Perubahan Penampilan Kelompok Radikal di Kampus Perlu Perhatian Khusus

By

Paham radikalisme menyasar anak-anak muda tak terkecuali di lingkungan kampus perlu mendapat perhatian. Perubahan pola kelompok seperti itu menjadi sangat milenial perlu cara-cara kebaruan untuk menangkalnya.

Hal itu diungkapkan Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Mabes Polri Brigjen Pol Umar Effendi saat menjadi pembicara kegiatan focus group discussion (FGD) bertema “Pendidikan Budaya Anti Radikalisme Bagi Mahasiswa Universitas Diponegoro” yang digelar secara daring, Selasa 4 Agustus 2020.

“Perubahan mode ini perlu diatensi, sekarang kelompok-kelompok itu tidak lagi tonjolkan penampilan fisik, mohon maaf tidak lagi jenggot, cingkrang, sekarang ada yang juga pakai celana jeans ketat,” ungkap Umar.

Dia tak menampik adanya paham-paham radikal yang menyasar para mahasiswa-mahasiswi di kampus. Dia memberi contoh, di wilayah Depok Jawa Barat bahkan sudah ada ‘home base’nya. Anggota yang tidak hadir saat pertemuan rutin akan dicari, bahkan dipaksa untuk terus ikut pertemuan rutin. Dia menyebutkan, mereka yang sudah masuk akan sulit ke luar.

“Bahkan ada aplikasi untuk pacaran yang kekinian, sangat milenial, bahkan mereka bahas bagaimana menikah saat kuliah. Kerawanan-kerawanan di kampus seperti ini perlu diatensi,” lanjutnya yang pada kegiatan itu mewakili Kabaintelkam Komjen Pol Rycko Amelza Dahniel yang berhalangan hadir.

Sementara penyebab adanya seperti itu, sebut Umar, di antaranya; soal gender, tanah kelahiran hingga agama.

“Soal agama ini yang tertinggi karena global, misalnya Islam ya Islam global, Kristen ya Kristen global,” jelasnya.

Umar juga mengemukakan sejarah radikalisme terorisme di Indonesia mulai meningkat ketika Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir ada di Malaysia, tahun 1985. Mereka adalah tokoh Darul Islam/Negara Islam Indonesia.

Di Malaysia, sebut Umar, mereka membentuk Jamaah Islamiyah tujuannya membentuk negara khilafah Daulah Islamiyah. Pada perjalannya dua tokoh itu berbeda pandangan dan pola, Abu Bakar Baasyir cenderung ke aksi teror, sementara Sungkar cenderung memakai jalan dakwah.

“Tapi tujuannya sama. Ini yang sampai sekarang masih berlangsung. Nah pola di kampus inilah yang diinginkan Abdullah Sungkar. Ini perlu kontrol ketat kegiatan kampus,” kata Umar Effendi.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar, mengemukakan 60 persen penduduk Indonesia atau sekira 175 juta penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Dalam sehari, rata-rata mereka selama 7 jam mengakses informasi dari internet.

“Radikalisme di dunia maya perlu mendapat perhatian, karena ini strategis untuk sebarkan radikal teror, radikal intoleran, tak hanya dari dalam negeri (sumbernya) tapi juga manca negara, mereka menyebarkan permusuhan,” kata Boy.

Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama, menyebutkan radikalisme tidak berakar pada satu agama saja.

“Hati-hati radikalisme di kampus, karena kelompok ini pandai berkamuflase, bisa masuk BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), Senat, seolah-olah rapat-rapat biasa,” kata Prof. Yos Johan.

Dia tak menampik adanya paham-paham seperti itu yang terus berusaha masuk ke kampus yang dipimpinnya.

“Kami mengendus seperti itu, ada yang ingin kuasai tempat ibadah, tapi kami lakukan pendekatan persuasif, bisa selesai. Saya sempat sebar nomor saya (HP) ke mahasiswa, itu efektif, informasi-informasi langsung masuk ke saya, datanya lengkap, foto-fotonya, ini kami koordinasi dengan pihak keamanan. Tim anti radikalisme juga sudah dibentuk,” tutupnya.

 

FOTO RUANGOBROL.ID/EKA SETIAWAN

Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen dan Keamanan Polri, Brigjen Pol. Umar Effendi saat menyampaikan materi focus grup discussion (FGD) bertema “Pendidikan Budaya Anti Radikalisme Bagi Mahasiswa Universitas Diponegoro” yang digelar melalui aplikasi Zoom, Selasa 4 Agustus 2020.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like