Internet

Sebab Radikalisasi di Internet Meningkat di Masa Pandemi

By

Tren aksi teror dalam dua tahun terakhir memang cenderung menurun. Tetapi tidak dengan penyebaran paham radikal di internet, terutama melalui media sosial. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar, dalam ”Pernyataan Pers Akhir Tahun BNPT”, Selasa (28/12/2021).

“Selama pandemi, tren terorisme cenderung mengecil. Namun, tetap ada ancaman melalui media digital. Radikalisasi itu menyasar anak muda karena telah menggunakan media digital, demikian pula propaganda terorisme menggunakan media digital”, kata Boy Rafli Amar yang dikutip dari artikel di laman Kompas.id berjudul “Radikalisasi Melalui Internet Semakin Menguat” (29/12/2021).

Mencermati fenomena ini, muncul pertanyaan: apa yang menyebabkan radikalisasi di internet semakin meningkat di masa pandemi? Sebelum membahas peningkatan radikalisasi di internet di masa pandemi, kita harus paham dulu sejarah radikalisasi di internet.

Sejarah Lahirnya Radikalisasi di Internet

Dikembangkannya dunia jihad online menjadi salah satu warisan penting kelompok Ustaz Mukhlas dan penerusnya di kelompok Noordin M Top dan beberapa kawannya terkait aksi pengeboman di JW Marriot-Ritz Carlton 2009. Di dunia online, mereka mulai aktif mengajarkan ‘ilmu terlarang’ di forum jihadi kepada orang-orang di dalam forum. Inilah cikal bakal radikalisasi online.

‘Ilmu terlarang’ itu meliputi ilmu-ilmu kemiliteran termasuk field engineering (mengolah bahan peledak) dan artikel-artikel yang menyemangati orang agar melazimi jalan jihad. Mereka yang bergerak di ranah online ini berpendapat bahwa melanjutkan era jihad yang telah dimulai itu adalah dengan mulai mengajarkan ilmu seputar jihad kepada ummat.

Melalui forum jihadi, menyebarlah artikel tentang pemikiran para tokoh jihad internasional, berita-berita jihad dari seluruh dunia, pidato-pidato dan ceramah para tokoh jihad internasional, ditambah dengan materi-materi pembuatan bahan peledak dan manual penggunaan senjata, membuat orang-orang yang terinspirasi dengan gerakan jihad global Al Qaeda menjadi semakin matang dan tertantang.

Tetapi hal yang paling berpengaruh dalam perkembangan radikalisasi online maupun pergeseran pola gerakan radikal di Indonesia adalah tatkala semakin banyaknya beredar tulisan terjemahan Aman Abdurrahman tentang tauhid yang cenderung jauh lebih ekstrim dari yang sebelumnya dipahami oleh para kader dan simpatisan JI.

Besarnya dorongan keinginan sekelompok orang untuk melakukan jihad di Indonesia membuat mereka kemudian mencari-cari cara untuk bisa berjihad agar bisa berpartisipasi dalam jihad global. Untuk melakukan hal itu mereka ini membutuhkan tiga hal, yaitu : personel, dana, dan target yang mudah diserang.

Di sinilah peran artikel-artikel dan rekaman ceramah-ceramah Aman Abdurrahman menjadi sangat berpengaruh untuk dijadikan rujukan dalam merekrut anggota baru baik untuk dimintai bantuan berupa dana maupun tenaga, dan sebagai acuan untuk menentukan musuh yang boleh diserang. Mengapa bisa sangat berpengaruh ?

Karena Aman Abdurrahman ketika menjelaskan tentang tauhid, lebih banyak membahas tentang bagaimana mengingkari thaghut daripada membahas bagaimana agar tetap bisa mempertahankan iman pada kondisi yang serba tidak ideal di zaman ini atau membahas masalah akhlak, adab, dsb.

