Dunia saat ini tengah menghadapi perpindahan zaman 4.0 menuju 5.0. Society 5.0 ini dikembangkan oleh Jepang dimana masyarakat akan hidup berbasis teknologi. Pada zaman ini nantinya manusia akan menggunakan artificial intelligence. Nantinya akan ada keseimbangan antara manusia dan teknologi sehingga tidak ada kesenjangan karena teknologi. Nah bingung kan? Lalu bagaimana Netizen Indonesia?
Nampaknya, kemajuan teknologi Indonesia saat ini tidak berbanding dengan kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM). Netizen lebih suka percaya judul dibanding isi berita itu sendiri. Belum lagi, malesnya bukan main untuk verifikasi fakta. Akhirnya, hoax semakin mudah dipercaya, lebih jauhnya juga modus-modus penipuan online. Dampaknya masyarakat tidak mau memahami fakta terjebak pada berita yang belum tentu benar bahkan palsu.
Dikutip dari tulisan Paul Gilster (1997) dalam buku Digital Literacy, Literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas melalui piranti computer. Pengertian ini pun masih relevan sampai saat ini meskipun media perantara informasi gadget sudah ikut mendominasi.
Terkait dengan literasi digital di Indonesia, sejak Kemunculan revolusi Industri 4.o menjadikan segala sesuatu semakin dipermudah salah satunya yaitu kemudahan untuk mendapatkan informasi. Salah satu ciri bahwa Negara tersebut sudah memasuki revolusi Industri 4.o adalah Penggunaan Internet of Things (IOT).
Dilansir dari Kompas.com, menurut Sekjen APJII, Henri Kasyfi, dari 264 juta jiwa masyarakat Indonesia, 171,17 juta jiwa (64,8 persen) sudah memakai Internet (data diambil dari periode maret 2019). Beliau juga mengatakan setiap tahunnya penggunaan Internet mengalami peningkatan yang signifikan. Yang menjadi pertanyaan apakah ini pertanda baik atau buruk?
Jawabanya, Ini adalah pertanda baik. Penggunaan Internet tidak terlepas dari kata google. Google adalah sebuah mesin pencari web. Informasi apapun dapat kita temukan di google atau dapat kita katakan google adalah gudang ilmu yang tidak terbatas yang selalu update setiap detik oleh siapa saja dan dimana saja. Hanya saja keberadaan google ini sering di manfaatkan oleh pihak asing untuk menyebarkan berita-berita hoaks demi kepentingan tertentu.
Yang menjadi permasalahannya tingkat literasi masyarakat Indonesia begitu rendah. Berdasarkan laporan Bank Dunia (2018) tingkat buta huruf fungsional (lemahnya kemampuan mencerna informasi) Indonesia adalah 55% persen dari keseluruhan penduduk. Pertumbuhan berita-berita hoaks juga selalu meningkat, masyarakat Indonesia sangat mudah terkena berita hoaks dan jumlahnya terus bertambah.
Sebelum memasuki 5.0, Netizen Indonesia harus memahami 4.0 dengan baik terlebih dahulu terutama kebutuhan literasi digital. Hal ini untuk menjadikan demokrasi Indonesia lebih kuat dan masyarakat bisa menghadapi zaman yang semakin berkembang.
Siapkah Netizen Memahami 5.0?
Otherby Internship 29 Oktober 2019 2:04 WIB
Komentar