Bahagia vs Putus Asa

By

Sedikit quote menarik dari Tan Malaka,

“Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk!.” – Tan Malaka –

 

What’s up guys, sekarang udah masuk ke pekan terakhir bulan Agustus nih. Bagi sebagian orang, masa-masa sekarang ini adalah masa yang bisa dibilang penuh dengan kegalauan. Kenapa begitu ?

Biasanya nih, bagi para anak kost. . . biasanya ya, tapi enggak semua begitu. Oke. Sip.

Stok mi instan sudah makin menipis, nongkrong, hangout sama teman-teman, serta belanja barang-barang kece badai ala Sultan mulai berkurang. Serta hal-hal hedon lain yang biasa dilakukan saat tanggal muda.

Nah, daripada galau mikirin hal begituan, saya mau sharing sedikit nih cerita yang menarik dan bisa diambil pelajaran untuk diterapkan di kehidupan kita.

Di kehidupan ini, tentu saja segala macam ujian menimpa setiap individu dengan tingkatan yang berbeda-beda. Dan level kesulitannya pun relatif, tidak bisa disamaratakan.

Ada yang jenis ujiannya serupa, namun saat diterapkan (terkena) ke dua individu yang memiliki kepribadian berbeda, tentu hasilnya tidaklah sama.

Banyak kisah inspiratif para pengusaha sukses yang mana sempat mengalami masa-masa kelam dan kerasnya hidup diangkat ke dalam layar lebar.

Di antaranya;  “The Founder”, “The Social Network”, “The Billionaire”, dan juga seperti yang telah dituliskan oleh salah satu penulis sekaligus editor di ruangobrol.id Eka Setiawan, kisah awal mula berdirinya fast food terkenal yaitu KFC (Kentucky Fried Chicken).

Film “Pursuit of Happyness”

Dari sekian banyak film inspiratif dan bagus di dunia ini, ada satu film based on true story yang masuk Top 10 dalam daftar saya. Dan menarik untuk dibahas. Judulnya adalah, “Pursuit of Happyness”.

Sebelum saya lanjut, kira-kira ada yang ganjil enggak dari judul film tersebut?

Nah,  ganjil nya adalah satu huruf yang terdapat di dalam kalimat happyness. Yaps, di dalam Bahasa Inggris yang baik dan benar, kata tersebut seharusnya  ditulis happiness. Menggunakan huruf ‘i’ bukan ‘y’.

Mengenai masalah huruf “i” dan “y” ini, di salah satu scene film, Chris Gardner (diperankan oleh Will Smith) protes kepada salah seorang petugas kebersihan yang ada di tempat penitipan anaknya. Karena ada sebuah grafiti bertuliskan hal tersebut di dinding dengan penulisan yang salah.

Ok, back to topic, kenapa film tersebut menjadi sangat inspiratif?

Film tesebut mengisahkan seorang pria kulit hitam yang pernah merasakan kepahitan yang luar biasa di hidupnya tapi berhasil bangkit dari keterpurukannya tersebut.

Pada era 80-an awal, Chris Gardner sempat menjadi seorang salesman yang mana ia menjual semacam alat scan portable tulang, Bone Density Scan (BDS). Alat ini seperti X-Ray namun dengan hasil yang lebih baik. Tentunya dengan harga yang lebih mahal dibandingkan mesin X-Ray konvensional.

Ia sampai menghabiskan seluruh tabungan miliknya untuk membeli semua mesin tersebut. Dan menjadi satu-satunya orang yang menjual BDS di wilayahnya. Namun, ia tidak mengetahui bahwa para dokter di rumah sakit banyak yang tidak memerlukan barang tersebut dikarenakan harganya yang mahal.

Alhasil, karena barangnya susah terjual, secara perlahan tapi pasti sedikit demi sedikit hartanya semakin berkurang demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Masa-masa kelam dengan ketidakjelasan, apakah hari ini bisa pulang dengan membawa sedikit rezeki atau malahan hanya letih dan kucuran keringat saja yang didapat? Ditinggal kekasih, diusir dari kontrakan, hingga akhirnya menjadi gelandangan bersama anak lelakinya pun sempat dialami.

Sampai akhirnya ia bisa melewati semua hal tersebut dengan kegigihan, semangat yang membara, serta doa. Sehingga sebuah kalimat ganjil bertuliskan happyness pun berhasil ia dapatkan.

Untuk lebih jelasnya, kalian bisa tonton langsung film tersebut, atau kalo mau kepo in film-film kece, kisah-kisah inspiratif lainnya, bisa chat aja langsung ke kolom di pojok kanan bawah warna hijau yang ada tulisan “Obrolan”. 😉

***

Terkadang kita berharap saat melakukan sesuatu akan mendapatkan hasil yang baik. Tapi kenyataannya tidak selalu seperti yang diharapkan. Kisah Chris Gardner di atas contohnya, ia berharap dengan menjadi salesman alat canggih pada masa itu bisa membuat hidupnya menjadi terakomodir dengan baik.

Tapi ternyata. . . . . hmmmm. . . . ckckck.

Ia menjadi berhasil bukan dengan cara berjualan alat scan tulang. Tapi itu menjadi sebuah proses kehidupan yang akhirnya juga menjadi jalan baginya menuju kesuksesan.

Belum tentu yang menurut kita baik, tapi ternyata bagi Tuhan tidak. Ada hikmah pada setiap ujian ataupun kejadian yang menimpa diri kita. Semakin kuat dan berat ujian seseorang, akan semakin tangguh dan ‘kebal’ dirinya.

 

SUMBER ILUSTRASI https://pixabay.com/photos/checkmate-chess-resignation-1511866/

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like