Obrolan Mantan-Mantan Napiter tentang Program Deradikalisasi

By

Seorang mantan narapidana terorisme (napiter) yang tinggal di Kota Semarang, sempat bercerita panjang lebar kepada saya. Dia merasa “jenuh” dengan program-program deradikalisasi yang dilakukan pemerintahan.

“Kegiatannya itu-itu saja, kita dikumpulkan, biasanya di hotel lalu diceramahi, acaranya biasanya 2 sampai 3 hari,” cerita dia.

Materi ceramahnya, kata dia, itu-itu saja. Dari tahun ke tahun tidak ada perubahan berarti. Dia bisa bercerita seperti itu karena memang sudah bertahun-tahun rutin diundang dan menghadiri kegiatan yang digelar pemerintah Indonesia itu.

Suatu waktu ketika acara tersebut digelar, dia ini sempat berbicara di forum tentang “kejenuhannya”.

“Kita ini ingin berbuat sesuatu yang lebih, bermanfaat di masyarakat. Kita ini ya cinta NKRI walaupun dulu memang sempat di jalan yang keliru. Tapi apa ya cinta NKRI itu hanya ditunjukkan dengan mencium bendera (merah putih), lalu bareng-bareng ikrar setia?,” jelasnya ketika itu.

Saya bisa menuliskan kejenuhannya itu karena ketika itu juga sempat mengikuti jalannya acara.

Ketika itu sore hari. Malamnya, saya dan beberapa teman sempat kumpul-kumpul dengan mereka yang diundang kegiatan tersebut. Mantan-mantan napiter.

Nah, mantan napiter yang tadi sempat mengutarakan “kejenuhannya” di forum itu juga ikut mengobrol.

Obrolan ngalor ngidul terjadi.

“Kalau saya ya, kalau ada (uang) ya saya terima saja, tanda tangan beres,” celetuk mantan napiter lainnya.

Obrolan terus berlanjut. Bahkan sampai pindah tempat di warung lesehan depan hotel, sampai hampir Subuh. Lebih dari 10 orang kami saat itu. Ada yang baru beberapa bulan bebas, ada yang sudah bertahun-tahun lalu bebas.

Obrolan di situ lebih “cair”. Tak melulu membahas acara di forum-forum. Rata-rata mereka bercerita kehidupan pribadinya pasca-bebas. Ingin fokus membesarkan usaha untuk mereka yang dulu memang punya usaha sebelum ditangkap Densus 88, pun ada yang ingin merintis usaha baru.

“Yang jelas saya ini ingin punya penghasilan tetap, mudah-mudahan usaha saya lancar-lancar. Kan kebutuhan banyak, untuk orangtua, keluarga, anak-anak sekolah,” ujar salah satu mantan napiter yang duduk persis di depan saya.

 

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like