Sebab Anak Suka Cari Perhatian, Maka Orangtua Harus Peka

By

Wanita itu cuma mau dimengerti!
“eh! Gak perlu main gender loh…semua insan juga butuh dimengerti kok! ”

Orangtua aja masih cari cari perhatian, apalagi anak. Yang sedang semangat semangatnya belajar banyak hal baru, mencari jati diri, galau, dan nyari teman curhat dan diskusi. Nah, kalau kayak gitu, pas banget! Orangtua harus bisa jadi partner yang mendukung, open, welcome, dan perhatian.

Sekarang, ada warga baru nih: smartphone dan medsos. Dengan gawai dalam satu genggaman, kita bisa tau apa yang sedang terjadi di Amerika, Afrika, dan kutub utara. Tapi, gawai dan medsos itu kayak uang, kalau gak benar pakainya atau gak bisa menggunakannya dengan baik, maka bakal jadi setan.

Contohnya?? Yaa udah banyak. Anak anak muda yang lagi belajar ini, ternyata mendapatkan lingkungan keluarga yang kurang mendukung.

Jadi pas banget!! Keluarganya sibuk, dianya doyan main medsos.
Konfrensi meja makan, gak ada. Konfrensi obrolan di mobil, gak ada. Terus, si anak mau ngobrol sama siapa?

Ya sama teman-temannya yang di medsos. Kalau dapatnya baik dan mendorong ke arah kebaikan, kan enak. Lah, kalau kedapetannya kayak remaja perempuan 16 tahun pada 2014 silam yang pengen ke Suriah itu, gimana?

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan beberapa ibu ibu dari organisasi wanita indonesia. Mereka mulai resah, dengan banyaknya aksi kekerasan yang dilakukan oleh wanita dan anak muda. Sebagaimana KPPPA, ibu dan anak sulit untuk dipisahkan. Ternyata banyak faktor yang menyebabkan wanita dan anak muda cenderung melakukan aksi kekerasan.
Bisa karena faktor berikut: agama, ideologi, politik, individu hingga gender.

Tapi, lagi-lagi komunikasi. Kalau karena masalah agama, politik (seperti gadis 16 tahun, yang waktu itu merasa risih dengan kasus keadilan di Indonesia) dan mereka ingin mendiskusikannya dan bertemu dengan orang-orang yang sesuai, insya Allah tidak akan kecemplung ke hal-hal tersebut.

Beberapa konflik di dunia, terjadi karena komunikasi yang macet. Dengan adanya komunikasi, silaturahmi atau musyawarah sebagaimana sangat dianjurkan dalam Islam sangat membantu untuk menghindari hal hal tersebut.

Balik lagi, anak-anak muda yang sedang getol belajar agama…banyak belajar via medsos. Sehingga, mereka hanya mendapatkan informasi yang satu arah. Ini menyulitkan untuk bertanya maupun mendiskusikan informasi yang mereka terima, akhirnya telan mentah-mentah.  Ini tentu jadi lain kalau orangtuanya bisa mereka ajak berdikusi.

FOTO EKA SETIAWAN

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like