kisah-romantis-nabi-muhammad-dan-istrinya

Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Istrinya

By

Nabi Muhammad SAW adalah sosok paripurna. Ia pemimpin agama, pemimpin negara, sampai pemimpin pasukan perang yang tangguh. Namun yang jarang disebut adalah ia pemimpin keluarga dan suami romantis bagi istri-istrinya.

Siti Aisyah RA banyak meriwayatkan kisah-kisah romantis selama menjadi istri Nabi Muhammad. Begitupun perawi hadits lainnya. Berikut kami sarikan dari riwayat-riwayat hadits sahih kisah romantis Nabi Muhammad dan istrinya.

Sebagai seorang suami dan pecinta, Nabi Muhammad memiliki panggilan sayang kepada istrinya. Khususnya ke Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan Nabi Muhammad memanggil Aisyah dengan “Ya Aisy”. Sementara Ibnus Sunni meriwayatkan nabi memanggil Aisyah dengan “Ya Uwaisy.”

Kedua panggilan itu adalah pemenggalan dari nama panjang Aisyah. Dalam budaya masyarakat Arab, pemenggalan nama sebagai panggilan adalah bentuk kasih sayang dan manja seseorang kepada orang itu. Artinya, panggilan “Ya Aisy” dan “Ya Uwaisy” adalah cara nabi bermanja kepada Aisyah.

Dalam riwayat Ibnu Majah, Nasai, Baihaqi dan beberapa perawi hadits lain, Nabi Muhammad juga memanggil Aisyah dengan “ya Humaira’ yang berarti putih kemerah-merahan. Panggilan ini adalah bentuk kekaguman nabi kepada kecantikan Aisyah.

Tak hanya kepada Aisyah, nabi pun romantis ke Shofiyah. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhori dikisahkan nabi pernah menjadikan pahanya sebagai pijakan kaki Shofiyah ketika naik unta.

Dalam hadits riwayat Nasa’i diceritakan Nabi Muhammad pun mengusap air mata Shofiyah ketika menangis. Saat itu Shofiyah bersedih lantaran untanya terlalu lambat. Kalau Anda mengusap air mata istri atau justru membuatnya menangis nih? hehehe

Siti Aisyah pernah meriwayatkan hadits yang bercerita bahwa nabi selalu mencium mesra istri-istrinya tatkala bertemu. Begitupun nabi selalu membelai istri-istrinya dengan mesra.

Dari kisah romantis Nabi Muhammad kepada istri-istrinya ini, kita bisa mencontoh bahwa seorang suami sudah semestinya menjadikan pendampingnya ratu dan menghindari kekerasan dalam rumah tangga. Lebih dari itu, kisah-kisah ini menunjukkan Nabi sebagai seorang yang berpemahaman gender.  

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like