Akibatnya muncullah pemahaman bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seseorang adalah ketika ia bisa mengingkari thaghut secara sempurna, yang mana kesempurnaan tauhid adalah dengan memerangi para musuh tauhid (thaghut). Ini menjadi virus berbahaya karena kemudian dalam memerangi thaghut itu mereka tidak peduli dengan nasib kaum muslimin secara umum. Yang penting mereka bisa memerangi thaghut.

Lalu pada tahun 2014 pasca deklarasi ‘khilafah palsu’ ISIS yang memukau banyak ‘pencari kebenaran’ di ranah online, orang-orang yang memiliki pemahaman seperti yang disampaikan oleh Aman Abdurrahman itu mendapat tempat bernaung, yaitu ‘khilafah palsu’ ISIS.

Hal ini dikarenakan dalam semua rilis pernyataan resmi para pemimpin ISIS, isinya sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Aman Abdurrahman sebelumnya. Maka mereka pun –termasuk Aman Abdurrahman– berbondong-bondong untuk berbaiat kepada pemimpin ISIS saat itu, Abu Bakar Al Baghdadi.

Menyebarkan Paham Radikal Adalah Pembuktian Iman dan Loyalitas

Mengapa ada orang yang berani menyerang pos polisi hanya dengan ketapel atau dengan pisau beberapa waktu yang lalu? Jawabannya: dia ingin membuktikan tingkatan imannya. Tak peduli gagal atau dia dipenjara, yang penting beraksi.

Pada level di bawahnya ‘pembuktian iman’ ini bisa dilakukan dengan membantu dengan harta untuk mendukung amaliyah yang mereka rancang. Atau menyantuni keluarga orang-orang yang dipenjara karena mencoba memerangi thaghut.

Dan ada tingatan yang paling rendah yaitu jika tidak bisa membantu ‘perjuangan’ mereka dengan harta, maka setidaknya membantu dengan menyebarkan propaganda dan pemikiran mereka di media sosial, dengan harapan ada anggota-anggota baru yang mendukung kelompok mereka. Pada tingkatan yang paling rendah inilah radikalisasi online terjadi dan akan terus ada selama masih ada orang-orang yang memiliki pemikiran seperti itu.

Melakukan take down terhadap akun atau grup media sosial atau sebuah website yang menyebarkan paham radikal-ekstrem tidak akan berpengaruh banyak. Karena mereka bisa membuat akun atau grup media sosial dan website baru dalam hitungan menit. Bagi mereka menyebarkan propaganda dan pemikiran kelompok mereka adalah sebuah ‘pembuktian iman’ yang paling minimal.

Meningkat di Masa Pandemi

Di masa pandemi yang sampai hari ini belum berakhir, kondisi ekonomi masyarakat kita cukup terganggu. Menurunnya daya beli masyarakat, meningkatnya angka pengangguran, merupakan salah satu bukti dampak nyata dari pandemi yang belum usai ini.

Di kalangan pendukung kelompok radikal-ekstrem berpaham takfiri dan berafiliasi ke ISIS, kondisi ekonomi yang terganggu karena pandemi ini juga mempengaruhi gencarnya penyebaran paham mereka di internet. Orang yang tadinya masih bisa ‘membuktikan iman’-nya dengan menyumbangkan hartanya untuk ‘perjuangan’ mereka, banyak yang kemudian tidak mampu melakukannya. Maka yang terjadi kemudian adalah, semakin bertambahnya orang-orang yang hanya bisa ‘membuktikan iman’-nya dengan menyebarkan paham mereka.

Inilah kiranya yang menurut saya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mengapa radikalisasi di internet semakin meningkat di masa pandemi. Di samping tentunya ada banyak faktor-faktor lainnya.

Lalu bagaimana solusi menghadapi maraknya radikalisasi di internet ini? Kita akan bahas di kesempatan yang lain. Wallahu A’lam Bish Shawwab dan semoga bermanfaat.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like