Rapuhnya Perdamaian

By

Malcom menatap tajam mata Caesar, sang kera. Dia mencoba memperingatkan akan datangnya pasukan manusia yang siap berperang dengan kera.

Malcom           : Caesar, kalau kamu tidak pergi, akan terjadi perang besar

Caesar             : Perang sudah dimulai. Kera memulai perang, dan manusia…manusia tidak akan pernah memaafkan. Kamu lah yang harus pergi, sebelum perang dimulai. Maafkan kawan.

Malcom           : Saya pikir, kita punya kesempatan

Caesar             : Saya pikir juga demikian

Itulah salah satu percakapan paling kuat dalam film Dawn of the Planet of the Apes. Adegan yang terjadi di ujung film berdurasi 130 menit itu, menjadi pembungkus yang apik terhadap pesan penting yang ingin disampaikan dalam film.

Hari Sabtu seperti ini, memang paling asyik digunakan untuk menonton film. Nah, ini ada satu film yang sangat direkomendasi bagi teman-teman yang sedang belajar soal konflik. Dawn of the Planet of the Apes yang sudah tayang di bioskop pada tahun 2014 silam itu mengajarkan soal perdamaian yang bisa menjadi sangat rapuh. Apa yang sudah dibangun oleh Malcom dan Caesar dengan sangat sulit, harus runtuh karena konflik kembali terjadi.

Film yang menjadi salah satu pencapaian terbaik Andy Serkis itu diawail dengan seorang manusia bernama Malcom yang tidak sengaja bertemu dengan pasukan patroli kera di hutan San Fransisco, saat dia mencari pembangkit listrik tenaga air.

Pertemuan ini sangat langka karena sejak 10 tahun yang lalu, manusia dan kera saling berperang. Kera memendam dendam pada manusia karena menjadi bahan percobaan dan ditindas, sedangkan manusia membenci kera karena Simian Flu yang menyebabkan kematian manusia dalam jumlah besar. Simian Flu adalah penyakit flu monyet yang dapat menyebabkan kematian.

Malcom dan kelompoknya sempat diserang oleh Koba, salah satu kera yang memiliki dendam yang dalam pada manusia. Namun, pertikian berhasil dihentikan oleh Caesar, pemimpin kera yang memiliki pikiran lebih terbuka.

Pertemuan antara Malcom dan Caesar inilah yang kemudian membangun hubungan positif antara kera dan manusia. Mereka menjadi semacam agen perdamaian untuk spesies masing-masing. Interaksi keduanya yang dibangun sepanjang film seolah memberikan harapan bahwa perdamaian dapat terwujud. Hubungan yang tanpa prasangka, empati, saling memahami perbedaan, dan menekan dendam adalah pra syarat yang ditunjukan oleh dua tokoh ini untuk bisa menciptakan perdamaian.

Namun, film yang disutradarai oleh Matt Reeves ini juga menyadarkan kita bahwa perdamaian itu bisa sangat rapuh sekali. Niat baik untuk merajut hubungan baik dalam dua kelompok yang berkonflik itu rusak karena selimut dendam yang sangat tebal. Selimut inilah yang membutakan Koba dari kelompok kera dan Dreyfus di kelompok manusia.

Oleh sutradara, penonton tidak hanya dibawa untuk memahami bagaimana perdamaian bisa memiliki kesempatan, namun juga soal dendam yang menjadi sangat wajar untuk menjadi kunci kerusakan perdamaian. Dalam sebagaian besar kehidupan Koba dipenuhi dengan siksaan dari manusia. Baik menjadi bahan percobaan ataupun karena kekerasan manusia saja. Sehingga wajar, jika dia sangat membenci manusia, yang kemudian mendorongnya untuk membunuh Caesar yang dia nilai sudah berkomplot dengan manusia. Dia juga kemudian memimpin pasukan kera untuk memulai perang lagi dengan manusia.

Di sisi lain, Dreyfus juga penuh dendam. Anak dan istrinya meninggal karena Simian Flu yang disebarkan oleh kera. Dia juga menjadi saksi penderitaan manusia yang sudah sangat tersiksa karena wabah tersebut. Hal inilah yang menjadi bahan bakar kebenciannya pada kera.

Meskipun hanya sebuah film, tetapi Dawn of the Planet of the Apes menjadi sangat dekat dengan kita. Kenapa demikian? Karena dalam upaya-upaya mewujudkan perdamaian di tengah masyarakat, pasti selalu saja ada sebagian kecil yang masih belum bisa mengendalikan dendam. Perdamaian yang mungkin sudah dibangun lama, dapat runtuh seketika saat kekerasan kembali dilakukan karena dendam. Diperlukan kepemimpinan yang kuat dalam hal ini.

Caesar berusaha meredam dendam kera pada manusia dengan terus mempertimbangkan masa depan anak cucunya. Dia berhasil menekan egonya demi keberlangsungan hidup generasi kera selanjutnya yang bakal hancur jika perang terjadi. Namun, ditunjukan dalam film, kepemimpinan yang welas asih dan berempati tidak lah cukup. Caesar harus menunjukan sisi tegas untuk menekan kelompok-kelompok pembelot yang terjerumus dalam balas dendam.

Mengambil pelajaran dari film tersebut, karena perdamaian itu bisa menjadi sangat rapuh, maka kita sebagai anggota masyarakat harus mampu ikut menjaganya. Terutama dengan menekan ego demi kepentingan yang lebih besar. Sebab, pertikaian hanya akan melahirkan dendam baru, dan jika dendam ini tidak ditekan maka lingkaran setan itu akan terus terjadi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like