Susahnya Jadi Pendengar yang Baik

nurdhania
nurdhania
3 Min Read

Saya lebih suka bercerita daripada mendengarkan. Itulah yang membuat saya sampai saat ini masih sulit untuk jadi pendengar yang baik. Padahal, dengan mendengarkan dari berbagai sisi, kita jadi tak mudah menghakimi orang lain.

Namun, dari perjalanan hidup saya yang panjang di masa lalu, sedikit demi sedikit saya mulai belajar untuk menjadi active listeners bagi saudara, keluarga, dan teman saya. Tapi lagi lagi, saya harus mengakuinya bahwa itu sulit. Terkadang di saat mereka sudah bercerita panjang, saya memotong untuk langsung menanyakan dan menceritakan kisah saya, karena ada kemiripan dengan ceritanya. Yah, gagal deh.

“Menjadi pendengar itu gampang, kok. Tinggal pasang kuping aja”. Hmm kalau cuma begitu nanti jadi masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Mendengar seperti itu tentu mudah. Kita bisa dengar suara motor yang lewat, suara burung berkicau di atas pohon. Tapi, mendengarkan adalah suatu proses intelektual dan emosional yang melibatkan pendengaran, perasaan, perhatian, pemahaman, serta daya ingat. Selain itu, juga dituntut adanya kemauan, motivasi, kerelaan dan kesabaran

Ada banyak hal yang dilibatkan dalam proses mendengarkan. Contohnya seperti kerelaan dan kesabaran, tidak salah jika orang yang bisa menjadi pendengar yang baik bisa dimasukan dalam kategori “pahlawan”.

Tentu teman-teman pernah mengalaminya sendiri. Ketika kita sedang terpuruk, banyak sekali beban atau uneg-uneg dalam hati dan pikiran namun bingung harus dituangkan ke mana. Lalu, keluarga atau sahabat hadir dan bersiap mendengarkan segala keluh kesah kita, rasanya plooong..

Bagi saya, mereka adalah pahlawan yang dikirim Tuhan untuk menolong kita.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, mendengarkan melibatkan pendengaran, perasaan, perhatian, pemahaman, serta daya ingat. Karena biasanya ada beberapa individu yang butuh feedback, butuh arahan, saran-saran, dan support. Jika kita tak mendengarkan atau memperhatikan dengan baik, bagaimana bisa memberikan feedback atau support?

Menjadi pendengar yang baik memang tidak hanya pada orang yang kita kenal. Untuk memulai suatu perkenalan pun bisa.

Ketika saya dan ibu sedang menunggu mendapat giliran panggilan dokter, ada seorang pasien yang bertanya tentang sakit ibu saya. Ternyata penyakit yang mereka derita ada kemiripan. Pasien tersebut mulai menceritakan masalah dirinya, minum obat apa, terapi apa, dan sebagainya. Ibu saya mendengarkan pengalaman pasien tersebut dengan seksama. Saya juga sedikit “menguping” jadi bisa tahu. Lewat cerita pasien tersebut kami pun mendapat informasi dan ilmu baru.

Mereka pun terlihat aktif berdiskusi. Karena, jika mendengarkan betul-betul, lawan bicara kita akan merasa didengar dan dihargai.

Ketika kita mendengarkan kisah seseorang dan memiliki kesamaan kita jadi merasa tidak sendiri. Seperti berbagi beban dan mencoba untuk pulih atau sembuh bersama.

Manfaat menjadi pendengar yang baik tentu saja tidak hanya untuk si lawan bicara. Namun, untuk si pendengar juga. Dengan mendengarkan kita tidak mudah menghakimi orang lain, kita bisa memahami sudut pandang orang lain dan merespons dengan empati.

Mungkin, inilah mengapa kita diciptakan dua telinga dan satu mulut. Kita harus lebih banyak mendengar daripada banyak bicara.

Share this Article
Posted by nurdhania
Follow:
Tell stories to the worldwide
Leave a comment