Kawah Candradimuka Bernama Pusderad: Perjalanan Menata Ulang Keyakinan dan Diri.

Tokoh

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Baca kisah sebelumnya: Dikeluarkan dari Grup WhatsApp: Luka Kecil yang Mengingatkanku pada Masa Lalu

Banyak orang berpikir bahwa setelah seseorang mengucap ikrar kembali ke NKRI, maka selesailah semua proses deradikalisasi. Seolah residu pemikiran radikal bisa hilang seperti debu yang disapu angin. Tapi setelah semua yang kulalui, aku tahu kenyataannya tidak sesederhana itu. Pikiran manusia tidak bekerja seperti saklar lampu, yang saat tombol “on” ditekan, gelap yang membimbing ke radikalisme menghilang, berganti cahaya yang membawa kesadaran. Apa yang kupeluk bertahun-tahun sebagai “kebenaran”, ternyata tidak bisa langsung runtuh hanya karena satu kalimat ikrar.

Ketika aku dipindahkan ke Lapas Khusus Kelas IIB Sentul, tempat yang sering disebut sebagai Pusat Deradikalisasi BNPT, ada satu hal yang aku sadari. Perjalanan yang paling sulit bukan memperbaiki hubungan dengan negara atau masyarakat, tapi memperbaiki hubungan dengan diriku sendiri. Ya, residu pemikiran, emosi, amarah, dan kebencian, masih ada dikepalaku. Tapi lapas Sentul bukan lapas biasa. Dulu, tempat itu tak pernah ada di Google maps. Ia bukan tempat orang bisa berkumpul secara acak. Ia adalah semacam kawah candradimuka, tempat negara ingin melihat apakah ikrarku sungguh-sungguh atau hanya pelarian dari horornya Nusakambangan. Tempat di mana aku harus berhadapan dengan keyakinan yang dulu kujaga mati-matian, dan menelanjangi satu per satu ilusi yang pernah kupeluk.

Aku tiba di sana akhir 2018, sebagai angkatan ketiga. Wajah-wajah yang kukenal dari rutan Mako Brimob kembali muncul dengan bekas perdebatan panjang, bekas amarah, bekas luka… tapi juga bekas kebersamaan saat kami masih mengarungi dunia yang gelap. Aku datang dengan harapan bisa dibina dengan lebih intensif, mendapat ilmu, mendapat arahan. Tapi aku tak tahu bahwa proses yang kutunggu-tunggu itu justru akan mengguncang batinku yang paling dalam.

Kesunyian yang Menyuarakan Banyak Hal

Di lapas umum, hidup terasa lebih cair. Banyak orang, banyak cerita, banyak kegiatan. Bahkan dengan status kasusku yang berat, para petugas tetap cenderung lebih lembut, mungkin karena mereka melihat kasusku yang lebih menakutkan, atau mereka juga enggan jika terjadi keributan dan harus menghadapi ratusan narapidana lain. Tapi masuk ke Lapas Sentul adalah seperti memasuki dunia baru yang asing dan dingin. Setiap orang menempati satu kamar untuk satu orang, seperti di Lapas High-risk Nusakambangan. Tapi di sini, tak ada gembok yang terpasang di pintu, semua pintu dikontrol jarak jauh. Setelah Maghrib, pintu ditutup, dan setelah itu hanya ada aku, pikiran, juga imajiku.

Kesunyian kamar itu memaksa aku untuk menghadapi sesuatu yang sejak lama kuhindari, diriku sendiri. Tak ada suara obrolan untuk mengalihkan perhatian. Tak ada kegiatan spontan.
Tak ada keramaian yang bisa kupakai sebagai alasan untuk tidak berpikir. Jeruji, membuatku khawatir jika satu saat aku harus bicara dengan semut, atau pena. Di sana, aku duduk menatap dinding yang sama setiap hari. Dan di dinding itu, aku merasa seperti melihat refleksi masa laluku,
arep-arepku, kebodohanku, dan semua keputusan buruk yang membawa aku ke titik itu.

Hari-hari pertama adalah yang paling berat. Kesunyian itu seperti pisau kecil yang menajam setiap malam. Tapi justru dari sanalah perjalanan penemuan diri itu dimulai.

Dari Jenuh Menjadi Terbuka

Awalnya kegiatan kami hanya olahraga, futsal, tenis meja, badminton, voli. Di minggu pertama mungkin terasa menghibur, tapi perlahan semuanya menjadi repetisi. Orang yang kutemui pun itu-itu saja, percakapan berputar pada tema yang sama, hari-hari berjalan seperti kaset yang terus diputar ulang, meski pitanya sudah sering kusut dan nyangkut di radio.

Sampai akhirnya masa pembinaan pun dimulai. Awalnya aku pikir pembinaan itu akan sama seperti lapas lain, sekadar ceramah normatif dan menjenuhkan. Tapi ternyata aku salah. Di Lapas Sentul, pembinaan disusun seperti kuliah serius, dan pelatihan profesional.

Senin: wawasan kebangsaan dengan dosen-dosen universitas ternama.

Selasa: pendalaman agama dengan ulama, akademisi, dan tokoh agama.

Rabu: kewirausahaan bersama entrepreneur dan dinas terkait.

Kamis: psikologi dengan profesor dan para psikolog lapangan.

