Kawasan Terpadu Nusantara Memadukan Pembangunan Ekonomi Edukasi dan Tourisme

By

Program KTN adalah simbol perlawanan terhadap virus intoleran dan terorisme.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafly Amar mengatakan Kawasan Terpadu Nusantara (KTN) merupakan kelanjutan dari program deradikalisasi di Lembaga Pemasyarakatan.

Menurut Boy, KTN memadukan semangat pembangunan ekonomi edukasi dan tourisme. KTN merupakan bentuk negara hadir dalam proses deradikalisasi berbasiskan kesejahteraan dengan konsep pentahelix yang melibatkan banyak pihak.

Menurut Boy, keterlibatan banyak pihak dalam program KTN adalah simbol perlawanan terhadap virus intoleran terorisme yang menjadi musuh bersama. Sejauh ini ada dua KTN yang sudah dibuat, yaitu di Kecamatan Turen Kabupaten Malang kemudian di Sumbawa Besar Nusa Tenggara Barat.

“Yang ketiga ini baru kami resmikan di Desa Harumansari di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Kepada masyarakat yang memiliki lahan, BNPT ucapkan terima kasih yang sudah terbuka untuk kegiatan kita di sini. Kita bukan untuk menguasai dan memiliki lahan,” kata Boy dalam acara soft opening KTN seluas 10 Hektar di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat pada Sabtu (2/7/2022).

Lebih lanjut Boy menambahkan jika di setiap KTN nantinya ada koperasi. Sehingga dia berharap koperasi yang dikelola mendapatkan unit usaha untuk mendapatkan penghasilan. Sehingga diharapkan ada kemandirian ekonomi. Selain itu dia berharap dari KTN ini mantan napiter yang akan kembali ke masyarakat tidak mengalami penolakan lagi di masyarakat.

“Kami tidak berharap para mantan napiter susah mengalami reintegrasi di masyarakat. Sehingga masalah psikologis para mantan napiter dalam mendapatkan pekerjaan tidak terjadi lagi. Kami harap kolaborasi dengan kementerian, lembaga, bisa kaitan dengan PU, Kemensos, serta yang punya tanggung jawab pembinaan masyarakat,” imbuhnya.

Boy menjelaskan pemilihan wilayah Garut di Jawa Barat menjadi salah satu lokasi pembangunan KTN adalah untuk menekan potensi yang mungkin saja muncul. Sehingga program seperti ini disiapkan untuk membangun kewaspadaan bersama terhadap radikalisme terorisme.

Dia berharap dengan kehadiran KTN Garut, semua pihak dapat merasakan manfaatnya terutama bagi para mantan narapidana terorisme (napiter). Agar mereka  dapat berbaur serta diterima dengan baik oleh masyarakat umum.

“Dengan KTN ini diharapkan proses reintergrasi mitra deradikalisasi dengan masyarakat dapat berjalan dengan baik, sehingga mereka diterima baik oleh masyarakat umum,” pungkas Mantan Kapolda Papua itu.

Sementara itu Wakil Bupati Garut, H. Helmi Budiman merasa bangga terdapat KTN di wilayah Garut. Menurutnya hal ini menandakan bahwa Pemda dan masyarakat Garut sepakat menolak seluruh bentuk ideologi kekerasan yang memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Dia menegaskan jika masyarakat Garut menolak terorisme di Indonesia.

“Kami bisa berbangga dengan hadirnya KTN di Desa Harumansari Garut ini. Kami tidak ingin ada terorisme di Indonesia,” jelasnya.

BACA JUGA: Obrolan Mantan-Mantan Napiter tentang Program Deradikalisasi

Sedangkan Yoki Candra salah seorang mitra deradikalisasi berharap KTN Garut sebagai sarana reintergrasi sosial. Namun ia mengakui tidak mudah untuk menjadi seorang mitra deradikalisasi dengan stigma masyarakat. Dengan hadirnya KTN dirinya dapat berkontribusi untuk membangun kemandirian ekonomi dan berbaur dengan masyarakat sekitar.

“KTN ini terobosan bagus karena kami yang mantan napiter ini bisa menjalin sinergi dengan masyarakat,” tegas Yoki. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like