TOPSHOT - A resident look at burnt-out and damaged residential premises and shops following clashes between people supporting and opposing a contentious amendment to India's citizenship law, in New Delhi on February 26, 2020. - Riot police patrolled the streets of India's capital on February 26 following battles between Hindus and Muslims that claimed at least 20 lives, with fears of more violent clashes. (Photo by Sajjad HUSSAIN / AFP) (Photo by SAJJAD HUSSAIN/AFP via Getty Images)

Politik Latarbelakangi Diskriminasi Muslim di New Delhi India

By

Berbagai media memotret kerusuhan di New Delhi, India. Kisah Zubair, seorang muslim yang dikeroyok tiba-tiba oleh sekerumunan orang mewarnai kolom New York Times hingga tirto.id . Ia bersimbah darah tak jauh dari rumahnya.

Tiga area mayoritas muslim menjadi sasaran bentrokan di New Delhi selama 3 hari (23-26/2). Waktu yang sama, Presiden Amerika Serikat tengah berkunjung ke New Delhi bertemu dengan Narendra Modi, Perdana Menteri. Setidaknya 30 orang meninggal dari pihak Hindu maupun Muslim juga polisi.

The Guardian mengatakan bahwa peristiwa ini bukanlah bentrokan, namun kekerasan brutal anti muslim. Beberapa masjid dibakar, toko muslim dihancurkan, muslim juga diserang setelah dikeluarkannya Undang-Undang Citizenship Amandement Bill.

Undang-undang tersebut disahkan oleh Narendra Modi. Banyak pakar menilai bahwa ini merupakan upaya Modi mempertahankan posisinya. Modi menggunakan politik identitas yang berujung kepada diskriminasi muslim dengan mengangkat supremasi mayoritas.

Hal yang sama juga pernah terjadi February 2002. Kerusuhan di Gujarat mengakibatkan ratusan muslim meninggal dunia. Beberapa politisi menggaungkan provokasi hindu. Modi telah terlibat saat itu dengan memberikan pidato penghinaan terhadap korban kerusuhan. Ia mengatakan bahwa kamp bantuan sebagai pabrik penghasil anak

Politik identitas sering digunakan oleh elit dalam berbagai kesempatan meraih dukungan. Meski elit bersaing dengan damai dan penuh canda tawa, tidak demikian dengan pendukung di daerah.

Sering pendukung justru merusak hubungan sesama akibat pilihan politik. Ini tak jadi hal yang sementara, namun berkepanjangangan. Dampaknya bahkan menjadi politik kekerasan di masyarakat.

Apa yang terjadi di New Delhi, India, merupakan contoh nyata bagaimana politik identitas mendorong diskriminasi berkelanjutan. Kita bisa jadi diajak bercemin untuk menjadi mayoritas yang baik dan tak melakukan politik identitas. Alih-alih balas dendam yang menjadi boomerang bagi diri kita sendiri.

Sumber gambar: SAJJAD HUSSAIN/AFP via Getty Images

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like