MY ACTIVITIES : Identifikasi Offline dan Online (2)

Other

by Arif Budi Setyawan

MY ACTIVITIES :  Identifikasi Offline dan Online (2)

Lalu bagaimana saya mengidentifikasi teman-teman itu  dan menentukan di level yang mana mereka sesuai temuan-temuan selama berinteraksi dengan mereka ? Kedengarannya sepertinya rumit, tapi bagi saya itu sangat mengasyikkan karena saya bisa mengetahui lebih jauh pribadi orang-orang yang saya kenal.

Seiring perjalanan waktu dan bertambahnya pengalaman saya, saya kemudian dapat merumuskan langkah-langkah atau tahapan yang biasa saya lalui untuk dapat mengidentifikasi di level manakah orang yang saya kenal itu. Saya tidak mengikuti sebuah teori apapun, hanya mengikuti insting dan adanya target yang ingin dicapai yaitu memetakan potensi ummat dalam rangka ‘eksperimen menghidupkan jihad’ di Indonesia.

Saya akan memulai dari cara identifikasi offline, karena polanya sebenarnya sama dengan yang saya terapkan di online. Bedanya terletak pada bentuk aktivitasnya dan sifat hubungan pertemanannya. Selain itu juga karena saya mengenal dunia gerakan ‘eksperimen menghidupkan jihad’ adalah berawal dari jaringan offline.

Pertama-tama tentu saja saya harus berkenalan. Perkenalan dengan ‘kawan seperjuangan’ yang baru ini biasanya selalu berawal dari dikenalkan oleh kawan yang sudah saya kenal sebelumnya. Hanya sedikit yang tidak dengan cara ini. Sedikit dari yang tidak itu biasanya saya berkenalan sendiri lewat mIRC atau media sosial, atau ketika bertemu di acara tabligh akbar yang diadakan oleh ikhwan-ikhwan JI di berbagai daerah atau di acara seperti pemakaman Ustadz Mukhlas dan Pak Amrozi.

Orang-orang yang telah saya kenal itu hampir selalu bisa saya jumpai di setiap acara tabligh akbar yang pembicaranya adalah para tokoh JI, terutama pada acara tabligh akbar yang pembicaranya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Jadi, acara tabligh akbar itu menjadi semacam program temu kader dan simpatisan gitu. Di situlah kemudian kami semakin akrab, lalu beberapa di antaranya sampai bertukar nomor HP.

Rata-rata mereka itu jika sudah merasa nyaman dengan seseorang akan mudah memberikan kontaknya apalagi jika ada kepentingan lain seperti urusan peluang bisnis. Tanpa ada kepentingan lain itu pun mereka akan dengan senang hati memberikan kontaknya atas dasar semangat ukhuwwah. Karena bagi para anggota JI, saling membantu dan saling menguatkan sesama ‘saudara seperjuangan’ adalah sebuah kewajiban.

Beberapa orang yang saya miliki nomor kontaknya itu kemudian saya pilihi lagi siapa saja yang paling mudah saya jangkau rumahnya atau tempat usahanya. Saya perlu mengunjungi mereka untuk menjalin ikatan yang lebih kuat dan mengenal lebih jauh serta melihat potensinya. Untuk melihat potensi seseorang itu perlu dilihat kesehariaannya, bisnisnya atau pekerjaannya, dan kegiatannya terkait jamaah selama ini.

Ketika saya berkunjung ke rumah mereka atau tempat kerja mereka, biasanya saya akan mencoba membantu pekerjaan mereka, atau membenahi komputer mereka yang trobel, atau mengajari mereka menggunakan internet, berbagi tips-tips menggunakan komputer, berbagi ‘konten eksklusif’ yang saya dapat dari forum jihadi, dll. Dari situlah kemudian saya mulai punya ikatan dengan mereka karena ada hal yang mereka sukai dari saya, sehingga ketika saya berkunjung lagi di kemudian hari mereka menyambut saya dengan senang hati.

Dari obrolan dan pembicaraan kami yang semakin hari semakin akrab itu, dan dari kegiatan kesehariannya, saya kemudian dapat menyimpulkan bahwa mayoritas mereka adalah simpatisan dan pendukung ‘eksperimen menghidupkan jihad’. Ada juga yang netral tapi sangat sdikit.

Saya juga menemukan bahwa para simpatisan itu sangat mudah berubah menjadi pendukung ketika level ‘eksperimen menghidupkan jihad’ hanya sebatas I’dad seperti acara mendaki gunung, latihan survival di hutan, camping bersama, dan sejenisnya. Tetapi ketika sudah pada level membantu jaringan pelaku amaliyah yang bersifat offensif (menyerang) mereka masih enggan.

Berbeda dengan para pendukung, mereka tidak peduli dengan level ‘eksperimen menghidupkan jihad’ nya, semua mereka dukung. Mau hanya i’dad atau ada jaringan pelaku amaliyah offensif yang butuh bantuan yang bisa mereka lakukan, mereka akan tetap mendukungnya.

Anda mungkin akan bertanya : dari mana saya bisa menyimpulkannya ? In sya Allah nanti kita lanjutkan pada tulisan berikutnya.

(Bersambung, In sya Allah)

Komentar

Tulis Komentar