“Ruang Damai dalam Keluarga: Benteng Pertama Melawan Kebencian dan Radikalisme

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Redaksi

Saya tidak pernah membayangkan bahwa hidup saya akan mengambil jalan yang begitu gelap. Dulu, saya percaya bahwa kekerasan bisa menjadi jawaban. Saya terjebak dalam lingkaran kebencian, dikuasai oleh ideologi yang menutup mata hati saya terhadap nilai kemanusiaan. Kini, ketika saya menoleh ke belakang, saya hanya menemukan penyesalan dan pertanyaan, mengapa saya begitu mudah berpaling dari kasih sayang yang seharusnya menjadi pegangan?

Di dalam penjara, saya bertemu dengan berbagai orang dengan berbagai latar belakang dan masalahnya. Saya juga dipertemukan dengan para ahli, akademisi, dan pemuka agama. Di penjara pula saya punya banyak waktu untuk berpikir. Waktu yang terasa lambat itu memaksa saya menelusuri akar-akar keputusan buruk yang pernah saya buat. Dari semua hal yang saya renungkan, satu hal mencuat paling kuat, keluarga! Saya ingat bagaimana jarak, kesalahpahaman, dan kehilangan komunikasi dalam keluarga membuat saya mencari “rumah” di luar, pada kelompok yang menawarkan kepastian semu. Andai dulu saya memiliki ruang damai dalam keluarga, mungkin jalan hidup saya berbeda. Itulah mengapa saya menulis refleksi ini. Saya bukan hendak membuka luka lama, bukan pula untuk menebus masa lalu yang sudah terlanjur terjadi. Saya hanya ingin berbagi tentang betapa pentingnya keluarga sebagai benteng pertama perdamaian. Keluarga adalah tempat kita belajar tentang cinta, pengampunan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Tanpa ruang damai dalam keluarga, seseorang bisa mudah goyah ketika dunia luar menawarkan jalan pintas yang tampak meyakinkan.

Ruang damai bukan sekadar rumah yang berdinding dan beratap. Ia adalah ruang batin tempat setiap anggota keluarga merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Di ruang itu, anak-anak bisa bercerita tanpa takut dihakimi, orang tua bisa mengakui kesalahannya tanpa kehilangan wibawa, dan semua orang belajar bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Ruang damai adalah tentang kehangatan yang kita ciptakan sehari-hari: dari pelukan yang tulus, dari doa yang dibisikkan dalam hati, dari kebersamaan di meja makan, hingga dari kesediaan mendengar dengan penuh perhatian.

Saya menyadari, banyak orang menganggap hal-hal kecil itu sepele. Tapi bagi jiwa yang rapuh, bagi anak muda yang sedang mencari arah, hal-hal kecil itu bisa menjadi jangkar yang menyelamatkan. Ketika seseorang merasa diterima di rumahnya sendiri, propaganda kebencian yang berteriak di luar tidak lagi mudah menembus hatinya. Sebaliknya, ketika rumah terasa asing, ia akan mencari tempat lain untuk berlindung. Di situlah jebakan ideologi ekstrem kerap menyergap. Saya pernah menjadi contoh buruk dari seseorang yang gagal menemukan ruang damai di rumah sendiri. Itu bukan sepenuhnya salah keluarga saya, karena saya juga menutup diri. Tetapi setelah melalui proses panjang, saya belajar bahwa membangun ruang damai adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, anak, pasangan, semua harus terlibat. Ruang itu tidak hadir dengan sendirinya, ia harus diciptakan, dirawat, dan diperjuangkan. Saya belajar bahwa komunikasi adalah kunci utama dari ruang damai.

Dulu, saya sering merasa tidak didengar. Setiap kali saya mencoba berbicara, rasanya hanya ada nasihat panjang yang terdengar seperti ceramah. Tidak ada ruang untuk saya mengutarakan keresahan dengan jujur. Akibatnya, saya memilih diam atau melawan saat muncul keberanian. Setelah itu saya lalu mencari telinga lain yang bersedia mendengar tanpa menghakimi. Sayangnya, telinga itu adalah milik orang-orang yang menjerumuskan saya. Namun kini saya sadar, mendengar adalah bahasa cinta yang paling sederhana tapi sering diabaikan. Anak-anak tidak selalu butuh jawaban instan dari orang tuanya. Kadang mereka hanya ingin dipahami. Kadang mereka hanya butuh tempat untuk menumpahkan gelisah. Bila orang tua bersedia menjadi pendengar yang sabar, anak-anak akan merasa dihargai. Dan perasaan itu, bagi saya, bisa menjadi benteng yang lebih kokoh dari tembok penjara mana pun.

Selain mendengar, keluarga juga perlu belajar mengelola konflik tanpa kekerasan. Saya ingat betul, setiap pertengkaran di rumah dulu hampir selalu berakhir dengan kemarahan, dengan suara yang meninggi. Di kepala saya tertanam gambaran bahwa konflik hanya bisa selesai dengan cara keras. Itu pula yang membuat saya mudah menerima ide bahwa “perjuangan” bisa dibenarkan dengan kekerasan. Baru kemudian saya mengerti bahwa konflik justru adalah kesempatan untuk memahami perbedaan. Bayangkan jika setiap pertengkaran di rumah diakhiri dengan saling meminta maaf. Bayangkan jika setiap kemarahan bisa diredakan dengan pelukan. Anak-anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar. Mereka belajar bahwa kelembutan tidak mengurangi harga diri, melainkan justru memperkuat ikatan. Saya sering bertanya pada diri sendiri, bagaimana jadinya jika sejak kecil saya akrab dengan suasana seperti itu?

