Fenomena Fundraising Jalanan

By

Dalam perjalanan terakhir dari Tuban ke Jakarta kemarin, di beberapa perempatan jalan besar dengan traffict light yang memiliki waktu jeda cukup panjang, ada sebuah pemandangan yang mengusik pikiran saya. Yaitu banyaknya para pelaku “fundraising jalanan” alias penggalangan dana jalanan yang cukup beragam. Saya jadi berimajinasi liar. Mungkinkah suatu saat nanti ada kelompok teroris yang melakukan fundraising dengan modus-modus fundraising jalanan ini?

Para pelaku fundraising jalanan itu memanfaatkan jeda waktu menunggu dari lampu merah ke hijau sebagai kesempatan untuk mengumpulkan uang. Jeda waktu yang seringkali membuat para pengguna jalan bete itu benar-benar dimanfaatkan. Mereka menampilkan aneka kreativitas yang terkadang memang cukup bisa memberi sedikit hiburan di tengah perjalanan.

Misalnya saja: di sebuah traffict light ada sekelompok pemain angklung yang bermain di pinggir jalan lalu ada yang menyodorkan kantong plastik atau kaleng atau kardus kepada para pengguna jalan yang sedang menunggu lampu hijau menyala. Di traffict light yang lain ada manusia silver, ada pengemis yang mengeksploitasi kekurangan fisik, dan ada pula mahasiswa memakai jas almameter yang menyodorkan kardus bertuliskan “Bantuan untuk korban erupsi Semeru”.

Tidak hanya di perempatan dengan traffict light, di di tempat-tempat keramaian juga ada fundraising jalanan model lain, yaitu ondel-ondel keliling, pengamen yang beraneka genre musik dan pemain, dan yang sejenisnya. Bagi sebagian orang fenomena ini cukup mengganggu, namun pada akhirnya semua akan memaklumi bahwa fenomena itu lahir karena keterpaksaan.

Meskipun dianggap lahir karena keterpaksaan, tetapi ada yang menjadikan kegiatan fundraising jalanan itu sebagai profesi tetap. Bahkan konon untuk kasus fundraising jalanan yang dilakukan oleh para pengemis itu ada sindikatnya. Ada jaringan yang memang mengkoordinasikan untuk SDM dan lokasinya.

Adanya sindikat pengemis ini agaknya memang benar. Saya melihat sendiri salah satu bukti indikasinya. Di sebuah traffict light yang selalu kami lalui sepulang sidang kasus terorisme dulu, ada seorang bapak paruh baya yang –maaf– buta yang selalu digandeng oleh orang yang sehat untuk melakukan aksi mengemis. Orang yang menggandeng ini berganti-ganti, tetapi si pengemisnya sama. Bahkan kami pernah lihat bapak pengemis itu ada di lokasi yang lain.

Mungkinkah “Kelompok Teroris” Melakukan Fundraising Jalanan?

Jika fundraising jalanan ini dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai sebuah keterpaksaan, maka siapapun itu bisa mengalami kondisi terpaksa. Tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Termasuk kelompok yang disebut oleh aparat keamanan sebagai kelompok teroris. Mereka juga pasti akan mengalami kondisi di mana tidak ada pilihan lain yang lebih baik dalam pendanaan.

Sebuah organisasi atau sebuah gerakan tidak akan bisa berjalan tanpa adanya pendanaan. Ketika semua sumber pendanaan sebuah kelompok teroris telah terendus dan terungkap oleh aparat keamanan, sementara kebutuhan pendanaan adalah merupakan sebuah kemutlakan, pasti akan melahirkan kreativitas baru dalam pendanaan.

Bagi kelompok teroris yang tidak mau melakukan aksi kriminal untuk penggalangan dananya, cara-cara fundraising jalanan itu bukan tidak mungkin suatu saat akan digunakan. Tapi, meskipun begitu saya meyakini kemungkinan itu sangat kecil sekali. Karena bagi kelompok teroris, fundraising jalanan itu akan menurunkan kemuliaan jalan perjuangan yang mereka tempuh.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like