Dari Buku-Buku Perlawanan hingga Pelajaran Kehidupan

Share

by Munir Kartono Editor by Arif Budi Setyawan

Aku menjalani masa SMA pada tahun-tahun menjelang Reformasi 1998. Masa ketika Indonesia sedang berada dalam pergolakan politik dan ekonomi. Ketidakpuasan terhadap pemerintah semakin terbuka, sementara kehidupan rakyat kecil semakin sulit.

Aku berasal dari keluarga kelas pekerja. Bapakku pekerja, bahkan untuk memenuhi kehidupan kami, Ibuku pun terpaksa turut menjadi buruh pabrik. Karena itu, persoalan ekonomi bukan sesuatu yang jauh dari kehidupanku. Aku melihat bagaimana orang-orang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bapak-Ibuku sudah terbiasa dengan jam kerja yang panjang, hingga malam. Aku juga merasakan kegelisahan ketika keadaan ekonomi semakin tidak menentu.

Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, kegelisahan itu berubah menjadi kemarahan. Dalam pandanganku saat itu, pemerintahan Soeharto adalah pemerintahan yang kapitalistik, penuh korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kekuasaan seolah hanya menjadi milik keluarganya dan segelintir orang yang dekat dengannya, sementara rakyat kecil harus menanggung akibat dari kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka.

Aku mulai mempertanyakan banyak hal. Mengapa orang-orang yang bekerja keras justru hidup dalam kesulitan? Mengapa mereka yang mempunyai kekuasaan bisa menikmati begitu banyak keistimewaan? Mengapa ketidakadilan seperti dibiarkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawaku kepada buku. Aku mulai tertarik membaca berbagai literatur. Dari sana, aku mengenal berbagai gagasan tentang ketimpangan sosial, penindasan, perjuangan kelas, dan perlawanan terhadap kekuasaan. Buku-buku itu seolah memberiku bahasa untuk menjelaskan kegelisahan yang selama ini kurasakan.

Aku semakin bersemangat ketika menemukan sebuah kutipan yang saat itu kukenal sebagai perkataan Presiden Soekarno: "Pemuda yang tak berani mengambil risiko untuk membela rakyatnya yang tertindas adalah pemuda yang sudah mati sebelum waktunya."

Kalimat itu begitu kuat memengaruhiku. Aku merasa bahwa menjadi pemuda berarti harus berani melawan. Tidak boleh diam ketika melihat ketidakadilan. Tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri ketika orang lain mengalami penindasan.

Aku ingin menjadi bagian dari perubahan.

Namun, semangat itu kemudian membawaku pada perjalanan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Ketika Perlawanan Menemukan Jalan Baru

Perjumpaanku dengan beberapa orang dari kalangan Islam perlahan mengubah arah pemikiranku. Dari mereka, aku mulai mengenal bahwa Islam juga mempunyai ajaran tentang keadilan, perlawanan terhadap kezaliman, dan pembebasan manusia dari penindasan. Aku kembali menemukan sesuatu yang terasa dekat dengan kegelisahanku. Jika sebelumnya aku membaca ketidakadilan melalui pemikiran kiri, kini aku mulai memahaminya melalui berbagai literatur keislaman.

Aku membaca semakin banyak buku yang membicarakan persoalan umat, kepemimpinan, perjuangan, dan tanggung jawab seorang Muslim terhadap kehidupan masyarakat. Sebuah kutipan dari Mustafa al-Ghalayaini, penulis Idhotun Nasyi'in asal Mesir, kian membakar semangatku:

"Sesungguhnya di tangan pemudalah urusan umat, dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat."

Aku merasa menemukan panggilan yang semakin besar. Dalam pikiranku, pemuda tidak boleh sekadar menjadi penonton. Mereka harus mengambil peran dalam menentukan masa depan masyarakat dan bangsanya. Sayangnya, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam diriku.

Kemarahan terhadap ketidakadilan mulai berkembang menjadi kebencian terhadap orang-orang yang kuanggap bertanggung jawab atas keadaan tersebut. Aku tidak lagi sekadar mengkritik kebijakan pemerintah. Aku mulai menghakimi para penguasanya. Mereka kuanggap sebagai rezim pengkhianat dan zalim. Bahkan, dalam perkembangan pemikiranku berikutnya, aku mulai mengecap mereka sebagai penguasa kafir dan murtad. Saat itu aku merasa sedang berada di jalan yang benar. Aku merasa sedang memperjuangkan sesuatu yang mulia. Padahal, tanpa kusadari, cara berpikirku semakin sempit dan arah perlawananku semakin mendekati kekerasan.

Ketika Membaca Tidak Lagi Membuatku Belajar

Ada satu kesalahan besar yang baru benar-benar kusadari setelah melewati perjalanan hidup yang panjang. Aku memang banyak membaca, tetapi sebenarnya aku tidak sungguh-sungguh belajar. Aku hanya mencari bacaan yang menguatkan keyakinanku. Ketika menemukan buku yang sejalan dengan pandanganku, aku menerimanya dengan penuh semangat. Ketika bertemu orang yang mempunyai pemikiran serupa, aku merasa semakin yakin bahwa jalan yang kupilih adalah jalan yang benar.

Sebaliknya, aku semakin jarang memberikan ruang kepada pandangan yang berbeda. Aku tidak berusaha mencari sumber lain untuk menguji pemahamanku. Aku tidak membangun diskursus yang memungkinkan keyakinanku dipertanyakan. Perlahan, membaca bukan lagi menjadi jalan untuk memperluas pengetahuan, melainkan sekadar cara untuk memperkuat apa yang sudah kupercaya.

