Kisah Pengungsi yang Kabur dari ISIS: The Ugly Truth ‘Jihadis’ versi ISIS (4)

By

Ini adalah tulisan ke-4 gue, warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini di kamp pengungsian Roj, Suriah. Gue rindu pulang! (Aleeya Mujahid)

Dulu, setelah gue memantapkan hati buat ninggalin hal-hal di masa lalu untuk hijrah ke wilayah kekuasaan ISIS, doa dan air mata nggak pernah putus gue panjatkan demi perlindungan para ikhwan dan akhwat yang sudah hijrah lebih dulu sebelum gue.

Bayangan di sana adalah negeri idaman dan dambaan. Minim maksiat dan dipenuhi hal-hal yang membuat Allah ridha dan menghujani kami dengan barakah-Nya. Sebagaimana indahnya gambaran nuansan kehidupan di bawah naungan khilafah yang disusun secara elok dan digembar-gembor media ISIS lewat video maupun tulisan.

Nggak akan lagi kalian temui paha dan dada manusia diobral gratis, di mana-mana semua perempuan kompak menutup aurat. Sementara para laki-laki ghadul bassar (menundukkan pandangan) dan nggak centil siul-siulan godain orang lewat.

Ketika azan berkumandang, para lelaki yang tadinya sibuk akan langsung berlomba berjalan bersemangat menuju masjid untuk menunaikan salat. Rehat sejenak dari urusan duniawi.

Perempuan akan sering menetap di rumah, sebab sibuk berusaha jadi istri solehah bagi suami sekaligus ibu calon generasi terbaik di masa depan. Nggak ada waktu berkeliaran ke sana kemari untuk ghibah, namimah, riya’, dan dosa-dosa lain yang mana wanita mudah tergelincir karena lisannya.

Anak-anak di sekolah akan lebih mudah mengenal agama Islam serta memenuhi otaknya dengan hafalan Qur’an dan Hadits karena waktu belajar nggak akan terkontaminasi racun dari film dan musik.

Kalau suami lagi keluar rumah, nggak perlu was-was khawatir doi nyeleweng atau selingkuh. Nggak akan ada rokok, peredaran narkoba, maupun pemandangan orang mabok dan zina di sudut-sudut jalan.

Pikiran bakal lebih tenang dan tenteram karena istirahat dari lelahnya ngedenger berita penculikan, perampokan, pemerkosaan, korupsi, kasus pedofil, dan tindakan tindakan kriminal lainnya yang dulu hampir setiap hari tersaji di media cetak maupun media elektronik.

Di Daulah Islam pokoknya aman, tindakan kriminal bakal sangat minim karena oknum nakal yang mau coba-coba bakal keburu ciut duluan karena terancam hukum Islam yang adil nan tegas.

Hati nggak akan lagi tersayat menyaksikan anak-anak kelaparan dan disalah gunakan untuk ngamen atau ngemis di jalanan, karena kebutuhan pokok akan dikoordinasi secara adil, merata, dan tertata oleh amiir almukminin yang memikul tanggung jawabnya karena takut kepada Allah.

Siapapun boleh angkat suara menyatakan kebenaran tanpa khawatir akan dibikin menghilang bak ditelan bumi, karena agama adalah nasihat.

Bakal jauh dari perangkap riba, dan ke manapun kaki melangkah, nggak akan kami temui hal-hal selain indahnya amar ma’ruf nahii munkar.

Kami akan bisa fokus beribadah lillahi ta’ala tanpa perasaan dikejar-kejar urusan duniawi; cicilan rumah, cicilan kendaraan, pajak ini dan itu, bayaran sekolah, biaya berobat, dll.

Indah, kan? Pengen, kan?

Indah sih, asal nyata!

Tapi kenyataannya itu semua cuma angan-angan dan bualan kreasi ISIS. Abu Bakr Al-Baghdadi tuh mulutnya manis, emang! Karena ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya nyatut ayat-ayat Allah dan hadits Rasul SAW tapi tindakan nyatanya mah nihil alias omong doang. Screw him!

Setelah akhirnya gue yang kala itu lagi hamil muda berhasil nyebrang perbatasan Suriah-Turki bersama suami, nggak lama kemudian kami menyesali tindakan kami.

Kami tinggal di sana selama 1 tahun 5 bulan karena ternyata jalur keluarnya jauh lebih sulit dibanding jalur masuk. Itupun kami nggak bisa keluar barengan.

Suami yang kala itu udah mulai dicurigai dan dipantau gerak-geriknya oleh amniyyin, ngirim gue dan bayi laki-laki kami yang kala itu baru berusia 10 bulan untuk keluar lebih dulu.

“Kalo nggak bisa keluar semua, seenggaknya ada sebagian. Aku imam kalian dan ini tanggung jawabku, semoga kelak Allah ringankan hisabku.” Ini ucapan suami gue di malam terakhir kebersamaan kami.

Sampai sekarang air mata gue masih terus ngalir deras menganak sungai setiap ingat suami yang sekarang lagi ngilang, entah masih hidup atau udah pindah dunia.

Beberapa bulan setelah doi ngirim gue dan bayi kami keluar, suami dibawa ke penjara ISIS dan ditahan selama sebulan lebih sedikit.

Kami sempat ngobrol lagi, tapi suami nggak bicara banyak soal apa dan gimana perlakuan mereka selama doi di penjara, gue yakin suami masih di bawah pengawasan mereka. Sebentar kemudian doi ngilang bak ditelan bumi.

‘Lomba’ poligami

Setelah gue mulai tinggal di wilayah ISIS, banyak gue temuin kejanggalan-kejanggalan dari mereka. Gue selalu berusaha maklumin pada awalnya, tapi lama-kelamaan kayaknya mereka udah nggak layak lagi buat dimaklumin. Dikasih hati minta jantung.

Kelakuan para lelaki ber-title Mujahid yang gonta ganti pasangan layaknya mereka ganti underwear ini bikin gue jijik banget, asli!

Jihadis? Shame on you!

Nggak pantes lo nyandang sebutan mulia ini.

Nggak bisa denger anak gadis baru baligh, langsung pada rebutan siapa yang bakal berhasil minang. Nggak bisa denger janda baru beres iddah, langsung pada ngantri nyiapin diri buat ngelamar.

Di banding mikirin dengan semakin bertambahnya jumlah anggota yang dipimpin, maka semakin beratlah beban tanggung jawab yang harus dipikul, malah sibuk mikirin tingginya gengsi.

Mereka selalu beranggapan, “Why not? Kan sunnah ini, kita ngelakuin sesuatu yang halal dan berpahala.”

Dasar munafik! Stop jual nama agama buat muasin hawa nafsu lo, please!

Jujur deh, yakin alesan lo karena semata-mata mencontoh Rasul SAW? Udah setinggi apa sih ilmu pengetahuan lo tentang Islam? Udah sebaik mana perilaku lo mencontoh adab dan akhlak beliau?

Di antara sekian banyak sunnah yang masih lo terlantarin sembari bisa dilakuin tanpa memberatkan hati istri-perempuan yang harus lo kasihi dan muliakan-, lo cuma fokus sama poligami doang.

Ngedidik 1 bini aja belum becus, udah ngebet pengen nambah lagi. Ibarat orang buka usaha, hal ihwalnya aja belum terorganisir dan masih berantakan ngaco sana sini, masa’ udah mau buka cabang? Lurusin dululah itu otak, udah miring dan turun ke lutut barangkali.

Padahal di biduk rumah tangga pertamanya bersama Khadijah radiyallahu ‘anha, Rasul SAW juga pernah nggak menjalani poligami. Jadi monogamipun termasuk sunnah.

Semua yang beliau lakukan adalah baik dan mulia, dan satu hal yang gue bisa pastikan adalah, Rasul SAW melakukan poligami bukan untuk adu gengsi apalagi untuk merendahkan kedudukan wanita.

Herannya, para perempuan yang kehipnotis dengan perintah untuk mendengar dan taat ke Abu Bakr Al-Baghdadi, ya mereka keliatan nerima dan fine fine aja tuh untuk dimainin sama orang bejat bertopeng islami ini.

You know-lah, pedagang eksis karena peminatnya ada.

Banyak perempuan usia belasan akhir yang udah ngalamin kawin 2 sampe 3 kali. Yang seumuran gue (belum nyampe sepertiga abad), bisa 5 kali bahkan lebih. Punya anak sekian, masing-masing beda bapak. Kawin sama bule yang ngobrolnya bermodal broken english dan super broken arabic aja, hayuk weh lanjut.

Salahin penjual atau pembeli?

Mboh! Podo wae, lah. Edan.

Ini gue nulis dengan penuh amarah dan berapi-api gini, bukan karena gue salah satu pembeli tawaran jihadis palsu penjual kibulan itu kok. Suami gue baik dan nggak songong, alhamdulillah.

Satu kali gue pernah peringatin doi, kalo lo ngerendahin diri lo dengan berkelakuan sama kayak orang-orang brengsek itu, gue nggak akan ngerendahin diri gue dengan bertahan sama orang brengsek. Singkat dan padat, doi paham maksud gue.

Banyak lelaki yang walaupun tau istri nggak bakalan nerima kalo suami poligami, tetep aja ngelakuin itu baik terang-terangan ataupun main belakang. Toh, poligami nggak mengharuskan adanya izin istri. Maksain banget, segitunya tah pengen ngejalanin sunnah walaupun harus matahin kepercayaan seorang istri? Sulit dimengerti isi dan jalan pikiran mereka.

Yang harus cerai karena maksain poligami juga banyak. Jalanin sunnah kok bersamaan dengan ngelakuin salah satu hal yang meskipun boleh tapi sebenarnya Allah nggak menyukai perbuatan itu?

Next time gue bakal ceritain secuil kehidupan pribadi gue bareng bule soleh nan tampan bernama suami, deh. Insya Allah.

Penasaran nggak? Hehehe.

See you, soon!

 

– Aleeya Mujahid –

 

 

FOTO DOK. ALEEYA MUJAHID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like