Ada yang terasa begitu menyakitkan ketika sebuah takbir terdengar di tengah kekerasan. Kalimat yang biasa kita ucapkan dalam azan dan salat itu justru digunakan untuk membenarkan pembunuhan.
Di Karak, Yordania, sekelompok umat Kristiani berkumpul untuk mengantar jenazah anggota keluarga mereka. Di tengah suasana duka, seorang penembak melepaskan tembakan ke arah mereka. Setelah kejadian itu, beredar rekaman suara yang disebut-sebut berasal dari pelaku. Rekaman berbahasa Arab tersebut dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan klaim kemenangan atas orang-orang Kristen Karak atas nama Daulah Islamiyah.
Sebagai orang yang bertahun-tahun mengamati pemikiran radikal, saya merasa geram sekaligus sedih. Bagaimana mungkin kalimat yang mengagungkan Allah digunakan untuk membenarkan serangan terhadap orang-orang yang sedang berkabung?
Saya ingin menegaskan satu hal: Islam berlepas diri dari perbuatan semacam ini, dari pelakunya, dan dari pemikiran yang melahirkannya.
Takbir yang Dibajak
Dalam tradisi Islam, Allahu Akbar menegaskan kebesaran Allah di atas segala-galanya, termasuk ego, kebencian, dan kepentingan kelompok. Namun, kelompok seperti ISIS membalik maknanya. Takbir dijadikan penanda kemenangan atas manusia lain, bahkan mereka yang tidak bersenjata.
Pelaku menyebut serangan itu sebagai kemenangan. Tetapi kemenangan macam apa yang diperoleh dengan menembaki orang yang sedang mengantar jenazah? Mereka tidak sedang berperang, tidak mengancam siapa pun, dan tidak membawa senjata. Menyakiti orang yang tidak berdaya bukanlah kemenangan, melainkan kehinaan.
Al-Quran justru memberikan landasan yang jelas mengenai penghormatan terhadap perbedaan. Surah Al-Kafirun ditutup dengan kalimat lakum dīnukum wa liya dīn—untukmu agamamu dan untukku agamaku. Keteguhan dalam memegang akidah tidak berarti seseorang berhak merampas hak hidup orang yang berbeda keyakinan.
Prinsip itu diperkuat oleh Surah Al-Baqarah ayat 256 tentang tidak adanya paksaan dalam agama. Dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8, Allah juga memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka yang tidak memerangi karena agama.
Sementara itu, Surah Al-Maidah ayat 32 menegaskan besarnya nilai nyawa manusia. Membunuh satu jiwa tanpa alasan yang dibenarkan digambarkan seperti membunuh seluruh manusia. Ayat ini mengingatkan kita bahwa nyawa manusia tidak kehilangan nilainya hanya karena pemiliknya berbeda agama.
Dakwah Bukan dengan Senjata
Mari membandingkan tindakan pelaku dengan teladan Rasulullah. Dalam hubungan dengan pemeluk agama lain, Nabi mengajarkan dakwah dan dialog. Surah Al-Ankabut ayat 46 bahkan memerintahkan umat Islam agar berdebat dengan Ahli Kitab melalui cara yang paling baik.
Sejarah Islam memang mencatat peperangan. Namun, peperangan itu tidak berarti segala bentuk kekerasan dibenarkan. Ada aturan dan batasan, termasuk larangan membunuh mereka yang tidak terlibat dalam pertempuran. Karena itu, menyerang orang yang sedang berkabung tidak dapat dibenarkan dengan mengatasnamakan jihad.
Rasulullah juga memberikan peringatan keras terhadap pembunuhan non-Muslim yang terikat perjanjian damai. Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, beliau memperingatkan bahwa orang yang membunuh seorang mu'ahid tidak akan mencium bau surga.
Pesan ini semestinya cukup untuk mengingatkan siapa pun yang hendak mengangkat senjata terhadap warga yang hidup damai. Tidak ada legitimasi agama bagi sekelompok orang untuk menetapkan sendiri siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus mati hanya berdasarkan perbedaan keyakinan.