Aku semakin yakin, tetapi tidak semakin bijaksana. Aku semakin bersemangat, tetapi kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan arah langkahku sendiri. Bahkan, ketika pemikiranku mulai mengarah pada pembenaran kekerasan, aku masih merasa sedang melakukan sesuatu yang benar. Betapa berbahayanya ketika seseorang berhenti meragukan pemahamannya sendiri.

Aku pernah berada dalam keadaan itu.

Aku pernah merasa bahwa orang yang berbeda pandangan denganku adalah orang yang salah. Aku pernah menganggap bahwa tujuan yang kupercaya begitu mulia sehingga cara-cara yang keliru pun terasa bisa dibenarkan. Dan pada akhirnya, perjalanan itu membawaku ke dunia ekstremisme dan penjara.

Kini, ketika mengingat kembali masa-masa tersebut, aku sering bertanya kepada diri sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang awalnya gelisah melihat penderitaan rakyat justru berakhir pada pemikiran yang membenarkan kekerasan? Bagaimana mungkin keinginan memperjuangkan keadilan berubah menjadi sikap yang mengabaikan hak dan kemanusiaan orang lain?

Jawabannya mungkin tidak sederhana. Namun, salah satu hal yang paling kusadari adalah bahwa aku pernah kehilangan kompas dalam perjalanan berpikirku. Aku mempunyai keberanian, tetapi tidak cukup memiliki kebijaksanaan. Aku mempunyai semangat, tetapi tidak cukup membuka ruang untuk mengevaluasi keyakinanku. Aku ingin mengubah keadaan, tetapi lupa bahwa diriku sendiri juga harus terus berubah.

Kepada Pemuda yang Masih Memiliki Kegelisahan

Kini, setiap memperingati Sumpah Pemuda, aku selalu teringat pada masa remajaku. Aku teringat pada seorang anak SMA dari keluarga kelas pekerja yang gelisah melihat ketidakadilan. Seorang anak muda yang menemukan semangat dalam buku-buku, yang ingin membela rakyat kecil, dan yang percaya bahwa dirinya harus mengambil bagian dalam perubahan.

Aku tidak menyesali kegelisahan itu.

Sampai hari ini, aku masih bisa marah ketika melihat korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, politik uang, atau pejabat yang mengabaikan penderitaan masyarakat. Aku masih percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan. Namun, sekarang aku memahami bahwa kemarahan tidak boleh menjadi satu-satunya penunjuk arah. Sebab kemarahan, betapapun beralasan, bisa membuat seseorang kehilangan kemampuan melihat persoalan secara utuh.

Aku pernah mengalaminya. Karena itu, pada momentum Sumpah Pemuda ini, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada generasi muda. Teruslah gelisah ketika melihat ketidakadilan. Jangan kehilangan kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Jangan takut mengkritik kekuasaan, mempertanyakan kebijakan, atau menyuarakan kepentingan mereka yang tidak mempunyai cukup ruang untuk didengar. Tetapi jangan pernah berhenti belajar. Bacalah buku sebanyak mungkin. Jangan hanya membaca sesuatu yang membuatmu merasa benar. Bacalah juga pemikiran yang berbeda, bahkan yang bertentangan dengan keyakinanmu.

Bertemulah dengan orang-orang yang mempunyai pandangan lain. Dengarkan alasan mereka. Uji setiap gagasan melalui diskusi yang terbuka. Jangan takut menemukan bahwa sesuatu yang selama ini kamu yakini ternyata keliru. Sebab mengubah pandangan setelah memperoleh pengetahuan baru bukanlah kelemahan. Justru dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa kita pernah salah.

Aku terlambat memahami hal itu. Dahulu aku mengira bahwa semakin teguh seseorang mempertahankan keyakinannya, semakin benar pula keyakinan tersebut. Kini aku tahu, keteguhan tanpa keterbukaan bisa berubah menjadi keras kepala. Sementara keberanian tanpa pengetahuan dan kebijaksanaan bisa membawa seseorang menuju jalan yang salah. Aku tidak ingin anak-anak muda kehilangan semangat perlawanannya.

Negeri ini tetap membutuhkan pemuda yang kritis, berani, dan tidak mudah tunduk pada ketidakadilan. Tetapi negeri ini juga membutuhkan pemuda yang mau berpikir, berdialog, dan melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Pemuda yang tidak sekadar bertanya tentang apa yang salah dengan negeri ini, tetapi juga berani bertanya tentang apa yang mungkin salah dalam cara dirinya memahami negeri ini.

Bagiku, belajar adalah kompas. Ia tidak selalu membuat perjalanan menjadi mudah. Terkadang pengetahuan justru memaksa kita mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap benar. Namun, kompas itulah yang membantu kita memeriksa arah, mengevaluasi langkah, dan menyadari ketika perjalanan mulai menyimpang dari tujuan. Aku pernah menjadi pemuda yang begitu bersemangat melawan ketidakadilan, tetapi kehilangan arah karena berhenti membuka diri terhadap pengetahuan yang berbeda. Aku tidak ingin pengalaman itu terulang pada generasi setelahku.

Di hari Sumpah Pemuda ini, aku hanya ingin berpesan:

Lawanlah ketidakadilan dengan keberanian. Tetapi rawatlah keberanian itu dengan pengetahuan, diskursus, dan kerendahan hati untuk terus belajar. Dan belajar juga tentang memiliki keberanian untuk mempertanyakan jawaban yang selama ini kita yakini.[]



Bogor, 28 Oktober 2026

(Munir Kartono)



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar