indonesia-santuy-darurat-sipil-ruangobrol

Butuh Santuy Saat Darurat Sipil COVID-19

By

Darurat Sipil telah ditetapkan oleh Presiden Jokowi kemarin. Ini telah diprotes di artikel sebelumnya, tapi, husnuzannya, mungkin Pak De cuma pengen cari yang beda aja.

Masyarakat bisa saja mengirim petisi lewat charge.org atau bikin hastag #shameonyou di media sosial. Jempol pengguna internet tentu telah lihai melakukan itu bahkan menghujat sekalipun. Jagonya!

Pasca merebaknya pandemi COVID-19 memang hidup ini serasa kelam, gelap dan sungguh menyeramkan. Sebenarnya gejalanya hanya semacam flu tapi versi parah. Jika dibiarkan, maka akan menyebabkan kematian karena menyerang paru-paru. Belum lagi penyebarannya sangat mudah sehingga perlu kewaspadaan ekstra. Ini semacam playboy yang lagi bergerilya di media sosial dan penuh kata-kata manis sadis, keliatan biasa aja. Tapi kalau udah terjerat, bisa menyebabkan sakit berkepanjangan. Bahkan bisa menyebabkan kematian.

Saking kelamnya, ramai-ramai orang melakukan panic buying alias ngeborong karena panik. Bukan cuma bahan makanan, tapi juga masker, APD dan sarung tangan bahkan hand sanitizer dan alkohol untuk mensterilkan handphone.

Seringkali insecurities atau perasaan tidak aman membuat orang semakin egois, individualis dan barbar. Atas alasan menyelematkan diri sendiri, rela membahayakan orang lain seperti dokter yang keduluan beli APD oleh pasutri yang mau belanja ke supermarket. Dibilang harus di rumah, malah ke supermarket. Padahal kan ada bangak fitur ojek online yang akan dengan senang hati melayani umat mager.

Kasus ini sebenarnya berasal dari Ibukota. Tapi karena negara ini punya pusat pemerintahan dan ekonominya menyatu, akhirnya tersebar se-Indonesia Raya. Mereka yang positif di Sukabumi saja, terdeteksi pulang dari Ibukota. Artinya emang pandemi ini sebenarnya di Ibu kota. Jadi, kalau mau lockdown ya se-Jabodetabek aja. Selain itu, kembali santuy (re: santai) untuk tetap menjaga kesehatan.

Lagian, Pasien 01, 02 dan 03 tentu bukanlah benar-benar pasien pertama. Tapi yang positif setelah melapor iya. Ingat gak saat itu kita masih bisa santuy dengan bilang COVID-19 bakal sembuh dengan indomie dan tolak angin. Hmmm, benarkah begitu?

Indonesia yang terbiasa santuy kini harus mulai dilestarikan kembali. Panik justru akan bikin stres, bikin imun drop dan merugikan orang lain.

Darurat Sipil, katanya cicilan diringankan, suku bunga turun, listrik turun dan semoga kuota internet gratis juga menyusul. Yang kehilangan pekerjaan bakal dikasih Kartu Indonesia Kerja katanya noh. Jadi, keep santuy!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like