Tahun 2024 bukan hanya tahun yang sibuk. Ia adalah tahun penuh perjalanan, pertemuan, kegelisahan, dan juga titik-titik cahaya yang tak pernah saya duga sebelumnya. Sebagai seorang filmmaker di Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP), saya memang memegang kamera untuk merekam kisah. Tapi di balik setiap potongan gambar yang terlihat sederhana, ada begitu banyak detil pekerjaan yang tak pernah muncul di layar—dan justru di situlah saya belajar paling banyak.
Saya lulusan jurusan Film dan Televisi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kampus mengajari saya banyak hal: teknik kamera, estetika visual, dramaturgi, hingga seni menyusun potongan gambar menjadi sebuah cerita. Namun, dunia nyata di lapangan ternyata jauh lebih kompleks. Pendidikan memberi bekal, tetapi pengalamanlah yang menajamkan intuisi—membaca gestur narasumber, menunggu jeda di antara kalimat, atau merasakan kapan harus meletakkan kamera demi memberi ruang pada keheningan.
Bagi saya, setiap film selalu lahir dari satu prinsip sederhana: berangkat dari masalah kita sendiri. Masalah personal yang memiliki emosi universal—cinta, kehilangan, harapan, perjuangan—hal-hal yang tak lekang oleh bahasa dan budaya. Itu sebabnya, sebagai sutradara sekaligus editor, saya tidak hanya ingin mengangkat isu, tapi juga menghadirkan wajah, suara, dan getaran hati manusia di baliknya. Film bukan sekadar dokumentasi, tapi jembatan yang menghubungkan penonton dengan subyek, bahkan ketika topiknya berat dan sensitif.
Tiga Kisah, Tiga Perjalanan
Tahun 2024, bersama tim KPP, kami menyelesaikan tiga film dokumenter pendek.
-
Pilihan
Mengisahkan perjalanan Ani Ema, seorang pekerja migran yang harus berhadapan dengan arus radikalisme online. Kamera merekamnya bukan hanya saat bercerita, tetapi juga saat ia diam, menarik napas panjang, seolah menimbang kata yang akan keluar. -
Road to Resilience
Mengikuti langkah Febri Ramdani membangun kembali hidupnya setelah 300 hari di bumi Syam. Bukan hanya kisah tentang masa lalu yang gelap, tetapi juga tentang menanam kembali harapan di tanah yang pernah gersang. -
The Invisible Wall
Menyoroti perjuangan dua perempuan yang harus menanggung stigma berat setelah suami mereka ditangkap karena terlibat jaringan kekerasan ekstrem. Kamera saya menjadi saksi, bagaimana tatapan orang di sekitar bisa menjadi tembok tak kasat mata yang membatasi langkah mereka.
Tantangan yang Tak Terekam Kamera
Membuat film dengan isu sensitif bukanlah sekadar soal memotret peristiwa. Tantangan terberat adalah membangun kepercayaan. Para narasumber membawa beban yang kadang tak sanggup mereka ucapkan. Ada rasa takut, ragu, bahkan trauma. Wawancara sering berjalan pelan, penuh jeda, dan tak jarang berhenti di tengah.
Keterbatasan waktu dan anggaran juga memaksa kami berpikir kreatif. Bagaimana menjaga kualitas visual saat pencahayaan minim? Bagaimana meramu narasi ketika beberapa momen penting luput karena kondisi tak terduga? Di lapangan, rencana sering berubah: jadwal mundur, lokasi mendadak tertutup, cuaca tak bersahabat. Semua itu mengajarkan bahwa kesabaran, empati, dan kemampuan beradaptasi adalah senjata utama seorang filmmaker.
Film yang Mengubah
Setiap film yang saya buat adalah untuk mengubah penonton—setidaknya saya berharap begitu. Tapi yang pasti, film-film ini mengubah saya. Saya belajar bahwa keberanian bukan selalu berarti berteriak lantang, kadang ia hadir dalam bentuk paling sunyi: duduk, bercerita, dan mengizinkan orang lain melihat luka kita.
Saya percaya, selama masih ada ruang untuk mendengar dan bercerita, selalu ada peluang untuk meruntuhkan tembok prasangka. Film adalah undangan untuk melihat dari mata orang lain, dan dalam proses itu, harapan bisa tumbuh.
Dan itulah alasan terbesar kenapa saya akan terus membuat film.
Foto: Kolase foto proses produksi film (Tim Grafis Ruangobrol)
Komentar