Oleh: Nasya
Baca kisah sebelumnya: Aku Ingin Percaya, Tapi Ingatanku Berkata Lain
Setelah melalui hari-hari yang terasa begitu berat, akhirnya aku dibawa ke psikolog di salah satu rumah sakit umum daerah di tempat tinggalku. Orang-orang di sekitarku mulai menyadari bahwa keadaanku bukan sekadar kesedihan karena suamiku ditangkap. Aku hampir tidak bisa menjalani hari seperti biasanya. Aku lebih banyak menangis, sulit menenangkan diri, dan sering kali tidak mampu mengendalikan emosiku sendiri.
Setelah menjalani pemeriksaan, aku didiagnosis mengalami Major Depressive Disorder (MDD), atau gangguan depresi mayor. Namun, saat itu aku belum benar-benar mampu memahami arti diagnosis tersebut. Pikiranku masih dipenuhi Farhan dan segala sesuatu yang terjadi kepadanya. Aku belum memiliki ruang untuk memikirkan diriku sendiri, apalagi memahami kondisi psikologis yang sedang kualami.
Hari-hariku dipenuhi tangisan. Bahkan ketika berada di tengah keluarga sendiri, aku tetap merasa seperti sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh siapa pun. Orang tuaku menyaksikan bagaimana aku lebih sering terdiam atau menangis tanpa mampu menjelaskan apa yang sebenarnya kurasakan. Pada saat-saat tertentu, emosiku begitu meluap hingga aku kesulitan mengendalikan diri. Ada terlalu banyak hal yang menumpuk sekaligus, sementara aku tidak tahu bagaimana menghadapinya satu per satu.
Di tengah keadaan tersebut, aku kembali mendapatkan kabar yang membuatku semakin sulit menerima kenyataan. Farhan akhirnya dibawa ke Jakarta, ke Mabes Polri. Sebelumnya, aku masih berusaha berpegang pada kemungkinan bahwa ia tidak terlibat dalam perencanaan yang sedang diselidiki dan mungkin akan segera dipulangkan.
Aku kembali mengingat penjelasan Densus 88 ketika mereka datang ke rumah. Mereka pernah mengatakan bahwa jika Farhan tidak terlibat, ia mungkin bisa dipulangkan dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, jika keterlibatannya terbukti, ia akan dibawa ke Jakarta untuk menjalani proses lebih lanjut.
Kabar itu membuatku kembali histeris. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi kepada Farhan ataupun apa saja yang sudah diketahui pihak berwenang tentang dirinya.
Selama ini, aku memang mengetahui pandangan keagamaan yang ia pegang, lingkungan pertemanannya, serta materi-materi yang pernah ia baca dan berikan kepadaku. Namun, mengetahui hal-hal tersebut tidak berarti aku memahami seluruh kegiatan yang mungkin pernah dilakukannya. Ada bagian dari kehidupannya yang tidak kuketahui, dan kini aku harus menghadapi kemungkinan bahwa bagian yang tersembunyi itu jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
Aku ingin bertanya langsung kepada Farhan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun, aku tidak tahu bagaimana mendapatkan jawaban. Aku hanya bisa menunggu kabar sambil berusaha menghadapi hari-hari yang semakin berat. Ketidakpastian membuat pikiranku terus bergerak ke berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan bahwa Farhan tidak akan segera pulang.
Tidak lama kemudian, ibu dan bapak mertuaku datang jauh-jauh dari seberang pulau untuk melihat keadaanku. Mereka menyaksikan sendiri kondisiku yang masih sangat terpukul. Aku tidak ingat apakah saat itu aku mampu menjelaskan semua yang kurasakan. Sulit sekali merangkai kata-kata ketika pikiranku sendiri masih berantakan.
Melihat kondisiku, mereka menyarankan agar aku dibawa ke Jakarta dan tinggal bersama mereka untuk sementara waktu. Di rumah, aku harus berhadapan dengan tatapan tetangga, pembicaraan orang-orang, dan berbagai kemungkinan gunjingan tentang penangkapan Farhan. Aku tidak lagi merasa nyaman berada di lingkungan yang selama ini kukenal. Setiap orang yang melewati rumah bisa membuatku bertanya-tanya tentang apa yang mereka pikirkan mengenai diriku dan keluargaku.
Akhirnya, aku dibawa ke Jakarta dan tinggal di rumah mertuaku. Saat itu, aku tidak tahu apakah berpindah tempat akan membuatku merasa lebih baik. Aku hanya ingin berada di tempat yang tidak terus-menerus mengingatkanku pada kejadian di rumah. Aku juga berharap, dengan tinggal bersama keluarga Farhan, mungkin aku akan lebih mudah mendapatkan kabar tentang suamiku.
Namun, berpindah ke Jakarta ternyata tidak serta-merta membuat keadaanku membaik. Secara fisik, aku memang sudah berada jauh dari rumah yang sebelumnya dipenuhi wartawan dan tatapan orang-orang. Tetapi pikiranku masih tertinggal pada kejadian-kejadian yang kualami.
Aku masih sering menangis dan melamun dengan tatapan kosong. Hal-hal kecil bisa membuatku kembali teringat pada Farhan dan keadaan yang sedang kami hadapi. Aku tidak tahu harus menyalurkan semua perasaan itu ke mana. Yang paling menyulitkan, aku tidak mendapatkan kepastian mengenai keadaannya. Aku tidak tahu bagaimana kondisinya, apa yang sedang terjadi selama ia menjalani pemeriksaan, ataupun berapa lama proses tersebut akan berlangsung.
Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan. Aku sudah mendapatkan diagnosis depresi mayor, tetapi mengetahui nama dari kondisi yang kualami tidak langsung membuatku memahami bagaimana cara melewati semua ini. Aku masih kehilangan pegangan, terus menunggu kabar suamiku, dan belum tahu bagaimana kehidupanku akan berjalan setelah kejadian tersebut.
Sekitar dua bulan berlalu sejak Farhan dibawa ke Jakarta. Selama waktu itu, aku masih menjalani hari-hari dengan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Aku hanya bisa menunggu kabar sambil berusaha menjalani hari-hari di rumah ibu dan bapak mertuaku.
Sampai akhirnya, setelah penantian yang terasa begitu panjang, aku mendapatkan kabar bahwa aku bisa menjenguk Farhan di Cikeas untuk pertama kalinya.
Kabar itu membuatku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Selama dua bulan, aku hanya bisa membayangkan keadaannya tanpa benar-benar mengetahui bagaimana ia menjalani hari-harinya di sana. Aku berkali-kali bertanya-tanya apakah ia baik-baik saja, apakah ia memikirkan keadaanku, dan apa yang akan terjadi pada kehidupan kami setelah semua ini.
Kini, untuk pertama kalinya sejak penangkapannya, aku memiliki kesempatan untuk melihatnya secara langsung. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan dan banyak hal yang ingin kudengar darinya. Namun, di antara semua pertanyaan itu, aku belum tahu harus memulai dari mana ketika akhirnya berhadapan dengannya nanti.
Yang kutahu, setelah dua bulan penuh ketidakpastian, aku akan segera bertemu lagi dengan suamiku.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar