Merawat Luka, Menumbuhkan Jiwa

Tokoh

by Arif Budi Setyawan Editor by Redaksi

Udara kemarau yang dingin dan kering bertiup membelai kulit ketika pagi ini saya menyirami tanaman sirih gantung di teras rumah. Di atas keset di depan pintu seekor anak kucing meringkuk menahan dingin menunggu saya untuk memberinya makan. Suasana ini mengingatkan saya pada kenangan hampir 10 tahun yang lalu. Saat saya menemukan kedamaian dengan merawat tanaman dan kucing di penjara.

*****

Sebelum masuk penjara, di dunia luar, saya tidak punya banyak waktu untuk merawat tanaman, apalagi bermain dengan kucing. Tapi di penjara, hal-hal kecil seperti itu menjadi bagian penting dari keseharian saya. Bahkan bisa saya katakan—itulah yang membentuk ketenangan dan keseimbangan batin saya.

Saya mungkin kehilangan kesempatan menyaksikan pertumbuhan anak-anak saya secara langsung. Tapi Allah menggantinya dengan menyaksikan pertumbuhan tanaman yang saya rawat, dan kehidupan seekor kucing liar yang kemudian menjadi teman setia saya di dalam penjara.

Cemong, Si Kucing Garong

Pertama kali saya melihatnya adalah ketika saya masih di sel isolasi. Seekor kucing jantan hitam-putih dengan banyak bekas luka di tubuhnya berjalan lesu di lorong. Tidak ada yang menggubris. Ia tampak galak, liar, dan tidak ramah. Tapi saya terpanggil saat melihatnya gerak-geriknya yang menyiratkan bahwa dia sedang kelaparan.

Saya menyodorkan sisa ikan. Ia melompat masuk ke sel saya tanpa ragu dan memakan makanan itu dengan lahap. Setelah itu, ia tidur di kaki saya. Sejak hari itu, ia rutin datang. Pagi, siang, malam. Kadang hanya untuk tidur. Kadang hanya untuk melihat saya. Kami tidak bicara tentu saja, tapi saya tahu, dia tahu: saya tidak menghakiminya.

Jika saya masih bisa memberi makan kucing, itu berarti rezeki saya masih lebih dari cukup,” begitu saya menenangkan diri sendiri.

Orang-orang menyebutnya Cemong. Ia bukan kucing lucu yang mudah disayang. Dia adalah kucing garong, petarung antar-blok, tidak ramah pada siapa pun. Tapi kepada saya, ia tunduk. Mungkin karena ia tahu, saat semua orang menjauh, saya satu-satunya yang merawatnya ketika ia di lain waktu sakit teronggok sendirian di sudut blok.

Dalam diam, ia mengajari saya arti kesetiaan, kepercayaan, dan kasih yang tidak bersyarat. Saya tidak peduli ia pernah mencuri makanan dari kantin atau berkelahi dengan kucing lain. Ia tidak sempurna. Tapi ia setia.

Tanaman: Terapi Kesabaran dan Konsistensi

Kecintaan saya pada tanaman dimulai ketika saya melihat pot sirih gantung yang dibiarkan layu karena tak terjangkau air. Posisi potnya tinggi, dan tamping kebersihan sering melewatkannya. Saya merasa iba. Itu awalnya.

Saya lalu minta bantuan membuat galah dari teman di BLK (Balai Latihan Kerja) untuk menyiram tanaman-tanaman itu. Setiap pagi, sebelum apel, saya sempatkan menyiram, membersihkan pot dari sampah, bahkan memungut bungkus mi instan yang dibuang sembarangan. Aktivitas kecil itu menjadi ritual. Menjadi bentuk ibadah diam yang tidak butuh tepuk tangan.

Beberapa orang mencibir. Ada yang menertawakan, mengira saya mencoba cari muka. Tapi saya tidak sedang menanam untuk orang lain. Saya hanya ingin merawat sesuatu. Sesuatu yang diam, yang tidak protes, tapi terus hidup jika kita menjaganya.

Menjadi tanaman di penjara adalah metafora dari hidup saya: dikurung, tapi tetap bisa tumbuh.

Saya bahkan membuat pupuk sendiri dari sisa nasi dan roti yang dibuang—menciptakan fermentasi sederhana. Lama-lama, tanaman saya tumbuh subur. Beberapa petugas bahkan meminta pupuk buatan saya untuk dibawa ke rumah mereka. Saya dengan senang hati berbagi. Bagi saya itu berarti keberkahan.

Mencari Taubat Lewat Jalan Tak Biasa

Hubungan saya dengan Cemong dan tanaman-tanaman itu bukan sekadar hiburan. Mereka adalah cermin. Mereka merefleksikan siapa saya yang sebenarnya. Saya sadar, saya juga seperti mereka—makhluk yang pernah diabaikan, pernah menyakiti, dan ingin bertahan.

Dari situlah saya belajar: taubat tidak selalu harus melalui mimbar, tausiyah, atau majelis ilmu. Kadang taubat bisa tumbuh dari hal-hal paling sunyi—dari memperhatikan makhluk kecil, dari menyirami pot kering, dari menyambut makhluk buangan, dan dari memberi tanpa meminta kembali.

Saya menemukan keikhlasan bukan hanya di sajadah, tapi juga dalam air siraman dan sepotong ikan untuk kucing lapar.

Dan dari situlah saya mulai bisa tersenyum, bukan karena bebas, tapi karena saya tahu: jiwa saya sudah tidak lagi terpenjara.



Foto: Si Cemong ketika saya berkunjung ke Lapas Salemba, Januari 2019.[Dok. Pribadi]

Komentar

Tulis Komentar