kaum-rebahan-ruangobrol

Saatnya Belajar Menjadi Kaum Rebahan

By

Kaum rebahan pernah pada posisi yang disepelekan. Stereotype ini biasanya menempel pada milenial yang menggunakan gajetnya di atas kasur sambil membuka media sosial. Mirip-mirip sampah masyarakat yang cuma modal jempol bisa berkoar di berbagai platform.

Namun, sekarang, semua dipaksa jadi kaum rebahan. Kedahsyatan penularan COVID-19 membuat semua harus #dirumahaja. Pekerja dipaksa work from home yang merupakan cita-cita pekerja kantoran sejak lama. Begitu pun anak-anak yang dipaksa belajar dari rumah dengan PR setumpuk.

Upaya ini bukan hanya menyelamatkan nyawa kita tetapi juga menekan angka positif COVID-19. Ini tentu membantu para pekerja medis yang jumlahnya terbatas di negeri ini untuk bisa melepas lelah sejenak. Gimana enggak, setiap harinya pekerja medis harus bertempur dengan puluhan suspect baik PDP maupun ODP apalagi Positif. Belum lagi mereka juga harus menangani pasien lainnya.

Hanya kali ini saja belajar untuk jadi kaum rebahan adalah sesuatu yang mulia. Pergi keluar rumah hanya untuk hal yang benar-benar penting. Mungkin sehari-dua hari atau bahkan seminggu, kita belum bisa terbiasa. Tapi yakinlah, ini nagih!

Kalau kita masih menganggap menjadi kaum rebahan adalah bentuk kemalasan, tentu ini salah. Ini merupakan bagian dari anjuran dokter dan ahli kesehatan. Imun kita bisa terdorong baik melalui tidur yang cukup dan perbanyak istirahat. Itu yang coba diterapkan oleh kaum rebahan. Buktinya, mereka banyak rebahan dan tak pernah sakit.

Selain itu, jadi kaum rebahan juga tergolong hemat dan ekonomis. Kebutuhannya hanyalah lantai/kasur sebagai tempat merebahkan badan, kuota internet dan cemilan. Tidak perlu ada biaya transportasi. Kita bahkan menghemat biaya kopi karena kalau ngantuk ya tinggal tidur. Kita juga bisa menghemat biaya sabun, sampo dan sikat gigi jika konsisten mengurangi mandi.

Ada saatnya kita bisa banyak belajar dari kaum rebahan yang dulunya dianggap sampah masyarakat. Mereka justru menjadi pedoman menyelamatkan kita dari virus dan ancaman kesehatan lainnya. Selamat belajar!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like