Deportan ISIS

Deportan ISIS : Saya Hanya Rindu (3)

By

Juli 2017 lalu, saya bertemu dengan Ina (bukan nama sebenarnya). Ina adalah seorang perempuan dengan empat anak tercatat sebagai deportan ISIS. Suaminya pergi sejak akhir November 2015 untuk bergabung bersama ISIS di Suriah.

Selama lima bulan, wanita kelahiran 1979 itu dilanda kegamangan penuh rindu. Setiap hari, Ina hanya bisa memohon suaminya kembali. “Saya stres. Anak paling kecil sampai kesiram air panas. Saya ngelamun.” Kenang Ina.

Kemudian, Mertua yang pensiunan TNI membawa Ina dan anak-anaknya untuk tinggal bersama keluarga suaminya. Ibu dan Ayah Ina juga mengungsi ke rumah kakak yang hanya terhalang beberapa rumah. Namun ternyata kegalauan Ina tidak terobati. Sampai akhirnya ia meminta kembali ke rumah bersama anak-anak. Ibu dan Ayah Ina pun kembali datang untuk menemani. Mereka khawatir jika Ina hanya bersama anak-anak saja.

Namun kembalinya Ina ke rumah ternyata ada maksud. “Ibu saya lagi ke undangan mba, ayah saya lagi pergi. Waktu itu April 2016, anak-anak mau ujian lagi. Saya minta mereka gak masuk, saya bilang mau jalan-jalan. Saya udah siapin tiket mereka dan diam-diam bikin passport. Kita susul papanya.” Ina bercerita. Ina membeli tiket hingga Turki dengan uang yang tersisa.

Menurut informasi dari suaminya, nanti ada orang menjemput untuk masuk ke wilayah Suriah. Namun mereka harus sampai dulu di Turki. Untuk sementara, mereka tinggal di sebuah apartemen di Istanbul. Turki enak mba, kita ngerasain salju. Hehehe” Ujar Ina. Biaya hidup di Turki cukup murah dibanding Jakarta. Ina juga mengaku anak-anaknya nyaman tinggal disana. Namun kadang mereka bertanya kapan bisa sekolah.

Dua bulan berselang, kakaknya mengabari bahwa Sang Ayah telah tiada. Ina diliputi perasaan bersalah luar biasa. Ayahnya sakit semenjak anak bungsu dari tiga bersaudara itu pergi. “Jahat banget rasanya saya, mba.” ungkap Ina mengingat hari itu.

September 2016, suami Ina tiba-tiba tidak memberi kabar. Ina semakin bingung apalagi uang saku mereka menipis. Mertua dan Kakak Iparnya kemudian mulai mengirimi mereka uang. Sesekali sanak keluarga meminta mereka segera pulang. Ina sudah terlalu rindu. Ia tak mau pulang sebelum bertemu suaminya. “Saya pengen ketemu, minimal saya minta suami saya pulang.” Ina mengatakan rencananya saat itu.

Tiba-tiba pintu apartemen Ina diketuk keras oleh seseorang pada Januari 2017 hampir tengah malam. Ina menggunakan kerudungnya kemudian membuka pintu. Beberapa orang dengan senjata laras panjang datang. Anak-anak ketakutan dan memeluk Ina erat. Mereka langsung dibawa dan ditempatkan di penjara kepolisian distrik Istanbul. Aparat tersebut langsung memberitahu bahwa mereka akan segera dipulangkan ke Indonesia. Ina pasrah dengan sedikit perasaan kecewa.

Sampai di Bandara, Ina kaget. Ternyata banyak juga orang Indonesia yang dipulangkan bersama mereka. Mereka pulang dengan uang yang ada. Sedangkan passport serta handphone mereka disita oleh petugas. Ina sendiri tak tahu itu siapa.

Ina, anak-anaknya dan semua yang dideportasi masuk ke shelter Kementerian Sosial sesampainya di Indonesia. Mereka diperiksa satu per satu. “Kamu yang namanya Sri ya? Kata petugas, gak tau siapa tuh mba, galak banget. Saya bilang ‘bukan’. Ternyata Sri itu nama istri petinggi ISIS yang dipulangin bareng kita. Saya disangka dia.” Kata Ina. Selama sebulan, Ina mendapatkah rehabilitasi mulai dari deradikalisasi, agama dan psikologi.

Keluarga Ina menjadi penjamin mereka. Karena persyaratan mereka bisa keluar dari Shelter harus ada penjamin. Ina mengaku sedikit tenang sampai di rumah. “Maret, saya baru dikasih tahu kalau suaminya meninggal september mba. Rumahnya kena bom. Tetangga suami saya ambil HP dan ngasih tau ke kakak ipar. Saya dikirimin foto.” Ujar Ina.

Ina tak menyangka hidupnya begini. Lelaki yang selama 5 tahun menjalin hubungan sebelum menikahinya itu telah tiada. Ia saat ini hanya perlu menjalani hidup normal kembali. “Saya takut kalau orang mikir macem-macem ke saya. Petugas kelurahan aja, waktu saya minta tolong surat keterangan kematian suami saya, mereka gak mau. Takut, teroris katanya.” Keluh Ina mengakhiri pertemuan kami.

Sebelumnya Deportan ISIS : Saya Hanya Rindu (2)

Ina dan anak-anaknya hanya satu keluarga dan ratusan deportan ISIS yang dipulangkan dari Turki. Keterlibatan seseorang dalam kasus terorisme kadang menjadi rancu hanya karena tidak mau memahami.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like