Melawan Radikalisme melalui Literasi Keagamaan dan Jihad Literasi

Analisa

by Dr. Haris Amir Falah, M.A Editor by Arif Budi Setyawan

Sebagai seseorang yang pernah berada dalam lingkungan gerakan radikal dan kemudian berhijrah menuju pemahaman Islam yang wasathiyah, saya menyadari bahwa hijrah bukan sekadar perubahan sikap dan cara pandang, melainkan juga perubahan dalam menentukan medan perjuangan. Jika dahulu saya memahami jihad dalam kerangka perjuangan yang dekat dengan konflik dan mengangkat senjata, kini saya memaknai perjuangan melalui pendalaman ilmu, penguatan literasi, dan penyebaran pemahaman keislaman yang mencerahkan. Medan jihad saya telah berubah: dari medan konflik menuju medan pemikiran, dari semangat konfrontasi menuju perjuangan intelektual. Bukan meninggalkan perjuangan, melainkan menemukan kembali makna perjuangan yang lebih luas, bermartabat, dan membawa kemaslahatan.

Pengalaman tersebut mengantarkan saya pada satu kesadaran penting: ada medan perjuangan yang sering luput dari perhatian dalam upaya mencegah radikalisme, yaitu perebutan makna. Jauh sebelum kekerasan terjadi, terdapat proses pembentukan cara pandang melalui bahasa, istilah, konsep, dan penafsiran keagamaan.

Di sinilah pentingnya merebut kembali leksikon Islam yang telah mengalami radikalisasi. Istilah seperti tauhid, jihad, hijrah, khilafah, thaghut, wala dan bara, millah Ibrahim, serta syahid sesungguhnya merupakan bagian dari khazanah pemikiran Islam. Namun, ketika ditafsirkan secara sempit, dilepaskan dari konteks keilmuan, lalu dijadikan alat membangun kebencian dan permusuhan, maknanya mengalami penyimpangan.

Persoalannya bukan terletak pada istilah Islam itu sendiri, melainkan pada cara memahami, menafsirkan, dan menggunakannya. Tauhid, misalnya, merupakan fondasi ketundukan kepada Allah sekaligus sumber etika kemanusiaan. Namun, dalam pemahaman ekstrem, tauhid dapat dipakai untuk menghakimi keimanan orang lain, mengafirkan sesama Muslim, bahkan membenarkan permusuhan terhadap negara dan masyarakat.

Demikian pula jihad. Dalam khazanah Islam, jihad memiliki cakupan luas, mulai dari perjuangan melawan hawa nafsu, perjuangan intelektual, sosial, ekonomi, hingga pembelaan terhadap mereka yang tertindas sesuai ketentuan agama. Akan tetapi, dalam konstruksi ideologi kekerasan, jihad sering direduksi menjadi perang bersenjata. Akibatnya, perjuangan Islam seolah-olah identik dengan konflik dan kekerasan.

Pengalaman saya berada dalam lingkungan gerakan radikal mengajarkan bahwa penguasaan leksikon keagamaan merupakan salah satu pintu penting pembentukan ideologi. Istilah tertentu terus diulang, dikaji, dan ditanamkan hingga membentuk kerangka berpikir tertutup. Seseorang akhirnya melihat hampir seluruh persoalan kehidupan melalui satu ukuran: benar atau salah berdasarkan tafsir kelompoknya sendiri.

Karena itu, melawan radikalisme tidak cukup hanya dengan membangun narasi tandingan. Kita perlu melakukan kerja literasi yang lebih mendasar: mengembalikan makna istilah Islam kepada khazanah keilmuan yang luas, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan. Inilah ikhtiar merebut kembali leksikon Islam menuju pemahaman yang wasathiyah.

Gemar Membaca Harus Disertai Kemampuan Memahami Cara Membaca

Program gemar membaca merupakan langkah penting membangun masyarakat berpengetahuan. Namun, membaca tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Seseorang bisa rajin membaca, tetapi justru semakin terjebak dalam pemikiran ekstrem apabila tidak memiliki kemampuan memahami bacaan secara kritis dan proporsional.

Kita perlu membedakan kemampuan membaca teks dan memahami teks. Memahami membutuhkan proses lebih dalam: mengetahui konteks, mengenali latar belakang penulis, memahami tujuan penulisan, memeriksa sumber rujukan, membandingkan pandangan, serta menguji kesimpulan yang dibangun.

Dengan kata lain, masyarakat tidak cukup hanya diajak gemar membaca, tetapi juga harus diajarkan tata cara membaca yang benar.

