Menjawab Tuduhan Islamophobia, Begini Penjelasan Mahfud MD

Akhmad Kusairi
Akhmad Kusairi
4 Min Read
Menko Polhukam Mahfud MD.

Kalau ada tuduhan, wah, Indonesia itu ada Islamophobia, omong kosong.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD membantah tuduhan sebagian orang yang menyebut Negara Indonesia sebagai negara Islamophobia. Pasalnya, Bhineka Tunggal Ika menjadi dasar yang dibangun oleh para pendiri Bangsa Indonesia.

“Kalau ada tuduhan, wah, Indonesia itu ada Islamophobia, omong kosong, Islamofobia itu ndak ada. Apa itu Islamophobia? Islamofobia itu secara ilmiah artinya satu pemerintahan yang benci kepada Islam, sehingga semua orang Islam disingkirkan, kaum-kaum Islam disingkirkan dari kehidupan negara. Atau takut kepada Islam sehingga juga dianggap sebagai lawan,” kata Mahfud MD saat menjadi pembicara secara virtual acara Presidential Lecture yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam rangka HUT ke-12 BNPT, Selasa (19/7/2022).

Sementara di Indonesia, lanjut Mahfud, semua kebijakan-kebijakan pemerintah, budayanya sudah dibangun secara Islami. Begitu juga dengan kampus-kampus Islamnya juga banyak terdapat di berbagai Kota di Indonesia.

“Dulu pesantren sudah dibangun sedemikan rupa, pejabat-pejabatnya juga disumpah menurut agamanya, dan dianjurkan semua pemeluk agama ikutilah ajaran agama masing-masing,” imbuhnya.

Gus Dur: Negara Indonesia adalah negara hasil perjanjian dan tempat membangun bersama-sama tanpa konflik.

Mantan Menteri Pertahanan Era Gus Dur itu juga menambahkan jika Negara Indonesia adalah negara hasil perjanjian dan tempat membangun bersama-sama tanpa konflik. Hal inilah yang ia sebut kosmopolitanisme. Sehingga, lanjutnya, dalam beragama di Indonesia itu harus dalam kerangka bernegara.

“Jangan dibiarkan ada satu gerakan bahwa kita mayoritas dan kita harus menguasai, mendominasi sendiri di sini. Orang yang berbuat jelek itu karena dia tidak menghayati kehidupan beragama itu sebagai tugas kemanusiaan. Oleh sebab itu, marilah kita bersinergi membangun bangsa ini dengan sebaik-baiknya,” ungkap Mahfud.

Lebih jauh, tokoh asal Madura tersebut juga menegaskan jika terorisme tidak terkait dengan agama tertentu. Misalnya dia mencontohkan gerakan Organisasi Papua Merdeka yang melakukan aksi terorisme di Papua.

“Itu kan Papua itu motifnya politik dan ideologi. Politik ingin memecahkan diri, ideologinya enggak mau kebersatuan, tidak mau Pancasila. Lalu melakukan kekerasan di tempat-tempat umum, memblokir bandara, membakar bandara, nembaki kapal sipil,” kata Mantan Ketua MK tersebut.

Terkait dengan agama Islam yang sering dihubungkan dengan terorisme, Mahfud menegaskan justru yang dilakukan Pemerintah melalui BNPT maupun Polri ingin menunjukkan bahwa Islam bukan agama teror. Karena Islam itu memang agama yang menerima kosmopolitanisme, kesewargaan,” jelas dia.

“Ribuan orang itu mengatakan kenapa di Indonesia ini kalau bicara terorisme kok selalu Islam? Berarti gerakan antiterorisme itu, gerakan anti-Islam. Saya sering memberi contoh begini, ini bagi saudara-saudara yang beragama Islam supaya mengerti, kita bukan menuduh Islam terorisme. Justru kita membentuk BNPT itu antara lain untuk menyatakan Islam itu bukan agama teror, yang kebetulan tertangkap itulah yang melanggar dari ajaran Islam,” tambahnya.

BACA JUGA: MUI Bantah Ada Islamophobia di Indonesia

Karena itu, dia mengajak semua pihak agar membangun sinergisitas dalam memberantas radikalisme dan terorisme. Sinergisitas tersebut tentunya akan sangat membantu serta mendukung tugas dan fungsi BNPT sebagai leading sector penanggulangan terorisme yang menjalankan amanat UU 5 Tahun 2018.

“Sesudah 12 tahun ini ternyata kita sudah punya jaringan-jaringan yang struktural dibangun kemudian yang secara informal juga dibangun, baik di dalam maupun di luar negeri, kekuatan-kekuatan masyarakat, pemerintah, swasta dan sebagainya dibangun terus sehingga jaringan-jaringan yang sudah dibangun selama setahun ini perlu disinergikan agar menjadi lebih bermakna,” pungkas Alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tersebut. (*)

Share this Article
Leave a comment