Oleh: Siti Djuwariyah
Bulan itu mestinya jadi momen yang membahagiakan buatku. Karena itu adalah bulan pernikahanku dengan abinya anak- anak. Ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke-20 .
Anganku melayang membayangkan betapa senangnya jika kami bisa berkumpul semua di rumah. Astaghfirullah, segera kutepis rasa rindu akan kehadiran suamiku. Waktuku telah sia- sia karena sejak tadi hanya melamun dan berangan-angan ingin jumpa dengannya.
Padahal aku sadar itu tidaklah mungkin. Sudah kuusahakan untuk menelpon seorang petugas penghubungku, namun aturan pemerintah belum membolehkan kami bertemu.
Aku segera berwudhu, Salat Duha dan mendoakan suamiku, semoga ia baik- baik saja di sana. Setelah itu kubaca Alquran agar hati lebih merasa tenang.
Terdengar bunyi dering ponselku yang telah dikembalikan oleh petugas karena tidak terkait dengan urusan abi. Ponsel itu, selain untuk komunikasi dengan keluarga juga lebih banyak untuk kepentingan sekolah anak- anak terlebih sekarang sekolah dengan sistem daring.
Terpaksa kuhentikan bacaan Alquranku. Kuangkat ponsel, terdengar suara anak perempuanku menelpon dari pondok, menanyakan kabar abinya.
Tak terasa air mataku kembali mengalir karena merasakan apa yang baru ia rasakan. Aku tahu, sebentar lagi ia akan wadaan ( acara perpisahan dan kelulusan sekolah ). Tentu ia mengharap kehadiran abinya di acara tersebut seperti yang pernah dijanjikan oleh abinya.
Dalam hati aku berpikir keras dalam menyampaikan surat dari abinya yang telah kuterima sebelumnya yang salah satu isinya mengatakan bahwa beliau tidak bisa hadir di acara wadaan dan meminta maaf kepadanya.
Dengan hati-hati, kutata kata- kataku dan berusaha untuk tidak terbata-bata meski air mata ini terus mengalir tak bisa kuhentikan. Kucoba atur intonasi suaraku tetap tegar dan tidak bergetar ketika kusampaikan padanya pesan dari abinya. Pun hal itu tetap tak bisa menutupi kesedihannya, sehingga segera kuberkata: "Janganlah bersedih, Umi akan datang. Umi akan gantikan posisi Abi menyaksikan Mbak, wadaan, ok ?!"
Jawaban "iya" terdengar sangat berat ...tapi mau bagaimana lagi, Itulah yang harus terjadi.
Hari- hari kembali ke aktivitas seperti biasa. Zufar dan nenek sibuk di warung. Anak yang lain sekolah daring sambil sesekali bantu nenek juga bila sudah selesai mengerjakan tugas sekolahnya.
Satu lagi anak masih libur dengan mengerjakan banyak tugas yang harus dikirim via aplikasi online dari ponsel. Sementara si kecil, sudah mulai pandai menirukan kata-kata, memanggil nama anggota keluarga (seperti umi, abi, embah/nenek, mas dan mbak, juga pakde dan bude). Mulutnya juga ceriwis kalau diajak bicara dan disuruh ngaji. Alhamdulillah sudah hafal beberapa huruf hijaiyah dan beberapa surat pendek Alquran.
Karena masih cadel bicaranya jadi lucu dan menggemaskan.
Alhamdulillah, itu semua menjadi hiburan dan pelipur lara hatiku .
(bersambung)
Juli Kelabu (1)
Otherby Administrator 1 Mei 2023 5:49 WIB
Komentar