Kisah Mahasiswa Mengalami Radikalisasi Online di Masa Pandemi (1)

Analisa

by Arif Budi Setyawan

Pada awal Januari 2023, Ardi (bukan nama sebenarnya-Red) mahasiswa fakultas hukum sebuah universitas ternama di Lamongan kabur dari rumah untuk menikahi janda almarhum Bagus Kurniawan (napiter dari kelompok JAD yang meninggal di penjara karena sakit). Keluarganya pun kelimpungan mencarinya.

Sebelumnya, Ardi sempat disidang oleh keluarganya ketika dia mengutarakan niatnya menikahi si janda JAD itu. Dia menjelaskan siapa si janda ini, di mana kenalnya, dan apa motivasinya mau menikahinya.

Tentu saja keluarganya tidak merestui. Bagaimana mungkin menikahi orang yang kenal dari media sosial? Kenal ketika sama-sama berada di komunitas kajian online yang membuat Ardi mulai berubah sikap dan perilakunya dalam beragama? Janda napiter JAD lagi.

Keluarganya yang merupakan keluarga terpandang di kampungnya tentu tidak siap menerima menantu dengan status seperti itu, belum lagi khawatir Ardi akan semakin terikat dengan kelompok yang menyimpang. Khawatir Ardi akan dimanfaatkan kelompok itu.

Singkat cerita, dengan bantuan kolega kakak ipar Ardi yang merupakan anggota TNI dan handphone Ardi yang ditinggal di rumah, keluarga berhasil melacak keberadaannya melalui jejak pesan masuk di akun media sosialnya. Ketika ditemukan, Ardi menyebut besoknya dia akan menikah dan semua telah disiapkan. Tapi keluarga berhasil memaksanya pulang.

Keluarganya kemudian mencari tahu di internet dan bertanya kepada berbagai pihak, bagaimana cara merehabilitasi pemahaman anaknya. Dan yang paling penting agar anaknya mau menjauhi si janda itu.

Sang kakak ipar kemudian mendapatkan saran agar mengadu ke Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center agar mendapatkan pendampingan. Direktur NII Crisis Center Ken Setiawan yang mendapat pengaduan dari keluarga Ardi, kemudian menghubungi saya karena lebih dekat dengan Lamongan untuk membantunya melakukan penjajakan dan mengambil tindakan lebih lanjut. Saya kemudian berangkat ke Lamongan untuk silaturahmi dengan keluarga Ardi.

Berawal dari Kuliah Online di Masa Pandemi Covid-19

Sebelum saya dipertemukan dengan Ardi, telebih dahulu keluarganya menjelaskan kronologi permasalahan yang dihadapi di sebuah rumah makan sambil makan malam.

Awalnya Ardi kuliah di Fakultas Hukum Universitas Jember tahun 2019. Anaknya cerdas dan haus akan ilmu. Di awal-awal kuliah di Jember, Ardi juga mengikuti kursus intensif bahasa Arab. Baru memasuki semester dua, pandemi Covid-19 mulai melanda dan membuat aktivitas perkuliahan diubah menjadi kuliah online. Ardi pun pulang ke rumah.

Untuk meningkatkan penguasaan bahasa Arab yang dipelajari sebelumnya, dia mulai rajin mengikuti majelis kajian Islam berbahasa Arab secara online. Dari situ dia mulai kenal dengan sesama aktivis kajian online di luar negeri. Semakin lama semakin banyak kelompok kajian online yang diikutinya.

Dari penuturan ibunya yang sehari-hari paling banyak memantau aktivitas anak laki-laki satu-satunya itu, mayoritas kajian online yang diikuti anaknya berbahasa Arab dan Inggris. Kemampuan bahasa Inggris Ardi memang bagus sejak SMA.

Selama pandemi dari awal 2020 hingga 2022, ada beberapa perubahan pemikiran dan perilaku Ardi. Misalnya, meyakini Covid-19 adalah konspirasi, tidak mau vaksin, sering mengunggah status di media sosial bahwa dirinya hidup di negeri syirik (yang menyekutukan Tuhan), menjauhi masjid umum yang dianggapnya menyimpang, hingga lebih banyak mengurung diri di rumah.

Perubahan itu sebenarnya sudah membuat keluarganya resah. Tapi masih bisa diterima. Ardi hanya dianggap sedang berada pada kondisi yang labil. Berharap itu akan berkurang dengan sendirinya meskipun keluarganya juga tidak tahu bagaimana cara mereduksi perubahan sikap yang aneh itu.

Satu-satunya upaya yang telah dilakukan oleh keluarganya agar Ardi tidak semakin parah adalah memindahkan kuliahnya ke Lamongan agar lebih mudah dipantau keluarga. Selebihnya belum ada.

Yang paling membuat syok adalah ketika Ardi mengutarakan ingin menikahi janda JAD itu. Bagi ibunya, itu sebuah pukulan yang sangat berat. Betapa tidak, Ardi adalah anak laki-laki satu-satunya dan akan menjadi tempat ibunya bergantung di hari tua nanti. Karena kakak-kakaknya semua perempuan dan telah ikut suami masing-masing. Apalagi ayahnya telah meninggal dua bulan sebelumnya. Sang ibu khawatir anaknya akan semakin jauh terbawa ke dalam kelompok JAD yang punya reputasi buruk sebagai kelompok ekstrem.

Dari penuturan ibunya itu saya mendapatkan kesimpulan tentang poin-poin yang harus saya konfirmasi kepada yang bersangkutan, dan poin-poin di mana saya akan melakukan intervensi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya.

Inti pokok yang diinginkan keluarganya saat itu adalah agar Ardi bisa putus hubungan dengan si janda JAD dan kelompoknya dan mau menuruti kemauan ibunya.

(Bersambung)

Komentar

Tulis Komentar