drama-belanja-covid-19-ruangobrol

COVID-19 Bikin Belanja Penuh Drama

Pikiran negatif dan penuh kecemasan juga memicu paranoid. Sehingga kita cepat matah-marah.

By

Sebulan sudah tim ruangobrol.id melaksanakan Work From Home (WFH). Bekerja di rumah ternyata bukan hal mudah, selain harus menjaga produktifitas, juga harus menghilangkan kebosanan. Untuk mereka yang sering beraktifitas di luar rumah, bukan hal yang mudah menjalani satu bulan penuh di rumah. Termasuk saya.

Berdasarkan aturan #dirumahaja, kita boleh keluar rumah dalam dua kondisi sangat mendesak atau belanja kebutuhan pokok. Sebagai warga Tangsel yang taat, saya tidak keluar rumah. Tapi kali ini saya gunakan hak yang kedua, membeli kebutuhan pokok di supermarket terdekat tentu dengan mengenakan masker.

Kebutuhan pokok terutama sayuran dan buah-buahan cukup tersedia lengkap. Begitu pun dengan daging dan ayam yang nampak masih segar. Biasanya persedian cenderung tidak sepenuh ini, mungkin karena menjelang PSBB Bodetabek.

Saya beranjak ke area lemari pendingin mencari beberapa yogurt melewati area buah-buahan. Sebuah troli menghalangi jalan saya, dengan hati-hati saya lewati agar tak ada yang terjatuh atau tersenggol. Saya buka lemari pendingin dan ‘bluk’ satu buah naga jatuh di area yang saya lewati.

“Mbak, kalau jatuh tuh diambil, taruh lagi ditempatnya. Enggak tanggung jawab!” Kata seorang ibu bermasker hitam ketus kepada saya sambil menaruh buah tersebut.

“Tadi saya lewat enggak jatuh, Bu … Saya gak tahu kalau itu jatuh karena saya,” ujar saya.

Tampaknya dia kesal atas jawaban saya, “Enggak gitu juga, Mbak. Kalau ada yang jatuh ya tanggung jawab!”

“Iya, Bu,” jawab saya singkat tak ingin memperpanjang masalah dan beranjak pergi.

Si ibu tadi masih menggerutu di belakang. Seorang ibu lain yang juga bermasker berkomentar, “Masalah gitu doang. Ribet. Sudah, Mbak, biarin aja. Bukan jatoh karena Mbak juga, saya lihat tadi.” Saya mengangguk, setidaknya ada yang mendukung saya.

Saya meneruskan mencari barang yang lainnya. Setelah dikira cukup, saya mengantre ke kasir sesuai jarak yang ditentukan.

Sepasang suami istri yang sedang berbelanja sedang mengantre di kasir sebelah. Trolinya sedikit terhalang oleh keranjang berisi satu jenis makanan. Tampaknya itu keranjang milik pelayan yang sedang menaruh makanan di raknya. Karena si bapak kesal trolinya terhalangi, ia menendang keranjang tersebut hingga isinya berjatuhan. Tak sampai di situ, ia meminta tisu basah kepada istrinya dan mengelap sendal dan kakinya setelah menendang keranjang. Beberapa pelayan kemudian menghampiri dan membereskannya.

Mungkin ada drama lain di supermarket tersebut yang terjadi saat itu. Tapi betapa pandemi ini justru membuat orang mati di kebosanan dan mudah emosi. Banyak juga yang enggan peduli dan berbuat lebih baik.

Perasaan paranoid ini bisa disebabkan oleh kebosanan dan ketidakmampuan mengungkapkannya atau justru ketidakpahaman akan pandemi. Selain itu, pikiran negatif dan penuh kecemasan juga memicu paranoid. Bisa jadi kita terlalu banyak mendapat informasi mengenai virus asal Wuhan ini namun tidak paham. Kita tentu harus berupaya sebaik mungkin dengan tidak menghilangkan kemanusiaan itu sendiri. Tak perlu meluapkan apa pun dengan emosi, bukan?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like