Pelajari Algoritma Biar Tahu Cara Menyampaikan Pesan Tertarget

nurdhania
nurdhania
6 Min Read
Ilustrasi media sosial

Mempelajari kerja algoritma saat ini jadi salah satu cara jitu agar pesan atau campaign yang kita suarakan dapat sampai, dengan catatan peserta atau audiensi yang dituju dapat tertarget. Hal ini dijabarkan oleh Mas Shafiq Pontoh dari MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) melalui diskusi tentang digital literasi yang diadakan oleh Yayasan Empatiqu dan Komunitas Perempuan Tangguh, belum lama ini.

Peserta diskusi kurang dari 20 orang dan dihadiri oleh teman-teman SMA, Pak RW, dan perwakilan dari kecamatan. Peserta yang sedikit ini membuat diskusi jadi lebih asik, fokus, serius tapi santai.

Bahasan diskusi digital literasi kali ini tidak hanya soal algoritma. Namun ada juga soal hoax, cyber bullying, komunitas, hingga bisnis.

Saya turut senang dengan diadakannya diskusi ini. Bahasan yang dibawakan Mas Shafiq adalah hal-hal fundamental yang mesti diketahui bersama dan cara beliau menyampaikan juga tidaklah rumit apalagi dengan peserta dari tingkat SMA.

Diskusi diawali dengan pertanyaan interaktif, sehingga peserta bisa ikut aktif berinteraksi. Seperti halnya pertanyaan “Ada berapa aplikasi yang ter-install di smartphone teman-teman?” terlontar di forum.

Jawabannya beragam, ada yang menjawab 80, 90,100, bahkan lebih. Bisa dibilang, ada sekira 100 aplikasi yang butuh perhatian kita. Kalau saya sendiri menginstal kurang lebih 103 aplikasi, hehehe.

Kemudian Mas Syafiq bertanya lagi, “Ada berapa aplikasi yang paling tidak, wajib dibuka 3-5 kali dalam sehari? “. Ada yang jawab 3 aplikasi, 5, dan 10.

Aplikasi kirim pesan seperti WhatsApp tentu jadi salah satu aplikasi yang harus dibuka setiap saat. Baik itu untuk kerja, sekolah, ngobrol, berkabar, dan masih banyak lagi. Kita ambil contoh WhatsApp. Dalam satu aplikasi ini, kita punya banyak grup. Mulai dari grup kantor, alumni, keluarga, komunitas dll. Mas Syafiq bertanya kembali, apakah semua grup tersebut kita aktif dan membaca semua pesan yang masuk?

Beberapa di antara peserta termasuk saya, menjawab tidak. Di sisi lain, ketika kita mengirimkan pesan, berita, dan info ke semua grup yang ada di WhatsApp apakah akan dibaca oleh semua anggota grup? Jawabannya lagi-lagi “tidak”.

Jadi, tidak mudah untuk bisa menyampaikan suatu pesan ke semua orang apalagi dengan latar belakang, perspektif, pilihan hidup yang berbeda-beda. Kita bisa memulainya dari apa yang kita sukai, atau bahkan dari lingkup yang terkecil dulu. Untuk mencapai ke lingkup yang besar tentu butuh proses yang tidak singkat.

Mas Shafiq memberi contoh kembali berupa cerita beliau ketika diminta saran dari sebuah lembaga. Lembaga ini ingin agar pesan, info, berita dan akun media sosial dapat sampai ke semua masyarakat Indonesia dan termasuk masyarakat Indonesia di luar negeri. Artinya informasi tersebut agar mampu menjangkau ke seluruh dunia.

Mengumpulkan manusia sedemikian banyak tentu tidak mudah. Kemudian, beliau menyarankan untuk menargetkan mahasiswa dari lima kota besar. Masih terlalu banyak dan lembaga ini belum sanggup. Kemudian mencoba menargetkan mahasiswa dari jurusan (yang berkaitan dengan lembaga tersebut) di lima kota besar, masih belum juga.

Akhirnya mencoba untuk mengadakan kegiatan dengan target mahasiswa jurusan tersebut di semua universitas atau kampus yang ada di kota A. Lembaga ini menargetkan 300 peserta, yang hadir di acara lembaga tersebut mencapai sekira ribuan.

Mereka bisa bermain bareng, berkumpul bersama mulai dari yang berkerudung panjang, menggunakan tanktop, bertato, tanpa adanya batasan,”

Mas Shafiq juga aktif di komunitas Skateboard. Dari skateboard, beliau bertemu banyak sekali orang dari berbagai latar belakang berbeda, namun mereka dipersatukan dengan satu papan luncur ini. Mereka saling support jika ada pemula yang baru belajar. Mereka bisa bermain bareng, berkumpul bersama mulai dari yang berkerudung panjang, menggunakan tanktop, bertato, tanpa adanya batasan, tambah Mas Shafiq.

Bukankah pesan perdamaian dan toleransi secara tidak langsung sudah tersampaikan?

Algoritma

Hasil dari pencarian di google, definisi dari algoritma itu proses atau serangkaian aturan yang harus diikuti dalam penghitungan atau operasi pemecahan masalah lainnya. Lalu, bagaimana dengan di media sosial? Seringkali kita mendengar algoritma google, algoritma Instagram, dan lain-lain.

Setelah sedikit berdiskusi dengan teman yang paham di bidang TI, beliau menjabarkan bahwa untuk media sosial, problem atau tujuan utamanya adalah memberikan rekomendasi berdasarkan preferensi user. Algoritmanya adalah, ketika user meng-klik, menonton, atau mencari sesuatu, maka cari dan sorting video berdasarkan relevansi dari video yang diakses oleh user.

Bisa dibilang algoritma itu suatu proses untuk mencapai sesuatu. Contohnya di Instagram, kita sering dapati akun-akun yang tidak kita ikuti muncul di halaman utama atau feed. Jika kita suka kucing, dan suka menonton atau klik tentang kucing maka kita akan disuguhkan semua tentang kucing.

Melalui diskusi singkat ini, para peserta bisa lebih paham dan juga semakin bersemangat dalam menyampaikan narasi dan gerakan perdamaian lewat media sosial maupun komunitas.

BACA JUGA: Masyarakat Digital

Di media sosial, Mas Shafiq juga cukup aktif membagikan konten seputar skateboard, kucing, dan makanan. Dengan begitu, konten Mas Shafiq juga bisa muncul di halaman utama atau feed orang-orang yang punya ketertarikan yang sama. Dari situ bisa jadi berkenalan, dan berjejaring hingga bisa kolaborasi. Jalan Jihad kita bermacam-macam. Menyampaikan perdamaian, tak lagi perlu muluk-muluk atau hanya sebatas jargon. Tapi bisa lewat apapun yang kita sukai. (*)

Share this Article
Posted by nurdhania
Follow:
Tell stories to the worldwide
Leave a comment