Joker, Robin Hood, Bapak dan Indonesia

By

Film Joker yang rilis awal Oktober lalu mengejutkan jagat perfilman Indonesia. Film impor bergenre drama thriller ini benar-benar memberikan warna baru. Tak hanya bagi perfilman fiksi, tapi juga bagi studi tentang kriminalitas plus motif-motifnya hingga studi tentang kepribadian dan kejiwaan manusia.

Todd Phillips, si sutradara sekaligus penulis ceritanya, menampilkan sosok Joker yang berbeda dari sekuel film Batman sebelumnya. Joker tak lagi tampil dengan kejahatan massif dan terencana yang mengerikan, namun ditampilkan dari penggalian masa lalunya, latar belakang kepribadian, kejiwaan dan sosial seorang Arthur Fleck menjadi seorang Joker.

Saya sebagai orang yang pernah melakukan kriminalitas, berbeda dengan Joker soal latar belakang. Joker mengawali karir kriminalnya sebab kelainan jiwa, medical disorder, kegagalan hidup, karir dan jadi korban diskriminasi.

Sementara saya justru mengawali tindakan kriminal sebab sebuah hobi pada computer, termasuk mendalami setiap aspeknya, pemrograman, internet dan jaringan.

Ditambah dengan semangat mempelajari agama setelah ‘berhijrah’ dari kehidupan yang lebih hedonis menuju kehidupan yang lebih agamis tanpa mentalitas dan adab pencari ilmu membuat saya tersesat dan terdogma oleh doktrin agama yang salah.

Ketertarikan saya pada dunia komputer memang telah lama muncul, bahkan jauh sebelum saya menimba ilmu komputer secara resmi saat disket masih berukuran 5 ¼” dengan aplikasi seperti dos, wordstar dan lotus.

Ketertarikan itu terus berlanjut dan saya mendalaminya tak hanya bahasa-bahasa pemrograman, aplikasi-aplikasi desain, jaringan komputer. Teknik carding, scamming, money laundering, cryptocurrencie mining, trading, ponzi, gambling hingga forex game saya pelajari dan perdalam.

Keterampilan inilah yang kemudian membawa saya untuk berkenalan dan berhubungan dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan saya di dunia komputer.

Tak hanya pada keterampilan tersebut, orang tersebut juga memiliki doktrin agama yang dikemudian hari membuat saya seperti memiliki legitimasi untuk melakukan aktivitas kriminal tersebut.

Aktivitas kejahatan siber seperti carding dan money laundering yang saya lakukan mendapat dukungan dalil agama dari doktrin agama orang tersebut.

Aktivitas carding dan money laundering yang sejatinya sebuah rangkaian aktivitas pencurian harta milik orang lain menjadi sebuah aktivitas yang halal bahkan dianggap sebagai aktivitas mulia dan harta yang paling berkah karena dilakukan dengan mengambil harta orang kafir. Terutama orang-orang kafir yang berasal dari negara-negara yang memusuhi Islam dan menindas kaum muslim.  Aktivitas ini yang disebut sebagai Fa’i.

Robin Hood

Dari Joker, kisah ini beranjak ke Robin Hood, tokoh yang digambarkan sebagai pencuri harta orang-orang borjuis dan bangsawan sewenang-wenang untuk kemudian hasil curiannya diberikan ke kaum miskin.

Demikianlah, saya saat itu pun menggambarkan keadaan saya sendiri demikian. Dengan berbagai cara dan threatment saya mengambil harta milik orang-orang kafir di luar negeri lalu menyerahkan hasilnya pada orang tersebut untuk keperluan umat Islam.

Ditambah lagi dulu saya begitu meyakini bahwa pemerintah negara ini adalah pemerintah yang sangat zalim kepada rakyatnya yang mayoritas umat Islam.

Saya ketika itu beranggapan pajak dan kebijakan yang pro Barat adalah bentuk kezaliman. Semua itu menambah pemahaman kebencian saya terhadap pemerintah dan Barat yang kapitalis.

Namun niat baik untuk memberikan solusi nyata bagi kemaslahatan umat, justru berbuah kecewa dan berakhir tragis. Setelah saya ditangkap Densus 88 Antiteror saya baru tahu dan menyadari bahwa apa yang saya upayakan selama ini bukan untuk kemaslahatan umat Islam melainkan untuk aktivitas teror bom di negeri ini dan memakan korban jiwa.

Tangis dan penyesalan memang menyesakkkan dada saya. Tapi bubur tidak akan pernah kembali menjadi nasi, apalagi kembali menjadi beras. Proses hukum pun harus saya hadapi dengan berat hati.

Setahun sejak ditangkap dan mendiami Rutan Mako Brimob – Depok dengan orang-orang yang menghadapi masalah hukum yang sama makin menguatkan diri saya atas segala kekeliruan dan kejanggalan yang telah terjadi.

Pemaksaan pemahaman keislaman yang dilakukan oleh kelompok teroris terutama yang berafiliasi ke ISIS kepada orang lain, termasuk pemahaman radikal takfiri yang sangat mudah mengkafirkan dan menganggap orang lain yang berseberangan telah murtad entah itu sesama penghuni rutan, polisi, militer, ASN dan orang-orang sipil lainnya.