Dalam tradisi keilmuan Islam, membaca tidak berhenti pada pengenalan bunyi dan susunan kalimat. Ada disiplin memahami, menelaah, membandingkan, dan menghubungkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. Ayat tidak boleh dipahami secara terpisah dari ayat lain. Hadis tidak cukup dibaca melalui terjemahannya tanpa memperhatikan kualitas, konteks, dan penjelasan para ulama. Pendapat seorang tokoh pun tidak boleh dianggap sebagai kebenaran mutlak tanpa menguji argumentasi dan landasan keilmuannya.

Literasi yang sehat harus membangun keberanian bertanya, bukan sekadar kepatuhan menerima. Siapa yang menulis? Apa konteksnya? Bagaimana argumentasinya? Adakah pandangan lain? Apakah kesimpulannya sesuai dengan sumber yang digunakan? Dan yang tidak kalah penting, apakah pemahaman tersebut membawa kemaslahatan atau justru melahirkan kebencian dan kekerasan?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena kelompok ekstrem juga memanfaatkan buku, media sosial, ceramah, dan berbagai bahan bacaan untuk membangun pengaruh. Prosesnya sering dimulai dari penanaman cara pandang, pembentukan identitas kelompok, pembelahan kawan dan lawan, hingga keyakinan bahwa kekerasan merupakan jalan perjuangan yang dibenarkan.

Dari Gemar Membaca Menuju Jihad Literasi

Oleh sebab itu, program gemar membaca perlu ditingkatkan menjadi gerakan jihad literasi. Jihad literasi bukan sekadar memperbanyak buku atau mengampanyekan kegiatan membaca, melainkan perjuangan merebut ruang pemikiran melalui ilmu pengetahuan, argumentasi, dan pemaknaan yang benar.

Ada beberapa agenda yang perlu dilakukan.

Pertama, memperkuat literasi keagamaan yang komprehensif. Istilah Islam yang kerap digunakan dalam propaganda ekstrem perlu dijelaskan kembali berdasarkan sumber keislaman yang otoritatif, dengan memperhatikan perbedaan pendapat dan konteks penerapannya.

Kedua, membangun kemampuan membaca kritis. Sekolah, pesantren, perguruan tinggi, masjid, dan komunitas literasi perlu membiasakan masyarakat untuk tidak menelan informasi secara mentah. Membaca harus menjadi proses berpikir, bukan sekadar mengumpulkan kutipan untuk membenarkan keyakinan sendiri.

Ketiga, memperbanyak bacaan alternatif yang menawarkan pemahaman Islam wasathiyah. Buku, artikel, kajian, dan konten digital harus menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keteguhan akidah sekaligus penghormatan terhadap perbedaan, keberanian membela kebenaran sekaligus penolakan terhadap kezaliman, serta kecintaan kepada agama tanpa harus membenci bangsa dan sesama manusia.

Keempat, melibatkan akademisi, ulama, penulis, guru, dan mereka yang memiliki pengalaman langsung memahami dinamika radikalisme. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran agar masyarakat mengetahui bagaimana pemikiran ekstrem tumbuh, bekerja, dan memengaruhi seseorang.

Pada akhirnya, kita tidak boleh membiarkan istilah-istilah Islam terus dimonopoli oleh kelompok yang menggunakannya untuk membenarkan kebencian dan kekerasan. Kita harus hadir dengan penjelasan yang lebih kuat, bacaan yang lebih bermutu, dan argumentasi yang lebih meyakinkan.

Merebut leksikon Islam bukan berarti mengganti istilah agama, melainkan mengembalikan maknanya dari penyempitan ideologis menuju keluasan khazanah keilmuan Islam.

Inilah pekerjaan besar yang harus dimulai dari ruang baca, ruang kelas, pesantren, masjid, kampus, hingga ruang digital. Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya gemar membaca, tetapi juga cakap memahami; bukan hanya pandai mengutip ayat, tetapi mampu menangkap pesan dan hikmahnya; bukan hanya teguh dalam akidah, tetapi juga lapang dalam kehidupan sosial.

Pengalaman hijrah mengajarkan kepada saya bahwa perubahan pemikiran harus diikuti perubahan cara memperjuangkan keyakinan. Jika dahulu energi perjuangan diarahkan pada pertentangan, kini energi itu harus diarahkan untuk memperdalam ilmu, meluruskan pemahaman, dan membangun peradaban. Sebab, jihad tidak kehilangan maknanya ketika senjata ditinggalkan dan pena diangkat. Justru di situlah perjuangan menemukan ruang pengabdian yang lebih luas.

Jangan sampai buku-buku agama menjadi pintu masuk kebencian. Jadikan membaca sebagai jalan membangun ilmu, memperluas wawasan, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan Islam yang wasathiyah.

Sebab, medan perebutan masa depan umat bukan hanya berada di jalanan dan ruang kekuasaan, tetapi juga di dalam pikiran. Dan salah satu cara paling bermartabat untuk memenangkannya adalah melalui ilmu pengetahuan dan jihad literasi.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar