok kecil, suasana menjadi lebih cair. Kami bicara tentang banyak hal—dari sawit hingga air bersih, dari hak pekerja disabilitas hingga impian membangun komunitas.
Aku ingat satu peserta, Aisyah, berkata sambil tertawa, “Umurku kayak lagu Taylor dikurang satu—22-1—dan aku cuma pengen bikin sesuatu yang berdampak nyata.”
Aku tertawa kecil. Tapi di dalam hati, aku tahu ia tidak main-main.
Mimpi-mimpi besar kadang lahir dari candaan kecil.
Pitching: Belajar Bicara di Dunia yang Sibuk
Forum ini ditutup dengan sesi pitching ide. Bukan kompetisi, tapi latihan untuk menyampaikan gagasan dengan singkat dan tajam.
Aku tidak tahu apakah ide-ide kami akan langsung berubah menjadi program nasional. Tapi aku tahu, setelah sesi itu, kami semua pulang dengan nyala baru—bahwa gagasan, sekecil apa pun, harus punya ruang untuk hidup.
Aku tidak membawa pulang jawaban pasti tentang bagaimana mengubah dunia. Tapi aku membawa pulang keyakinan: dunia yang kacau ini masih bisa diperbaiki, asalkan kita tidak saling menunggu.
Forum ini menunjukkan bahwa cahaya itu memang sudah ada di tangan kita. Kadang kecil, kadang goyah, tapi nyata. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjaga nyalanya—dan menyalakan cahaya lain di sekeliling kita.
Dan hari ini, saat menulis ini, aku ingin bertanya padamu—seperti aku bertanya pada diriku sendiri malam itu:
Apa hal kecil yang bisa kamu nyalakan hari ini, dari tempatmu berdiri?
Foto-foto: Dok. United Nations Association in Indonesia (UNAI)
Dhani 8 Sep 2025, 18:04 WIB
Bagus. Mengedukasi👍
Erni Yoan 8 Sep 2025, 07:37 WIB
Membaca perjalanan yang aku tidak hadir, tapi insightnya terasa karena tulisan ini terasa berbicara. Terima kasih atas uraian ceritanya kak. Menyalakan critical thinking untuk merespon dengan rasa.