Di minggu-minggu awal, kelas-kelas itu layaknya medan tempur. Diskusi sering membara. Ada teman-teman yang masih keras kepala mempertahankan pemahaman lama. Ada yang menyerang konsep negara, demokrasi, bahkan menantang narasumber agama dengan argumen-argumen yang dulu juga pernah aku yakini. Tapi makin lama aku mengikuti sesi-sesi itu, makin banyak hal yang menggoyahkan batu-batu keras dalam kepalaku. Diskusi yang awalnya hanya ingin kubantah, tiba-tiba membuka celah baru. Ilmu yang dulu kutolak mentah-mentah, kini justru terasa sebagai jawaban yang selama ini tidak kutemukan.

Sesi psikologi adalah yang paling menamparku. Aku belajar mengenali pola pikir keliru, luka masa lalu, bias-bias kognitif, self-esteem, hingga mekanisme pertahanan diri yang selama ini kubungkus sebagai “kebenaran agama”. Hingga di titik tertentu, aku bahkan bisa menertawakan diriku sendiri. Bukan menertawakan masa lalu sebagai hal yang lucu, tapi menertawakan betapa bodohnya aku dulu, bertaruh begitu banyak untuk sesuatu yang keliru.

Solidaritas yang Berubah Bentuk

Yang paling menghangatkan adalah hubungan antar-napi. Berbeda jauh dari Mako Brimob yang penuh ketegangan, gesekan, dan saling mengkafirkan, di sini suasana lebih lembut, lebih manusiawi. Jika ada teman yang dikunjungi keluarganya yang dekat, ia akan membagi makanan ke napi lain yang rumahnya jauh, termasuk dari luar Jawa. Kami makan bersama, bercerita, tertawa, mengeluh, berbagi rokok, berbagi kisah, hal-hal kecil yang membuat rasa kesunyian tidak terlalu menusuk.

Kami sama-sama sedang belajar berubah. Dan ada sesuatu yang tumbuh pelan-pelan di antara kami, “empati”.

Momen Tak Terduga dari Ruang Binadik

Suatu siang, aku dipanggil ke ruang Binadik. Aku masuk dengan santai, mengira hanya soal administrasi. Tapi yang kuterima justru kabar yang membuat dunia rasanya berhenti sejenak, karya tulisku memenangkan Juara 3 Lomba Karya Tulis Nasional antar narapidana, dalam rangka Hari Dharma Karya Dhika 2017. Aku ingat, aku hanya terdiam beberapa detik. Bukan karena itu juara tiga, atau bukan karena itu lomba nasional. Tapi karena untuk pertama kalinya sejak aku kehilangan banyak hal dalam hidupku, nama baik, kepercayaan, masa depan, aku merasa bahwa ada yang menegaskan bahwa aku masih punya nilai. Bahwa aku masih bisa menghasilkan sesuatu. Bahwa aku masih bisa berkarya. Dan bahwa aku belum selesai.

Kepala Binadik tersenyum padaku dan berkata, “Teruskan menulis, untuk masa depan.”

Kalimat itu sederhana, tapi bagiku seperti pintu kecil yang membuka ruang harapan yang selama ini tersembunyi.

Bendera yang Berkibar di Tangan yang Pernah Salah Arah

Satu momen lain yang tak akan pernah kulupakan adalah ketika aku ditunjuk menjadi petugas pengibar bendera pada upacara 17 Agustus 2019. Aku sempat terpaku lama sebelum upacara dimulai. Aku, yang dulu memandang negara dengan cara yang keliru. Aku, yang pernah salah arah memahami agama dan perjuangan. Aku, yang pernah melukai banyak orang. Kini dipercaya mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Di hari upacara itu, halaman lapas terasa hening. Matahari belum sepenuhnya panas, tapi suasana sudah menggigilkan dadaku. Ketika musik Indonesia Raya mengalun, aku menggenggam tali bendera itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Saat bendera naik perlahan, tak terasa air mata mulai menetes. Aku seperti melihat potongan hidupku berkelebat. Kesalahan, penyesalan, wajah para korban bom, keluarga, ruang sel yang sunyi, kelas demi kelas yang membongkar pikiranku, dan orang-orang yang percaya aku masih bisa berubah. Di momen itu, aku merasa sesuatu di dalam diriku luruh. Seolah aku mengembalikan sesuatu yang dulu kutinggalkan. Aku berdiri tegak bukan sebagai napi, bukan juga sebagai mantan teroris. Tapi sebagai manusia yang sedang mencoba menjadi lebih baik.

Bebas, Bukan Berarti Selesai

Aku tinggal di Lapas Sentul hampir satu setengah tahun hingga akhirnya bebas pada April 2020. Ketika pintu itu dibuka, ada rasa lega, tapi juga rasa takut, takut dunia di luar tidak siap menerimaku, takut masa laluku membuntutiku, takut aku tidak sanggup menjaga perubahan ini. Tapi satu hal yang selalu kuingat, lapas Sentul bukan sekadar tempat hukuman. Lapas Sentul adalah tempat aku belajar menjadi manusia kembali. Karena dari tempat yang sunyi itulah aku belajar memaafkan diriku sendiri, menata ulang cara pandangku, dan memahami bahwa perubahan tidak lahir dari ceramah atau ancaman, tapi dari keberanian menghadapi sisi gelap diri sendiri.

Di sana, aku belajar pelan-pelan berjalan keluar dari bayangan. Dan mungkin, itu adalah bentuk kemerdekaan yang paling pertama kuraih.[]



Ilustrasi: By AI (Gemini)

Komentar

Tulis Komentar