Taliban

Sketsa Kunci Penjara

By

Gerbang pertama blok mendadak dibuka saat seorang pria yang bertindak sebagai imam salat di kamar A7 mengucap salam. Aku dan para makmum yang mendengar gemerincing kunci, menengok ke arah pintu yang dibuka. Tampak beberapa orang bertubuh kekar masuk dengan menggiring seorang pria berperawakan kurus masuk ke dalam.

Pria kurus itu memakai sebuah baju berwarna jingga dengan borgol melingkar di tangan dan kakinya. Langkah mereka berhenti di hadapanku. Seorang pria kekar berkata pada lelaki kurus tadi, “Siniin tangan Lu,” Lelaki kurus di depannya itu pun mengasongkan tangannya.

Dengan sigap pria kekar itu mengambil kunci borgol dan dalam hitungan detik, borgol yang tadinya melingkar di pergelangan tangan dan kaki lelaki kurus itu sudah terbuka.

Sejurus kemudian pintu sel A1 pun dibuka dan enam pria yang berada di dalam berdiri tegak. Pria kekar tadi kembali berbicara pada kurus, “Kamar Lu sekarang di sini. Udah masuk sana, baik-baik di dalam, jangan ribut, kenalan sama teman-teman baru Lu,”

Lelaki kurus itu pun menuruti perintah pria kekar tadi dan melangkah memasuki sel. Dan tak lama pintul sel pun kembali ditutup. Pria kekar tadi memanggil seorang pria penghuni kamar A1 lainnya yang lebih senior.

“Hei Gun, torang jaga baik-baik yo itu torang punya teman baru,”

Dengan batang kayu siwak yang masih tergigit di sudut giginya, lelaki yang dipanggil Gun itu pun menimpali dengan santai, “Tenang saja Jo,”

Gun adalah seorang penghuni senior di kamar ini. Sudah lebih dari setahun dia disini dan belum ada kabar kapan dia akan dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan (lapas).

Gun berasal dari Poso, sebuah Kabupaten di Sulawesi Tengah. Gun terlibat dalam konflik horizontal yang terjadi di Poso dan kurir bagi kelompok teroris MIT pimpinan Santoso.

“Antum punya nama siapa, Jo?” Tanya Gun pada lelaki kurus yang jadi penghuni baru kamar A1. Pria kurus itu pun menghampiri Gun dan mengulurkan tangannya. “Munir,” kata lelaki kurus itu.

Gun menyambut uluran tangan Munir dan memeluknya, kemudian disusul dengan penghuni lainnya. Kamar A1 kini dihuni oleh tujuh orang. Gun dan Deko dua pria Sulawesi. Yanto dan Yus asli Solo. Rudi asal Ngalam alias Malang. Ada juga Ujel pria Bekasi yang ‘salah mendaki gunung’. Dan si penghuni baru, Munir.

Aku melihat mereka duduk melingkar. Rudi menyajikan air bening di dalam gelas plastik ke hadapan Munir.

“Antum minum dulu, Khi,” Ujar Rudi.

Munir pun menerima gelas tersebut dan meminumnya setelah mengucap terima kasih.

Deko yang duduk di balik pintu turut bersuara, “Antum kena kasus apa?,”

Munir yang baru pertama masuk bui dengan polosnya menceritakan detail kasus yang menjeratnya. Dari saat dia ditangkap di jalan saat mengendarai motor, hingga proses interogasi. Yanto yang mendengar cerita Munir tertawa.

“Di sini berarti yang punya kasus betulan itu cuma antum,” kata Yanto.

“Yang lain itu semua korban salah tangkap,” tambahnya.

Penghuni lain mulai senyum-senyum sementara Munir keheranan. Ia pun bertanya, “Maksudnya bagaimana?”

Yanto pun menjelaskan, “Nih, aku ditangkap cuma gara-gara membelikan motor. Ujel ditangkap cuma karena dia naik gunung. Yus ditangkap gara-gara nyolder dan itu Deko dia ditangkap cuma karena pegang tangan Polisi. Salah tangkap, kan?”

Munir terlihat makin kebingungan padahal di lain pihak teman sekamarnya makin tertawa. Munir terlihat seperti mulai berpikir keras untuk mencerna maksud penjelasan Yanto.

Gun yang tak kuat menahan tawa bangkit dan mengambil kertas berlogo kejaksaan untuk kipasan. “Ulea… Anak baru kau bercandakan,”

Ujel yang berperawakan paling kecil turut buka suara. Pria asli Sunda ini menimpali, “Atuh mereun Mas Yanto ditangkap, belikan motornya buat ngblebom. Atuh mereun Yus ditangkap, yang disolder detonator bom. Atuh mereun Deko ditangkap, Polisinya dipegang tangannya kepalanya dipenggal,”

“Atuh meren Ujel ditangkap naik gunung. Yang dinaikin Gunung Biru gabung Santoso,” kata Rudi menyela Ujel dengan bahasa Sunda tapi bercengkok Jawa Timur.

Seisi ruangan pun tertawa.

***

Aku memang belum selama Gun di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua ini. Beberapa bulan yang lalu Kepala Tahti (Tahanan dan Barang Bukti) membawaku ke sini untuk menggantikan temanku.