Klaim ISIS sebagai pembela Islam justru memperlihatkan bagaimana bahasa agama dapat dipakai untuk membungkus ambisi kekuasaan. Nama Tuhan disebut, tetapi nilai-nilai yang diajarkan agama justru ditinggalkan.
Ketika Umat Ikut Menanggung Akibatnya
Kekerasan atas nama agama bukan hanya melukai korban dan keluarganya. Perbuatan itu juga membebani umat Islam yang tidak terlibat sedikit pun.
Muslim di berbagai negara harus menghadapi kecurigaan akibat tindakan segelintir orang. Ada pelajar yang harus menjelaskan bahwa dirinya bukan teroris, pedagang yang dipandang dengan waswas, hingga perempuan berhijab yang merasa tidak aman di ruang publik.
Padahal, masyarakat Muslim dan Kristiani memiliki banyak pengalaman hidup berdampingan. Di Yordania, solidaritas lintas agama pernah ditunjukkan ketika masyarakat Muslim turut menyampaikan penolakan terhadap terorisme, sementara komunitas gereja menyatakan duka atas korban serangan.
Solidaritas semacam itulah yang hendak dirusak oleh terorisme. Karena itu, umat Islam tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka tidak setuju. Kita perlu bersikap tegas ketika nama agama dipakai untuk membenarkan pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah.
Mengapa pemikiran seperti ISIS masih bisa menarik pengikut? Salah satu penyebabnya adalah pemahaman agama yang terpotong-potong. Ayat dan hadis dipilih sesuai kepentingan kelompok, sementara konteks dan penjelasan keilmuan yang lebih utuh diabaikan.
Ada pula persoalan identitas. Orang yang merasa terasing, kecewa, atau kehilangan arah bisa tertarik pada propaganda yang menawarkan identitas sebagai pejuang dan bagian dari kelompok yang dianggap besar. Ketika kemampuan memahami agama terbatas, potongan video dan unggahan media sosial dapat menjadi pintu masuk bagi pemikiran yang menyesatkan.
Yang paling berbahaya adalah keyakinan bahwa kekerasan merupakan jalan pintas menuju surga. Padahal, membunuh orang tak bersalah justru bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam.
Alarm untuk Indonesia
Peristiwa Karak seharusnya menjadi pengingat bagi kita di Indonesia. Jarak geografis tidak menjamin bahwa pemikiran serupa tidak akan tumbuh di tengah masyarakat sendiri. Kita memiliki pengalaman panjang menghadapi terorisme, termasuk propaganda ISIS yang pernah menarik anak-anak muda untuk bergabung dengan kelompok tersebut.
Kewaspadaan tidak berarti kita harus mencurigai tetangga yang berbeda keyakinan. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan cara berpikir: ketika seseorang mulai menganggap kelompok lain sebagai musuh yang halal darahnya, mengklaim hanya kelompoknya yang paling benar, menolak dialog, atau menganggap kekerasan sebagai jalan menyelesaikan perbedaan.
Menghadapi persoalan ini, pendidikan agama harus diperkuat. Ulama, guru, orang tua, dan pendakwah perlu menyampaikan ajaran Islam secara utuh, termasuk nilai kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Orang tua juga perlu hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Jangan biarkan kegelisahan mereka hanya didengar oleh orang lain di ruang digital. Dekati, ajak bicara, dan dengarkan mereka sebelum propaganda kebencian menawarkan jawaban yang keliru.
Kita tidak perlu menunggu tragedi serupa terjadi di sekitar kita untuk mulai bertindak. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, menjaga persaudaraan dan menghormati perbedaan merupakan tanggung jawab bersama.
Takbir yang diteriakkan sebelum penembakan di Karak bukanlah pembenaran bagi tindakan pelaku. Kalimat itu telah dibajak untuk menutupi kejahatan. Islam tidak membutuhkan pembela yang membunuh orang-orang yang sedang berduka.
Kepada siapa pun yang menghalalkan darah manusia atas nama Tuhan, kita perlu mengatakan dengan tegas: Islam berlepas diri dari kalian. Dan kepada kita semua, mari menjaga agar nama Tuhan tidak lagi dijadikan tameng bagi kebencian, sementara kemanusiaan menjadi korbannya.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar