Deportan ISIS

Deportan ISIS : Saya Hanya Rindu (2)

By

Ina (bukan nama sebenarnya) tak pernah membayangkan bahwa ia akan menyandang status sebagai “Deportan ISIS”. Pada September 2015, suaminya mengancam akan pergi meninggalkan ibu dari empat anak ini ke Suriah. Setahun terakhir, suami Ina sudah perlahan memendekkan celana, memanjangkan jenggot dan membuka kajian-kajian di facebook. Ia hanya menanggapi dengan santai. Namun niat suaminya ternyata serius.

“Selama bulan september itu, saya hampir tiap malem berantem mba. Ibu dan ayah saya kan disini, tinggal bareng kita sampai cape dengernya.” Ina meluapkan emosinya ketika bertemu dengan saya di akhir Juli 2017.

Awal bulan November 2015, lelaki yang bekerja sebagai customer service di jasa ekspedisi luar negeri itu mengeluarkan jadwal kerja bulanan. Ina melihat bahwa suaminya mengambil cuti selama dua minggu di akhir bulan. “Asiiik, kita liburan ya pa ama anak-anak?” Kata Ina. Suaminya hanya mengangguk sambil tersenyum. Ina pikir lelaki yang menikahinya sejak umur 25 tahun itu tak lagi memikirkan untuk hijrah.

Malam itu tiba. Sesuai jadwal, esok suaminya akan cuti dua minggu. Ina sudah menunggu ini dan siap-siap merencanakan liburan mereka. Sampai di rumah, lelaki yang dicintainya itu mengepak barang. Sibuk sekali di kamar. Nampak sebuah tiket Turkey Airlines dan passport. “Pa, kamu mau kemana?” Tanya Ina heran. Suaminya tak menjawab.

“Rasanya saya kena serangan jantung, mba. Cuma ada satu tiket. Dalam hati saya langsung yakin, oh pasti dia mau ke Suriah. Tapi saya masih gak percaya. Saya tanya dia lagi, dia bilang karena saya gak mau, ya dia pergi sendiri.” Ina menceritakan sambil berkaca-kaca. Malam terakhir mereka diisi dengan pertengkaran hebat.

Selepas sholat subuh, suami Ina menghampiri. “Ma, terakhir kali, panggilin aku taksi.” ujar suaminya. Ina masih marah, tapi ia bingung. Ia tak tahu harus bagaimana. Anak pertama Ina yang sudah bangun hanya bengong melihat kedua orang tuanya. Orang tua Ina yang tinggal bersama mereka tak kalah bingung.

“Kamu seriusan pa, mau ninggalin kita?” Tanya Ina sendu. Suaminya mengangguk. Ina tak sanggup menahan sesak di dadanya. Ia menangis sambil mencoba menelepon taksi. Ibu Ina mencoba menenangkan Ina dan Ayahnya mencoba bicara agar menantunya untuk mengurungkan niatnya, namun itu sia-sia.

Baca Juga Deportan ISIS : Saya Hanya Rindu (1)

Taksi datang. Suami Ina segera mengambil kopernya. Ia mencium semua anak-anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ina pun mengantar hingga depan rumah. “Pa, jangan pergi, tolong.” Ina memohon. Suaminya tak mengidahkan rengekan Ina dan masuk ke Taksi. Pintu taksi ditutup. Ina masih mengetok-ngetok kaca taksi. “Pa, dengerin aku.” kata Ina terus mengetok kaca Taksi. Taksi berjalan, Ina mencoba mengejar hingga ia tersungkur di aspal. Pagi itu menjadi pagi paling sendu bagi ibu kelahiran 1979 tersebut.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like