Setiap hari aku bisa menyaksikan apa saja yang terjadi di blok A Rutan ini. Dari mereka tidur, makan, mengaji, berolahraga ringan hingga sebagian penghuni rutan yang sedang merokok di pojokan.

Tentunya aku kecualikan 2 kamar yang di huni oleh penghuni perempuan yang kamarnya lebih tertutup.

“Mas Munir!,” Teriak seorang pria dari kamar A7 yang berada di seberang koridor. Ternyata Arih yang memanggil. Pria Klaten yang ditangkap karena dorongan cita-citanya yang pingin jadi ‘dokter’ memanggil Munir yang sedang duduk melamun di kamarnya.

Munir pun bangkit dan berdiri menghampiri jeruji. “Ada apa, Mas?,” tanyanya.

Arih yang juga berada di balik jeruji di seberang menimpali, “Antum punya pakaian berapa?”

“Cuma sepasang yang dipakai aja, Mas,” jawab Munir.

Arih pun kembali membalas, “Aku ada pakaian lebih, ini buat antum,” kata Arih sambil melemparkan buntalan pakaian yang diberi pemberat gelas plastik.

Tak disangka, apa yang dilakukan Arih disaksikan juga oleh penghuni kamar-kamar lain dan mereka turut melakukan hal yang serupa. Akhirnya dalam sehari Munir memiliki lebih dari 5 setel pakaian. Meskipun bekas, tapi layak pakai. Dan yang penting, punya baju salin.

Seorang penghuni rutan yang sedang bertugas piket blok datang membawa beberapa bungkus nasi jatah makan malam. Dia pun menaruh 7 bungkus nasi di sela-sela jeruji kamar.

Seisi kamar bangkit mengambil jatah makannya masing-masing. Munir yang masih segan terlihat canggung. Gun pun datang menghampirinya, “Ambil jatah makanmu, Jo,”

Munir pun mengangguk, “Iya, Bang,” katanya sambil bangun mengambil nasi bungkus yang tinggal satu.

Perlahan dia membuka nasi bungkus itu lalu terdiam. Dia bingung melihat menu makanan di hadapannya. Sepotong ikan bandeng bagian kepala berukuran sekitar 5-7cm dan sayur tauge. Munir memang bukan orang kaya dan tidak berasal dari keluarga berada. Tapi dia belum pernah makan dengan menu seminimalis ini. Dia hanya bisa terdiam.

Yus, yang sejak kedatangan Munir di kamar lebih banyak diam, diam-diam memperhatikannya.

“Nggak usah banyak dipikirin, Nir. Antum makan aja apa adanya,” kata Yus.

Munir tersenyum agak kecut, “Aku nggak nafsu, Yus,”

Yus pun tertawa, “Penyakit awal orang yang baru masuk penjara salah satunya itu. Nafsu makannya hilang dan nanti malam nggak bisa tidur. Matanya pingin merem tapi isi kepala muter terus. Kaya jarum di meteran air,”

Yus pun minum sejenak, “Udah antum paksain makan aja. Di penjara itu nggak enak. Apalagi kalau sakit di penjara. Nggak enaknya dobel,”

Akhirnya Munir pun menuruti saran Yus untuk makan. Sambil minum banyak-banyak agar makanannya cepat tertelan.

Tepat jam 10 malam lampu lorong koridor dan lampu kamar pun dimatikan. Aku melihat Munir tidur samping kiri Yus yang terbaring di sudut. Karena belum dapat alas tidur, Munir pun sementara tidur beralaskan kardus.

Hingga waktu lewat tengah malam, aku masih melihat tubuh Munir yang bergerak mengganti-ganti gaya tidurnya. Sepertinya apa yang Yus bilang benar. Munir susah tidur.

Tak lama, apa yang aku pikirkan tadi ternyata dirasakan juga oleh Yus. “Nggak bisa tidur, Nir?,” tanya Yus.

Munir pun menjawab singkat, “Iya,”

“Begitulah rasanya awal masuk penjara. Jangan dibawa berat, bawa fokus istighfar aja insya Allah nanti bisa tidur,”

Itulah hari pertamaku mengenal sosok Munir. Seharian itu aku sangat ingin membantunya seperti orang lain. Namun, sayang aku tak bisa berbuat apapun. Bahkan saat dia melewati haru-biru, sedih-marah, duka dan luka, aku tetap tak bisa berbuat apapun untuknya. Hingga waktu pun memaksa kami untuk berpisah saat Munir di pagi buta dipindah ke lapas yang aku tak tahu di mana.

Itulah hari terakhir aku melihat Munir dan benar-benar menjadi hari terakhir. Hari-hariku berakhir dengan tragis. Tak lama setelah kepergiannya, aku pun menjadi salah satu korban kerusuhan yang terjadi di rutan ini. Aku tak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan diri ataupun melawan saat mereka memukulku berkali-kali. Karena apalah aku, hanya sebuah gembok pintu penjara.

(based on true story)

1 Comment
  1. Fikriyati Ihsani 5 months ago
    Reply

    Sehat selalu mas Munir! Antum luar biasa!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like