Perempuan Memiliki Keberanian Bertindak Melawan Kebiasaan Sosial

News

by Akhmad Kusairi

Komisioner Komnas Perempuan Republik Indonesia priode 2020-2024 Alimatul Qibtiyah mengatakan jumlah keterlibatan perempuan dalam kelompok terorisme makin mengalami peningkatan. Berdasarkan data tahun 2021 ada 12 perempuan  ditangkap, termasuk DYN yang merencanakan suicide boombing ditambah dengan mereka yang meninggal. Misalnya Zakiah Aini yang tewas ditembak saat hendak menyerang Mabes Polri.

“Keterlibatan perempuan terus mengalami peningkatan. Di 2017 ada 420 returnees dari Syiria (ISIS), and 70 persen adalah perempuan dan anak. Ada 671 orang Indonesia yang tergabung ke dalam ISIS dan 147 di antaranya perempuan,” kata sosok yang akrab disapa Alima tersebut dalam Forum Interaktif Virtual bertema “Perdamaian di Tangan Perempuan” dalam memperingati Hari Perempuan se-Dunia ini, pada Selasa, (29/3/2022).

Forum itu diselenggarakan berkat kerjasama antara BNPT, Departemen Kehakiman Amerika Serikat, USDOJ, ICITAP, WLDP dan Ruangobrol.id. Meningkatnya jumlah keterlibatan perempuan tersebut dikarenakan pergeseran peran di kelompok teror. Kalau dulu di zaman Jamaah Islamiyah perempuan sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan oleh suami mereka. Namun pada zaman ISIS bahkan istri ikut terlibat dalam sebuah serangan teror.

“Saat ini perempuan juga banyak terlibat di lingkaran radikalisme. Dulu banyak yang tidak tahu apa yang dilakukan suaminya. Contohnya kasus bom panci. Selain itu ada juga kasus TKW di Hongkong yang mengirimkan seluruh gajinya untuk mendanai aksi amaliyah. Salah satu modus rekruitmentnya dinikahi, lalu diminta untuk berjihad dengan bom bunuh diri,” tutur Anggota MTT PPM (2015-2022) itu.

Lebih lanjut, mantan Direktur Pusat Studi Wanita UIN Yogyakarta itu menjelaskan penyebab keterlibatan perempuan kelompok kekersan ekstrem. Pertama disebabkan oleh kekuatan sosial media yang menekankan aspek perasaan daripada rasional sangat mempengaruhi yang melihatnya. Kemudian dalih persaudaraan dan muslim terdholimi digunakan untuk menarasikan pengaruhnya (ukhuwah Islamiyah).

“Terus kenapa penyebab kenaikan keterlibatan perempuan yaitu menurunnya jumlah kombatan laki-laki. Kemudian adanya war strategy yang memanfaatkan gender stereotypes- pasif dan tidak mungkin melakukan kekerasan,” imbuh Anggota CisForm itu.

Sedangkan peran perempuan dalam kelompok kekerasan berbeda-beda. Ada yang hanya menjadi korban. Ada juga yang merupakan bagian dari kelompok bersenjata seperti yang terjadi terhadap istri Santoso yang ikut andil mengangkat senjata di kelompok MIT. Ada juga yang menjadi sistem pendukung.

“Selain itu ada juga yang jadi recruiters, fund raiser, perpetrators of attacks, bombers,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut Alima, ada juga perempuan yang terlibat aktif dalam pencegahan kekerasan ekstrem dengan menjadi tulang punggung keluarga dan komunitas, agen perdamaian dan pembela hak-hak perempuan.

BACA JUGA: Forum Interaktif Virtual “Perdamaian di Tangan Perempuan”

Lebih lanjut, Alima mendorong ke depannya agar perempuan juga terlibat aktif dalam upaya perdamaian. Pasalnya, ibu atau perempuan dianggap memegang peranan kunci dalam penjaga damai keluarga. Selain itu, perempuan juga memiliki rasa moral kuat akan hal yang benar dan salah.  Perempuan, lanjut Alima, juga memiliki hasrat untuk membantu orang lain, melalui pendidikan atau dengan bekerja guna memperbaiki kondisi negeri ini.

BACA JUGA: Ancaman Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Terorisme di Indonesia

“Perempuan juga memiliki keberanian bertindak melawan kebiasaan sosial yang tidak seharusnya, karena mereka merasakan langsung. Akibatnya memiliki keinginan yang kuat untuk melindungi keluarga dan orang-orang yang disayangi dengan penuh damai,” pungkas Founder Akademi Feminis Muslim itu. (*)

Komentar

Tulis Komentar