Segera Hadir Aplikasi RUMI, Ruang Kreativitas Pekerja Migran di Singapura

By

Sebuah platform digital berbentuk aplikasi bernama RUMI (Ruang Migran) segara hadir pertama kali di Singapura. Proses launching akan dilaksanakan secara offline dan online di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Singapura, pada Minggu, 27 Maret 2022.

RUMI diharapkan menjadi ruang kreatif dan media komunitas pekerja migran di luar negeri. Aplikasi berbasis website dan tersedia versi smartphone yang bisa didownload di Google Playstore ini juga membuka akses segala informasi mengenai seluk-beluk pekerja migran—termasuk platform pengaduan online.

“Pesertanya merupakan teman-teman pekerja migran di Singapura sejumlah 35 yang telah mendaftar untuk mengikuti acara tersebut secara offline, selebihnya online,” terang Ani Ema, mantan pekerja migran yang didapuk memimpin RUMI, Sabtu (26/3/2022).

Ani menjelaskan, selain sebagai silaturrahmi jumpa darat, peluncuran aplikasi RUMI juga sekaligus diisi dengan kegiatan menonton film, diskusi dan pelatihan inovasi kreativitas terhadap pekerja migran Indonesia (PMI) di Singapura.

“Kegiatan dilakukan secara hybrid, online dan offline. Termasuk kegiatan ke depan,” katanya.

Menurutnya, inovasi ini penting agar pekerja migran di luar negeri, khususnya di Singapura terinspirasi untuk melakukan terobosan positif. “Tentunya diharapkan akan memberikan dampak besar bagi kehidupan mereka ke depan,” ujar perempuan yang juga berprofesi sebagai sutradara film ini.

Impact Director

Ani optimistis, melalui RUMI ini akan mencetak lebih banyak ‘impact director’ dengan membuat konten-konten positif dan ber-impact ke banyak orang. Misalnya melalui cerita-cerita yang menghangatkan jiwa dan menginspirasi.

“Melalui RUMI, kami ingin mencetak pencerita atau storyteller yang mampu menceritakan hal sederhana yang sarat makna kemanusiaan. Oleh karena itu tagline RUMI ‘Heartwarming stories inspire’,” bebernya.

Ani sendiri selaku “credible voice” atau mantan pekerja migran, mengungkapkan betapa pentingnya mengasah dan menggali potensi diri.

Misalnya, saya menggunakan keterampilan reflektif saya sebagai mantan pekerja migran untuk membuat film dokumenter berjudul Helper Hong Kong Ngampus,”

Film tersebut mengupas perjuangan pekerja migran untuk melanjutkan belajar formal ke jenjang pendidikan tinggi. “Film ini adalah cerminan dari perjuangan pribadi saya. Setelah menonton film saya, banyak rekan saya para pekerja migran di Hong Kong melanjutkan pendidikan sambil bekerja di luar negeri. Sehingga ketika mereka kembali ke rumah, mereka dapat memiliki gelar sarjana,” ungkap dia.

Saya tidak akan ragu menyebut diri saya sebagai perempuan yang selalu ingin mendobrak “langit-langit kaca—glass ceiling” dalam hidup saya,”

Lebih lanjut, kata Ani, produk film tersebut hanya salah satu contoh usaha untuk bernegosiasi dengan kehidupan yang dia alami.  “Saya tidak akan ragu menyebut diri saya sebagai perempuan yang selalu ingin mendobrak “langit-langit kaca—glass ceiling” dalam hidup saya,” ujarnya.

BACA JUGA: Cerita Maizidah (1): Jejak ‘Merah’ Agensi Tenaga Kerja Indonesia

Rumi didirikan oleh seorang akademisi dan peneliti, Dr. Noor Huda Ismail yang tinggal di Singapura. “Proses kelas-kelas kreatif akan dibuka secara gratis bagi pekerja migran Indonesia. Di antaranya akan membekali mereka agar terlatih di bidang media audio visual, sehingga para PMI ini akan menjadi kontributor aktif. Diharapkan, RUMI menjadi ‘rumah’ bagi semua pekerja migran Indonesia,” katanya. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like