Kesabaran dan Ketulusan Kunci Pemberdayaan Eks Napiter

By

Selama sepekan terakhir saya mendapatkan banyak cerita dari teman-teman yang biasa berurusan dengan para mantan narapidana terorisme alias napiter. Ada satu pertanyaan besar yang coba kami jawab dari diskusi dengan mereka: apa sih sebenarnya yang paling dibutuhkan dalam pendampingan dan pemberdayaan mantan napiter itu?

Pertanyaan di atas lahir dari kegalauan hati kami melihat banyaknya upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam penanganan eks napiter ini, namun di tengah jalan banyak pula yang bermasalah.

Upaya-upaya yang telah dilakukan itu antara lain: pemberian bantuan modal usaha individu, dibuatkan unit usaha bersama, pelatihan keterampilan, pendampingan untuk mendapatkan akses birokrasi hingga  pembekalan wawasan.

Salah satu masalah yang paling sering terjadi dan paling memusingkan banyak pihak adalah: sudah dibantu modal usaha dan pelatihan keterampilan tapi tetap saja tidak bisa maju, malah sering rugi. Padahal jumlah dana yang digelontorkan untuk itu nilainya tidak kecil.

Menurut para pemberi bantuan, diberikan modal dan pelatihan keterampilan itu dianggap sudah cukup untuk bisa mengubah nasib seorang mantan napiter. Keterampilan ada, modal juga ada. Lalu di mana persoalannya?

Ada satu hal yang terlupakan atau kurang diperhatikan: mental berwirausaha itu tidak dimiliki oleh semua orang. Kalaupun ada yang berminat menekuni wirausaha, itu juga pengalaman kali pertama,  maka diperlukan pendampingan dan bimbingan sampai dia bisa disebut wirausahawan. Apalagi di tengah era persaingan bisnis yang makin ketat ini tentu membutuhkan peningkatan kemampuan lebih.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman kami dalam kegiatan pendampingan dan pemberdayaan mantan napiter, mayoritas mereka itu setelah bebas dari penjara butuh solusi yang cepat. Menjadi buruh atau karyawan swasta akan lebih dipilih daripada memulai berwirausaha. Tapi sayangnya, lapangan pekerjaan semakin sulit didapat.

Ada lagi cerita-cerita dari kawan-kawan tentang sebuah lembaga negara yang mencoba program pemberdayaan ekonomi dengan cara berbeda. Bukan diberikan modal per orang, tetapi dibuatkan sebuah unit usaha bersama. Sebuah usaha yang langsung bisa menyerap tenaga kerja yang terdiri dari para mantan napiter di suatu wilayah.

Sepintas ini lebih baik dari yang pertama tadi. Tapi faktanya saat ini banyak yang sudah mulai tersendat jalannya. Entah karena kendala pemasaran, konflik sesama pekerja, ketidakmampuan pekerja atau konflik kepentingan di antara para “pengawas dan pembina” program.

Di sinilah yang banyak dilupakan. Bahwa penanganan para mantan napiter ini merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan bersama. Bukan untuk dijadikan obyek atau ajang mencari muka dan keuntungan.

Jadi, apa jawaban dari pertanyaan: Apa sih sebenarnya yang paling dibutuhkan dalam pendampingan dan pemberdayaan mantan napiter itu?

Dari diskusi kami, kami sepakat bahwa mendampingi dan memberdayakan mantan napiter itu yang paling dibutuhkan adalah ketulusan dan kesabaran. Harus berdasarkan panggilan hati dan keinginan kuat untuk menyelesaikan masalah. Bila tidak, yakinlah bahwa itu tidak akan bisa bertahan lama. Padahal persoalannya sangat banyak dan kompleks.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like