Tak hanya berakhir dengan stempel kafir dan murtad, pemahaman takfiri mereka berimbas pada efek domino terhadap orang yang telah dicap sebagai murtad dan kafir.

Darah mereka menjadi dihalalkan untuk ditumpahkan, harta mereka menjadi dihalalkan untuk diambil, tidak saling mewarisi, bahkan seorang ayah bisa kehilangan hak perwaliannya terhadap anaknya hingga tak jarang seorang anak perempuan yang menikah tanpa persetujuan ayahnya yang telah dianggap kafir atau murtad.

Bahkan ada pula perempuan yang pergi menikah dengan lelaki lain karena suaminya telah dianggap murtad.

Allah subhanahu wata’ala Maha Baik. Dia tidak berenti memberikan sinyal atas kesalahan yang telah saya perbuat. Setelah keganjilan-keganjilan tersebut Allah kembali mengirimkan sinyal-Nya yang menjadi titik kulminasi perubahan diri saya.

Mata Bapak 

Saat saya menjalani masa hukuman di lembaga pemasyarakatan, saya mendapat sebuah kabar bahwa Bapak saya harus menjalani sebuah operasi di matanya . Retina matanya sobek.

Bagai dipukul Mike Tyson, saya terhenyak dan ambruk. Kerusakan mata yang dialami bapak saya tepat sama dengan apa yang dialami oleh seorang polisi yang menjadi korban bom, bahkan di posisi mata yang sama.

Seminggu saya hanya bisa termenung dan mengintrospeksi diri sampai sebuah pertanyaan muncul di kepala saya. Apa yang akan kamu lakukan lagi, tidak cukupkah Bapak yang kehilangan matanya karena ulah kamu? Apakah Allah harus mengambil orang-orang terdekatmu lagi hingga kamu mau menyesal dan berubah?

***

Membangun bukan Merusak

Seorang ahli hikmah pernah berkata bahwa seorang manusia harus bisa mengambil hikmah dari tiap kejadian yang dialaminya.

Bahkan dalam sebuah hadis, Rasulullah pernah bersabda bahwa, “Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama.” (HR. Muslim No.5317) dari kejadian inilah saya mengambil sebuah pelajaran yang sangat berarti bagi hidup saya.

Sebagai makhluk sosial, kita pasti sangat senang bila dapat berteman dan bersahabat dengan orang-orang dari daerah lain, negara lain dengan budaya dan latar belakang berbeda.

Namun, saat ini kita juga patut waspada. Alih-alih memberikan pengalaman dan transfer ilmu pengetahuan, banyak orang terutama generasi muda yang terjaring dan masuk dalam jaringan teroris berawal dari pertemanan di dunia maya, internet dan media sosial.

Dan ini bukan mitos, lho. Jika kita membaca berita tentang aktivitas terorisme, kita bisa mendapati bahwa jika dulu aksi teroris dilakukan oleh orang-orang dengan usia matang dan dewasa, kini aksi terorisme melibatkan orang-orang dengan usia belia, antara usia 15-25 tahun dan jumlahnya terus meningkat.

Jangan sampai kegemaran kita berselancar di dunia maya dan aktivitas di media sosial membuat kita terjebak pada aksi-aksi anarkis, intoleran, radikalisme dan terorisme.

Negeri ini juga adalah negeri dengan jumlah kaum Muslim terbanyak di dunia. Bukan saat ini saja, jauh sejak era kolonialisme umat Islam dengan para ulamanya telah bahu membahu dengan umat agama lain yang mendiami negeri ini untuk berjuang membebaskan negeri ini dari penjajahan.

Tidak berhenti sampai di situ, para alim cendikia Muslim juga sangat berperan dalam perumusan konsep negara ini. Bahkan yang harus menjadi kesadaran adalah bahwa negara ini adalah negara manusia yang selalu memiliki keterbatasan dan kelemahan. Tak ada kesempurnaan di negara manapun.

Dalam ketidaksempurnaan ini, seharusnya saya dan kita semua menjadi sadar bahwa kita harus bahu membahu menjaga, merawat dan membangun negeri ini.

Kita harus mengambil peran dan posisi untuk memajukan dan menjadikan negara ini lebih baik lagi. Bukan sibuk dengan merusak, mengkafir-kafirkan orang lain, para alim ulama atau para pahlawan pejuang yang telah berkorban segalanya untuk negeri ini.

Jika sebuah rumah rusak, maka kita hanya perlu memperbaiki sisi rusaknya saja tanpa perlu menghancurkan rumah tersebut dari pondasinya. Kita tinggal di Indonesia yang menjadi rumah besar bagi kita.

Seyogianya kita harus menjaga dan memperbaiki titik-tiitik kerusakannya tanpa harus menghancurkan negara ini dari dasarnya. Negara ini adalah amanat. Bukan hanya sebuah amanat dari pendahulu dan anak cucu kita yang harus dijaga. Tapi juga amanat dari Allah pemilik alam semesta. Dan tiap amanat akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di hadapan-Nya.

Tinggal kita memilih apakah kita akan menjaga dan merawat negeri ini sebagai amanat Allah atau kita menjadi bagian dari orang-orang yang tidak amanah dengan merusaknya dan mengimpor kehancuran seperti yang telah terjadi di Suriah, Irak dan negeri-negeri lainnya?  

 

Artikel ini ditulis oleh MK (seorang WBP Kasus Terorisme)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like