Ruang damai juga dibangun melalui kebersamaan. Saya tidak sedang berbicara tentang liburan mewah atau acara besar. Saya berbicara tentang makan malam sederhana bersama keluarga, tentang doa yang dipanjatkan bersama sebelum tidur, tentang obrolan ringan yang tidak buru-buru. Ritme hidup modern sering membuat kita lupa bahwa hal-hal kecil itu bisa menjadi penopang jiwa. Ketika seseorang tahu bahwa ada rutinitas hangat yang selalu menunggunya di rumah, ia tidak akan mudah merasa sendirian.

Ada kalanya saya merasa iri pada cerita orang lain yang tumbuh dengan ritual keluarga. Mereka bercerita tentang ayah yang selalu menyisihkan waktu untuk mendengar, atau ibu yang tak pernah lupa menyelipkan doa di setiap langkah anaknya. Saya tidak selalu mendapatkan itu, dan mungkin itu pula yang membuat saya mudah goyah. Tapi justru dari kekosongan itulah saya mengerti betapa berharga kebersamaan kecil dalam keluarga. Lebih jauh lagi, ruang damai adalah tempat menanamkan nilai toleransi. Dunia ini penuh perbedaan. Agama, keyakinan, suku, cara pandang, dan lain-lain. Bila keluarga gagal memperkenalkan perbedaan sebagai kekayaan, anak-anak akan mudah melihatnya sebagai ancaman. Saya sendiri pernah tumbuh dalam cara pandang sempit, bahwa hanya ada satu jalan benar, dan yang lain harus ditolak. Butuh waktu panjang bagi saya untuk menyadari betapa menyesatkan cara pandang itu.

Keluarga bisa menjadi sekolah pertama yang mengajarkan toleransi. Ketika anak melihat orang tuanya menghargai tetangga yang berbeda keyakinan, ia belajar bahwa perbedaan bukan masalah. Ketika keluarga membuka pintu untuk teman dari latar belakang lain, anak belajar bahwa persahabatan melampaui sekat identitas. Nilai-nilai itu sederhana, tapi dampaknya bisa menyelamatkan.

Saya percaya, ruang damai dalam keluarga adalah jaring pengaman terakhir ketika dunia luar begitu keras. Ketika anak jatuh, ruang itulah yang menyambutnya pulang. Ketika ia gagal, ruang itulah yang memeluknya agar berani mencoba lagi. Dan ketika godaan ideologi ekstrem mengetuk pintu pikirannya, ruang damai itu menjadi pagar tak terlihat yang melindunginya. Saya tidak punya pagar itu dulu, dan saya tahu betul harga yang harus saya bayar.

Di luar keluarga, saya juga melihat peran masyarakat. Terlalu sering, keluarga mantan pelaku terorisme ikut menanggung stigma. Mereka dijauhi, dicurigai, bahkan ketika mereka tidak tahu-menahu tentang perbuatan anggota keluarganya. Padahal, jika kita ingin memutus lingkaran kekerasan, justru keluarga korban dan keluarga pelaku harus sama-sama dirangkul. Dengan begitu, anak-anak tidak tumbuh dengan luka ganda, kehilangan figur orang tua sekaligus dijauhi lingkungan. Negara pun punya peran besar. Program deradikalisasi tidak akan berhasil tanpa melibatkan keluarga. Memberi bekal ekonomi, dukungan psikologis, bahkan sekadar ruang untuk berkumpul dengan tenang—semuanya penting. Saya sendiri merasakan bagaimana keluarga bisa menjadi jembatan keluar dari kegelapan, asalkan mereka diberi kesempatan untuk kuat kembali.

Saya ingin menegaskan bahwa membangun ruang damai dari keluarga bukan pekerjaan sehari-dua hari. Ia adalah proses panjang yang dimulai dari hal kecil. Mendengar, memeluk, meminta maaf, tertawa bersama, berdoa bersama. Hal-hal sederhana itu, bila dirawat terus, akan menumbuhkan ketahanan jiwa. Dan ketahanan jiwa itulah yang menjadi benteng ketika arus kebencian berusaha merobohkan kita. Hari ini, saya hidup dengan banyak penyesalan. Saya tahu masa lalu saya tidak akan pernah hilang. Tapi saya juga percaya, masa depan bisa ditulis ulang. Saya ingin anak-anak di luar sana tidak mengulang kesalahan yang saya buat. Saya ingin mereka menemukan rumah yang benar-benar menjadi rumah, bukan sekadar tempat singgah.

Saya pernah kehilangan ruang damai, dan saya tahu akibatnya. Karena itu saya menulis refleksi ini untuk mengingatkan kita semua, betapa pentingnya ruang damai dalam keluarga. Sebab dari keluarga, segalanya bermula. Jika keluarga rapuh, bangsa pun rapuh. Tapi bila keluarga kuat dengan kasih sayang, bangsa ini akan berdiri dengan damai. Dan bagi saya, membangun ruang damai dari keluarga bukan lagi sekadar gagasan. Ia adalah jalan pulang.[]

*Munir Kartono adalah mantan narapidana terorisme yang kini sedang menempuh Program Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina.



Ilustrasi: By AI (ChatGPT)

Komentar

Tulis Komentar