Bocah “Timur Tengah” Masuk Istana

By

Judul yang lebay? Ya mungkin saja, begitulah kenyataannya. 

Mungkin, bagi beberapa orang, perkara masuk Istana Negara dan bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia adalah hal yang biasa dan mudah. Apalagi kalau dia staf Presiden, Menteri atau pejabat tinggi lainnya. *ya elah tong.

Tapi, bagi orang seperti saya, gadis kelahiran Jakarta yang beberapa tahun lalu sempat salah jalan bahkan rela tinggalkan bumi pertiwi ini, terus bisa masuk dan bersalaman dengan seorang Presiden? Itu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya!
Boro-boro membayangkan, mikir atau niat aja kayaknya nggak pernah. I thought it was impossible!

Masuknya saya ke istana, bertemu, bersalaman dengan sang Presiden, itu karena hasil tulisan essai saya. Tulisan itu isinya tentang persatuan dan kebersamaan Indonesia. Atas izin Allah, akhirnya lolos seleksi Indonesia Millenial Movement 2018, yang diadakan oleh Ma’arif Institute, dan dapat mengantarkan saya ke Istana Presiden ini.

Silaturahmi ke Presiden ini bukan hanya sekadar mejeng pasang status “Hei! Gue udah ketemu Presiden loh!” Tidak!  
Namun, ada pesan dan amanah besar yang dipanggul saya dan para pemuda pemudi lain untuk masa depan Indonesia ini.

Amanah itu adalah: marilah hijrah dari ujaran kebencian ke ujaran kebenaran! Pesimisme ke optimisme! Pola-pola konsumtif ke produktif! Kegaduhan ke persatuan dan kerukunan! 
Sebab, itulah yang dibutuhkan untuk membangun bangsa ini. Bersama-sama untuk membawa negara ini ke dalam sebuah kemajuan, tentunya dengan cara-cara sejuk dan baik.

Saat bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia itu, beliau sempat bercerita tentang berita hoax yang menimpanya. Beliau menasihati agar selalu bijak menghadapi semacam itu.

Bagaimana?  Kepala dingin harus dipakai, tidak lantas emosi lalu menanggapinya dengan hal yang kontraproduktif.

Pesan-pesan itu tampaknya sudah sering kita dengar. Terdengar sederhana memang, tapi bagi saya itu punya arti besar dan penting! itulah kenyataaan yang saat ini menimpa diri-diri kita ini.

Lalu, ada yang bilang “Lah, ngapain capek-capek? Wong pemerintah atau orang-orang penting aja pada begitu! Omongan rakyat juga nggak pernah didengar!”

Dari curhatan di atas, saya jadi ingat sebuah film dokumenter  “The Imam and The Pastur”. Ada pesan mendalam di film itu: Semua perubahan dimulai dari diri kita sendiri atau dari yang kecil, kemudian ke komunitas yang lebih besar. 
Nanti, lama kelamaan pemerintah atau pemegang kekuasaan akan turut tergerak untuk membantu dan berkontribusi. Tentunya jangkauannya akan semakin besar.

Jika gerakan ini sudah terbangun dan kontinyu, bukan tidak mungkin kehidupan akan makin sejuk. Makin baik. Tidak ada lagi ujaran-ujaran kebencian, tidak ada lagi pesimisme, tidak ada lagi hal-hal yang bersifat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lalu pertanyaannya, kenapa harus kita yang memulai??

Bisa kita lihat. Saat ini, pemegang dan peran terbesar di ranah teknologi, ekonomi dan pendidikan, sudah dipegang oleh para generasi milenial. Para bibit – bibit untuk keunggulan Indonesia emas 2045 mendatang. Jadi, itu harus dimulai dari sekarang!  
Apalagi, pada acara di Istana itu, malam sebelumnya telah ada diskusi dan tanda tangan deklarasi dari para pemuda pemudi Indonesia itu. hayooo, janji akan diminta pertanggungjawabannya loh! 


Sudah siapkah menjadi pelopor perubahan dan kemajuan bangsa ini?
Karena yang dibutuhkan bukan cuma sekadar eksis tanpa makna, tapi aksi nyata. Melaksanakan amanah-amanah negara ini *ngomong di depan cermin*

Istana Bogor. 12 November 2018
(Video Kementrian Sekretariat Negara RI)

Sumber gambar: Dokumentasi Ma’arif Institute

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like