imam-junaid-al-baghdadi-ruangobrol

Kisah Imam Junaid: Ahli Tasawuf Asal Baghdad

By

Imam Junaid lahir dengan nama Junaid bin Muhammad Az-Zujjaj. Bapaknya bernama Muhammad, seorang penjual kaca. Seluruh hidupnya dihabiskan di Irak. Ia adalah ahli fikih sekaligus ahli tasawuf yang tersohor dalam Islam.

Sepanjang hidupnya, ia berguru kepada pamannya As-Sarri As-Saqthi, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Muhammad bin Ali Al-Qashshab. Untuk bidang fikih, ia mengikuti mazhab Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i.

Berbeda dari kebanyakan ulama pada era itu yang cenderung ekstrem sebagai ahli fikih atau ahli tasawuf, Junaid mengambil kedua jalan itu sekaligus. Ini membuatnya sebagai panutan dan ucapannya diterima banyak kalangan. Ia pun memiliki banyak karamah.

Keistimewaan Junaid lantaran keistiqmahannya dalam menjalankan ilmu dan amal. Hal ini bisa diketahui dari kesaksian ulama-ulama terkemuka, seperti Imam Nawawi Al-Bantani, Syekh Ibrahim Al-Laqqani, dan Syekh M Ibrahim Al-Bajjuri.

Syekh Ibrahim al-Bajjuri menyebut Imam Junaid berpendapat jalan menuju Allah tidak dapat ditempuh kecuali oleh mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa Imam Junaid adalah seorang ahli tasawuf beraliran sunni.

Keteguhannya menjalankan tasawuf dan fikih secara bersamaan tercermin dari pendapatnya yang dikutip Syekh Abdul Wahhab As-Syarani dalam kitab At-Thabaqul Kubra. “Bila kau melihat sufi mengabaikan lahiriyahnya, ketahuilah bahwa batin sufi itu runtuh,” katanya.

Begitupun Imam Junaid menyayangkan umat Islam yang hanya mengutamakan sisi lahiriah saja melalui formalitas hukim fikih, tapi mengabaikan aspek batiniah. Sebab aspek batiniah adalah roh dari kehambaan manusia kepada Allah.

Imam Junaid wafat pada Sabtu, 297 H. Makamnya di Baghdad Irak. Sampai kini ajarannya tetap dianut banyak umat Islam di dunia. Salah satunya menjadi landasan tasawuf Nadhlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di dunia. Sebab beliau mengajarkan berlaku moderat, salah satu kunci menjalankan Islam Rahmatan lil Alamin. Wallahu a’lam bi sawab.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like